ALETTA POV :
Hari ini aku sengaja untuk berangkat lebih pagi dari biasanya, mengingat bahwa semalam sempat berbeda pendapat dengan Al, dan aku tak ingin menghadapi suasana canggung dengannya.
Oleh karna itulah kuputuskan untuk berangkat lebih dulu, namun tak lupa, aku tetap menyiapkan sarapan untuknya. Berharap dengan itu ia bisa memaafkanku, dan melupakan masalah semalam.
Setibanya aku disekolah, aku langsung bertemu dengan Felix, dia berlari menghampiriku dan alhasil kamipun berjalan bersama menuju kelas.
Didalam kelas sudah ada Andra dan Gina, mataku sempat bertemu dengan Gina, dan dengan anehnya tiba-tiba Gina memalingkan mukanya kearah lain.
Akhir-akhir ini Gina bersikap aneh padaku, ia seolah menunjukkam ketidak sukaanya terhadapku, padahal jika ditanya siapa yang harus marah.
Maka jawabannya pastilah aku, ia yang telah genit pada suamiku, tapi ia juga yang marah padaku. Dasar perempuan aneh.
Felix yang tau bahwa Gina sinis padaku langsung berbisik lirih, "kamu ada masalah, beb. Sama Gina?" tanya Felix, "enggak, gimana mau ada masalah kalau ngobrol aja gak pernah" balasku.
"Tapi dari kemarin dia sinis terus sama kamu" ucap Felix, ternyata diam-diam Felix memperhatikannya, dan benar bahwa Gina memang sinis padaku.
"Gak tau, aneh. Orang nggak ngapa-ngapain disinis in, gak peduli juga sih. Orang nggak penting juga" balasku malas.
Saat aku hendak duduk, tiba-tiba Andra memanggilku, "Tha, Caca nggak masuk" ucap Andra, aku terkejut begitu mendengarnya.
Mengingat bahwa semalam Caca tak mengirimiku pesan prihal ini, karna biasanya Caca akan bilang dulu padaku jika ingin membolos, "lah? Srius?" tanyaku.
"Iya, sakit katanya" balas Andra. "Oh oke" balasku lalu segera duduk ke tempat dudukku.
Bukannya duduk ke tempat duduknya sendiri, Felix malah duduk disampingku, aku yang bingung pun langsung membuka suara, "kok disini? Lo nggak duduk disana?" tanyaku sembari melirik tempat belakang Andra, Felix selalu duduk disana bersama Al.
Namun tiba-tiba hari ini ia malah duduk di sampingku. "Cacakan nggak masuk, bolehkan aku duduk disini?" tanya Felix, "tapi kan lo harus duduk sama Al, Fel" ucapku ingin menolaknya dengan halus.
Semalam saja sudah bertengkar karna tak ingin berangkat bersama, masa sudah harus bertengkar lagi karna duduk sebangku dengan Felix.
"Gak pa-pa, Al gak akan peduli juga" balas Felix, "tapi kan-" belum selesai aku berbicara, Felix sudah lebih dulu menyelanya. "Sekali-kali doang" selanya.
Aku menghela nafas panjang dan mengangguk, tak bisa juga jika harus kembali melarangnya. Takutnya nanti ia malah berfikir yang tidak-tidak.
Felix yang melihatku menganggukkan kepala langsung tersenyum sumringah, "yey!" soraknya senang.
Aku dan Felix berbincang banyak, Felix menceritakan bahwa kemarin ia telah melakukan apa yang kuminta dengan berjalan bersama Caca, dan ia pun sengaja tak memberitau Caca bahwa kemarin adalah karna permintaanku.
Tanpa kusadari ternyata Felix ini memang tak ingin dan tak berniat untuk menyakiti Caca, bahkan untuk jalan kemarin saja ia dengan sengaja tak memberi tau Caca agar tak menyakiti Caca.
Karna jika saja Felix memberi tau Caca bahwa kemarin adalah karna kusuruh. Mungkin Caca akan sakit hati, namun untungnya Felix tak melakukan itu.
"Aku mau ngomong sesuatu ke kamu, tapi kamu janji jangan marah sama aku ya" ucap Felix, "apa?" tanyaku, "janji dulu" rengeknya, "gimana gue bisa janji kalau gue aja gak tau lo mau ngomong apa" ucapku, "tapi setidaknya janji dulu nggak akan maki-maki aku" balasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HE IS MY HUSBAND 18+ (END)
Teen FictionCerita kali ini mengkisahkan tentang Alvaro dan Aletta, sekelas selama tiga tahun tak berarti menumbuhkan interaksi serta kedekatan diantara keduanya. Hingga akhirnya sebuah kejadian yang sangat mendadak, membuat hubungan keduanya berubah.
