CHAPTER 5

25.7K 732 17
                                        

Zidan duduk disamping Aletta dengan satu tangan berisi satu botol mineral dingin, Zidan menempelkan botol itu kepipi Aletta, tepat dimana tadi ia tampar pipi mulus itu. Aletta meringis kecil begitu merasakan sensi dingin itu bersentuhan dengan pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan Zidan.

"Maaf, tadi sempet lepas kontrol" lirih Zidan saat mendapati Aletta meringis kesakitan. "Hm, it's okay" balas Aletta dengan anggukan kepala kecil

"Gue sama sekali gak keberatan kalau lo tolak perjodohan itu" ucap Zidan mulai membahas masalah yang tadi. Aletta terkejut mendengar ucapan Zidan, bukankah tadi Zidan berada dipihak kedua orang tuanya yang memintanya untuk menerima perjodohan itu, lantas kenapa tiba-tiba Zidan berubah fikiran?

"Kenapa? Bukannya tadi elo dipihak mama sama papa? Kenapa tiba-tiba berubah?" tanya Aletta dengan pandangan lurus kedepan, ia seolah tak tertarik untuk menoleh kearah Zidan yang masih setia menatapnya dengan tatapan yang mulai kosong.

"Dan ikut gue ke America, gue gak akan bilang 'sayang sekolah lo' karna itu gak penting. Lo bisa dapet pendidikan baru dan mungkin jauh lebih baik disana, toh sekolah sekarang juga gak terlalu serius" lanjut Zidan, mengabaikan pertanyaan Aletta

"Kenapa?" tanya Aletta

Zidan menarik tangannya dari pipi Aletta, ia menunduk lemah. Membuat Aletta yang awalnya tidak tertarik untuk menoleh kearah Zidan langsung berubah fikiran, "kenapa? Gue salah ngomong kah?" tanya Aletta terlihat panik.

Zidan menggeleng pelan, "gue sayang, Tha sama lo" lirih Zidan, mendengar Zidan yang melontarkan kata itu, Aletta langsung terkekeh pelan. Perasaan khawatirnya langsung menguap, hilang. "Tapi gue enggak" balas Aletta meledek, Aletta menggeleng pelan dan menyenderkan tubuhnya ke punggung kursi taman yang saat ini tengah ia duduki.

"Gue serius" ucap Zidan mendongakkan kepalanya keatas, menatap kedua manik mata Aletta untuk membuktikan bahwa kali ini ia serius, namun walaupun wajah Zidan sudah terlihat sangat serius, namun Aletta tetap menganggap itu candaan dan omong kosong belaka, "gue juga" balas Aletta dengan wajah tengil, menegaskan bahwa ia juga serius 'tidak' menyayangi Zidan.

Zidan menatap mata Aletta dalam-dalam, berusaha kembali meyakinkan Aletta dengan tatapannya. Namun Aletta malah menaikkan sebelah alisnya meledek, Zidan menghela nafas panjang, dan sepersekian detik kemudian kesabaranya mulai habis.

Ia dengan kasar menarik wajah Aletta dan mencium bibir Aletta, tak hanya sebuah ciuman yang ia berikan pada bibir mungil itu, namun sedikit lumatan juga.

Aletta yang terkejut langsung mendorong tubuh Zidan menjauh darinya, ia mengusap bibirnya kasar dan marah, "lo apa-apaan sih? Lo gila, hah!" sentak Aletta marah, "gue udah bilang kalau gue serius dan lo gak percaya, gue udah natap mata lo buat buktin kalau gue serius tapi lo malah ngeledek, terus pakai apalagi buat bikin lo percaya sama gue selain ciuman?-"

"Tapi gak nyium bibir gue juga, njing. Itu frist kiss gue bangsat" umpat Aletta kesal, "ah sial, frist kiss yang selama ini ku jaga malah direnggut oleh Zidan" umpat Aletta dalam hati.

"Ya bagus dong, jadi itu artinya gue adalah orang pertama yang nyium bibir lo-"

"Bagus pala bapak lo sepuluh, itu namanya bajingan setan" umpat Aletta tak santai

Zidan menghela nafas kasar, "stop ngomong kasar terus, gue gak suka dengernya-" ucapan Zidan kembali disela oleh Aletta, "gue gak peduli" sela Aletta menantang.

"Aletta!" sentak Zidan mulai kehilangan kesabaran, kesabaran Zidan sangatlah tipis jika berhadapan dengan Aletta. "Apa? Mau marah? Sini marah!-- harusnya tuh gue yang marah, bukan elo" balas Aletta tak takut dengan sentakan Zidan.

HE IS MY HUSBAND 18+ (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang