[사십육]

451 54 26
                                        

"Jaehyun Hyung! Selamat datang!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.















"Jaehyun Hyung! Selamat datang!"

Tidak ada tempat lain yang bisa Jaehyun pikirkan selain kafe Sicheng untuk berteduh sementara waktu. Setelah dengan berat hati dia angkat kaki dari rumahnya, Jaehyun rasa rame kafe Sicheng mampu membantu kepalanya mengalihkan pikiran untuk sesaat.

Nyatanya, tidak sesuai ekspektasinya—dimana tadinya Jaehyun kira dia bisa menyendiri di pojok ruangan, menonton pelanggan lalu lalang, melirik padatnya jalanan—kala dia tangkap Mark adalah orang pertama yang melambaikan tangan.

Bukan, bukan. Bukan Mark masalahnya, namun lelaki yang berdiri di samping Mark dan turut melambaikan tangan.

Lee Haechan.

Jaehyun menghela nafasnya, "Hai," balasnya singkat.

"Oh- kamu tidak terlihat baik-baik saja. Mau pesan apa?"

Jaehyun tersenyum tipis, berterima kasih kepada Mark yang paham betul suasana hatinya.

"Espresso. Double shot."

"Ok! Itu saja?"

"Dan— tolong tahan Haechan untuk tidak datang ke mejaku, aku sedang ingin sendirian."

Haechan di belakang Mark, hendak melepas celemek yang dia gunakan, namun berhenti di tengah jalan saat Jaehyun menuturkan pesanan. Dia berdecih kencang dan Jaehyun yakini seisi kafe bisa dengar.

"Siapa juga yang mau datang ke mejamu, huh?" desis Haechan tajam.

"Kamu bisa pakai kembali celemekmu. Ah, Mark, aku juga pesan cookies dua." Tutur Jaehyun sebagai balasan.

Haechan memutar matanya kesal dan Mark hanya menahan tawa melihat ekspresi kekasihnya, namun dia putuskan untuk tidak banyak bicara—karena jika dia pantik emosi Haechan sedikit saja, Mark yakin kegaduhan akan riuh mengisi kafe Sicheng.

Kebetulan, Sicheng sedang tidak ada di kafe malam ini, alasan lain mengapa Haechan yang kini berdiri di sisi Mark. Dengan wajah malas, Haechan beralih menuju kasir untuk memproses transaksi Jaehyun.

Gigi Haechan meloloskan gemertuk kasar, kala matanya tangkap Jaehyun tersenyum usil di hadapannya.

"Nanti, kita bicara nanti. Untuk saat ini, aku mau sendiri dulu."

"Iya iya, tahu," balas Haechan sinis, "Tapi ingat, kamu punya satu hutang ketemu denganku."

"Iya, Haechan. Aku pasti ingat."

Jaehyun pasti ingat, karena jauh sebelum Haechan mengutarakan bahwa lelaki itu ingin bicara dengannya, Jaehyun sudah memikirkan Haechan untuk jadi lawan bicaranya untuk membahas topik yang sejak tadi pagi otaknya putar.

Tapi, mari kita bahas itu nanti.

Jaehyun akan lebih dulu memilih tempat duduk yang paling cocok dengannya—area outdoor agar dadanya bisa lapang bernafas dan matanya bisa menyorot tanpa batas.

VERONA | JAEYONGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang