CHAPTER 42

12.1K 396 26
                                        

Al diam membeku ditempatnya, berusaha mencerna apa yang telah Aletta lakukan padanya.

Dan tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah lengkungan lebar yang menggambarkan sebuah kebahagian, dan jangan lupakan warna pink (blushing) di kedua pipinya.

Aletta tersenyum jail, merasa puas karna dapat membuat Al menjadi salah tingkah sebab ulahnya. "Wkwk, balesan buat yang kemarin" ucap Aletta dalam hati

"Berangkat duluan gih, nanti gue nyusul" ucap Aletta, tepat setelah kalimat itu berakhir, kesadaran Alvaro langsung kembali, "lah kenapa?" protes Alvaro, senyum yang tadinya menghiasi wajahnya langsung memudar.

"Nurut aja kenapa sih" omel Aletta.

"Gak mau lah, kan tadi berangkat bareng. Masa-"

"Al!" sela Aletta memasang wajah marah. "Tapi, Tha--" Al menggantungkan ucapanya dan melemas. "Please lah, jangan bikin emosi" ucap Aletta mulai kesal.

"Tapi nanti pulang bareng ya" ucap Al meminta nanti untuk pulang bersama, "tapi nunggu semua bubar dulu, mau?" tanya Aletta masih ingin mengambil cara aman.

"Emang kenapa sih kalau rame? Takut ketahuan?" kesal Al.

"Iyalah, pake nanya" sewot Aletta.

"Kenapa sih harus peduliin mereka, toh mereka nggak sepenting itu juga" kesal Al.

"Udahlah, Al. Jangan mulai masalah, masih pagi loh ini" tanda-tanda keemosian mulai nampak jelas, dan sepertinya ini sudah membuat Al takut dan memilih untuk jalan aman, yaitu mengalah.

Alvaro menghela nafas panjang, mengangguk lemah dan mensetujui permintaan Aletta untuk berangkat lebih dulu. Walaupun Al tak mau, namun jika Aletta memaksa maka ia akan patuh.

Aletta menghela nafas lega, kembali mendekat kearah Alvaro dan mengecup bibir suaminya singkat, setelah itu ia segera berlari, masuk kedalam indomaret itu.

Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tanpa sadar iapun ikut salah tingkah karna kecupan tadi. "Sialan, kenapa aku menjadi salting seperti ini?!" umpat Aletta dalam hati.

Aletta menarik nafas panjang, berusaha menormalkan kembali perasaanya dan setelah itu ia segera berjalan kearah lorong roti dan susu.

Selesai dengan dua benda itu, ia segera pergi ke kasir untuk membayar dan lanjut pergi kesekolah. Jarak indomaret ke sekolahnya tak terlalu jauh, namun cukup melelahkan.

Aletta tiba di sekolah, ia memasuk gerbang dengan tenang dan segera berjalan menuju kelasnya.

Baru saja ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas, ia sudah melihat Caca duduk berdua bersama Gina. Aletta merasa ada yang tak beres dengan Caca, semakin hari sikap Caca semakin aneh.

Aletta menghela nafas pasrah, ia berjalan kearah kursi paling belakang dan duduk sendirian disana.

Namun baru saja ia duduk, tiba-tiba Al menghampirinya dan duduk di sebelahnya sembari meletakan tasnya diatas meja.

Aletta yang melihat itu tentu saja terkejut dan takut dalam waktu yang bersamaan. Aletta memelototkan matanya dan memukul lengan Al, "ngapain lo disini? Sono cabut" usir Aletta dengan raut wajah panik.

"Apaansih, orang kosong juga" balas Al acuh, "bukan masalah kosong atau enggaknya bego-- lo mau sekelas tau tentang kita? Gak usah aneh-aneh deh, udah sono balik ketempat lo" omel Aletta dengan wajah kesal bercampur kahwatir.

"Gue mah santuy, kebongkar bodo amat, kagak kebongkar juga gak peduli" acuh Al lagi.

Aletta mengerang kesal, memukul lengan Al lalu bangkit dari tempat duduknya hendak pindah saja, namun si brengsek Al, tiba-tiba menarik pergelangan tangan Aletta kencang hingga membuat Al kembali terduduk lagi.

HE IS MY HUSBAND 18+ (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang