[이십일]

604 77 16
                                        

Kudapan makan malam benar-benar tersaji di hadapan Taeyong, lidahnya mampu mengecap tiap rasa dan perutnya mampu terisi penuh sampai kenyang, mematahkan pikirannya yang sejak tadi menganggap semuanya adalah hayalan belaka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.














Kudapan makan malam benar-benar tersaji di hadapan Taeyong, lidahnya mampu mengecap tiap rasa dan perutnya mampu terisi penuh sampai kenyang, mematahkan pikirannya yang sejak tadi menganggap semuanya adalah hayalan belaka.

"Apakah Yuta dan Doyoung memintamu kemari?" tentu atas alasan itu Jaehyun disini, tidak mungkin karena hal lain.

Jaehyun menganggukkan kepalanya, "Mereka belum bisa pulang."

"Mereka sudah dapat target baru untuk dijadikan penjagaku," desis Taeyong, bersandar pada sofa, menenggak kola yang dia ambil dari kulkas.

Jaehyun ikut duduk di samping Taeyong setelah mengeringkan piring terakhir bekas makan mereka, "Aku tidak akan menyanggupi kalau keberatan, jadi, tenang saja."

"Oh, aku yang merasa tidak enak," ucap Taeyong, "Mereka terus-terusan menganggapku anak umur lima tahun."

Jaehyun hanya melantunkan tawa, meski ingin rasanya dia jelaskan pada Taeyong situasi apa yang ada di depan mata mereka, namun dia tahu yang ada Taeyong akan bingung dan ketakutan, menganggapnya gila dan meninggalkannya.

Maka dia hanya duduk di samping Taeyong dengan segelas cola, sementara Taeyong memeluk cookies coklat di dadanya. Bibir Taeyong cemberut kesal, matanya menyorot layar tv dengan tajam.

"Lalu.. sampai kapan kamu disini?" tanya Taeyong.

"Sampai Yuta dan Doyoung kembali," jawab Jaehyun, "Kalau kamu tidak nyaman dengan keberadaanku, kamu bisa menganggapku tidak ada."

"Tidak- bukan," potong Taeyong, "Uh- bukan begitu maksudku."

Jaehyun menaikkan sebelah alisnya, "Lalu?" tanyanya, membuat Taeyong menoleh sesaat kearahnya, meski kemudian lelaki itu mengalihkan pandangannya lagi dan membalikkan sorotan matanya ke layar tv.

"Aku yang merasa tidak enak kalau harus membebani orang lain," Taeyong melipat tangannya di dada, "Tidak ada yang sebenarnya akan terjadi padaku namun mereka selalu memperlakukanku seakan ada pembunuh bayaran di belakangku."

Taeyong merasa semuanya berlebihan.

Yah. Terkutuklah kabut hitam yang menutup masa lalunya.

Kondisi yang harus dia terima, amnesia parsial yang dia jalani, mungkin tengah menghapus sesuatu yang paling krusial dalam hidupnya, yang mana hanya Yuta dan Doyoung yang tahu--dan tidak memberikan Taeyong secercah pengetahuan tentang hal itu.

Mungkin sebenarnya, Taeyong hanya tidak sadar dengan apa yang terjadi karena otaknya tidak bekerja sepenuhnya.

Namun, mengapa Yuta dan Doyoung menyembunyikannya? Bukannya menjelaskan segalanya perlahan kepada Taeyong?

Bukankah dia pantas tahu? Taeyong rasa, daripada dia dikurung di dalam rumah atau dibuntuti penjaga 24 jam non stop, ada baiknya dia paham bagaimana kondisinya dan apa yang seharusnya dia hindari, tahu apa yang sebenarnya tengah mengancamnya.

VERONA | JAEYONGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang