[BXB] [ROMANCE] [On Going]
[2 우리 다시 만나자 Series - Verona Blend]
And when a simple 'touch me' glued both of their body tightly, made them together for the rest of their life.
[Second Series of WILLOW]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak perlu dia singkap tirainya untuk tahu matahari sudah terbit di balik jendela. Dia belum sempat terlelap, posisinya masih duduk di atas kasur, menantikan tiap waktu yang bergulir, memerhatikan perubahan intensitas cahaya yang menelusup di antara hordennya; dari yang begitu gelap sampai seterang sekarang.
"Pagi~ Ayo sarapan."
Taeyong menoleh kearah pintu dan melirik Doyoung dengan nampan di tangan.
Oh- Taeyong tidak akan pernah tahu bahwa akan ada harinya dia cuti menjadi koki di dapur dan posisinya digantikan oleh lelaki yang kini tengah berjalan mendekatinya.
"Ck. Haruskah kamu yang bawakan aku sarapan?"
Doyoung meletakkan nampan yang dia bawa di atas meja, karena perlu dia pastikan Taeyong duduk dengan posisi yang tepat; dimana dia angkat tubuh Taeyong sedikit agar posisi Taeyong lebih tegak, memastikan Taeyong sudah cukup nyaman dengan sudut duduknya, barulah dia letakkan nampan di atas paha Taeyong.
"Tentu, kamu pasienku. Jadi, jangan bawel," desis Doyoung dan Taeyong hanya meringis mendengar omelannya.
"Kenapa tidak Renjun?"
"Tidak boleh mempekerjakan anak dibawah umur."
"Dia berabad-abad lebih tua dariku, Doyoung!"
"Ck, diam. Habiskan sarapanmu. Aku tungguin."
Taeyong langsung bungkam setelah dia putar matanya kesal pada Doyoung yang kini memutuskan duduk di sisi kasur Taeyong.
Melihat Taeyong dari sudut pandangnya, sesaat membuatnya beragam emosi membuncah di dalam dirinya. Dengan lekat Doyoung lihat, bagaimana Taeyong meringis menahan sakit tiap kali menggerakan tubuh, tiap kali luka lelaki itu bergesekkan dengan kepala kasur yang sudah Doyoung lapisi bantal empuk.
Taeyong terlihat menderita, selalu terlihat menderita. Jika sebelumnya mampu disembunyikan melalui senyum yang lelaki itu tidak pernah putus lakukan, kini tidak dapat ditutupi dan terlihat begitu jelas dengan bagaimana tubuh Taeyong bergerak.
Hal itu yang membuat Doyoung marah, tangannya mengepal kuat, merasa menyesal karena tidak bisa menghentikan Ten menjuruskan serangan.
Hasrat untuk memeluk Taeyong meningkat, ingin rasanya dia dekap lelaki itu dan meminta Taeyong meluapkan segala rasa yang lelaki bersurai merah muda itu pendam. Bohong jika Doyoung tidak menangkap mata bengkak Taeyong, bohong jika Doyoung tidak menyadarinya.