[BXB] [ROMANCE] [On Going]
[2 우리 다시 만나자 Series - Verona Blend]
And when a simple 'touch me' glued both of their body tightly, made them together for the rest of their life.
[Second Series of WILLOW]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Berhubung hari sudah pagi, alhasil Jeno memutuskan untuk kembali ke kamarnya setelah bermalam bersama Yuta untuk menyelesaikan beberapa masalah yang perlu mereka segera selesaikan.
Di samping Dark House yang bikin pening, ada masalah tentang kemaslahatan seluruh vampire yang tengah hidup di bawah ketakutan dan kehilangan kepercayaan untuk merasa aman karena terampasnya The Hall. Jeno diberikan tanggung jawab penuh untuk fokus pada internal klan, sementara Yuta akan mencoba mencari jalan untuk meraih The Hall secara utuh secepat yang mereka bisa.
"Ayo sarapan."
Baru saja Jeno hendak merebahkan diri di atas kasur, Jaemin membuka pintu kamarnya dan melesakkan kepala; menawarkan ajakan kepada Jeno.
"Aku mau tidur," tolak Jeno, "Nyusul gapapa, kan?"
"Mau aku bawakan kesini?"
"Gaperlu, nanti kamu bolak-balik."
"Ga masalah. Aku bawain, ya?"
Kalau kaya begitu, sebenarnya Jeno tidak punya opsi lain selain menuruti apa yang Jaemin bilang. Jaemin punya otoritas tersendiri terhadap dirinya yang mana Jeno kerap gagal untuk membantah dan sejauh pengalamannya hidup berabad-abad bersama Jaemin, pilihan yang tepat adalah menerima apa yang Jaemin coba berikan.
Jeno membuka kemejanya, kancing demi kancing. Tertampil tubuhnya yang terasah medan perang; enam petak otot perut, otot yang memperjelas belikatnya juga menonjol tatkala dia coba melepas kemeja hitam yang dia kenakan entah sejak kapan.
Perkiraannya, Jaemin butuh sepuluh menit untuk kembali membawakan sarapan mereka, jadi dia rasa cukup waktu untuk dia ganti baju dulu.
Nyatanya, baru sebelah lengan kemeja yang lepas, pintu kamarnya terbuka dan sontak Jeno menoleh kaget ke belakang, melihat siapa yang datang.
Tebakannya, Jaemin.
"Coba tebak—"
"AKU LAGI GANTI BAJU!"
Sosok yang hanya mematung di depan pintu kamarnya adalah Haechan, menganga di tempat dengan berbagai lembaran di lengannya.
"Yasudah, sana ganti baju," decak Haechan, "Kamu tidak perlu mengumumkan ke seluruh orang kalau lagi ganti baju."
"Aku meneriakimu karena kamu mengangguku."
"Lalu teriakanmu itu bisa membuatku kenapa? Terluka?" sinis Haechan, "Cepat ganti bajumu, aku perlu cerita tentang sesuatu." kata Haechan dan tanpa panjang lebar masuk ke kamar Jeno.
Jeno menggertakkan giginya kesal, kemejanya sudah lepas sempurna, namun alih-alih meraih kaos dan segera mengenakannya, dia menahan pintu kamarnya yang terbuka dan menghalang Haechan yang hendak mengambil langkah lebih jauh ke dalam kamarnya, "Bisakah kamu ceritakan padaku nanti? Aku perlu istirahat."