Rumah itu sudah Yuta tinggalkan sejak nyaris satu abad yang lalu dan tidak pernah dia bayangkan bahwa ada saatnya dia harus menapaki kaki lagi di bangunan tua itu.
Rumahnya itu tidak terlihat seperti kastil berhantu, bangunan kokoh itu bersih dibawah pantauan Jaemin, sehingga mereka--terutama Yuta dan Doyoung yang baru pulang dari liburan mereka--bisa istirahat dengan layak.
Ruang makan yang seingat Yuta cukup besar kini terlihat kerdil, saat dikelilingi oleh seisi klan putih yang telah begitu merindukan kehadirannya.
Jeno duduk di samping Yuta, di posisi yang sebelumnya selalu diisi Jaehyun. Tumpukkan kertas dia siapkan sebagai bentuk laporan, papan besar diletakkan untuk memudahkan Jeno memberikan gambaran.
"Dark House mengambil alih The Hall. Beberapa serum sudah di selamatkan, beberapa sisanya harus dihancurkan. Ten Hyung adalah dalang di balik pergerakkan ini, dibantu Taeil Hyung. Jisung, Chenle, Xiaojun Hyung, dan Haechan mengaku mereka tidak tahu tentang gerakan ini."
Ten.
Nama itu muncul ke permukaan setelah menghilang cukup lama. Ketiadaannya meresahkan, begitu juga dengan kehadiran yang secara mengejutkan terdengar.
"Apakah aku bisa mempercayai pengakuan mereka, Jeno?" tangan Yuta saling bertautan satu sama lain, menopang dagunya seraya menyorot nama-nama yang tadi Jeno sebutkan.
"Kami kehabisan serum untuk mengecek mereka jujur atau tidak, jadi.. kamu bisa memutuskan untuk percaya atau tidak, Hyung. Menurutku, mereka perlu diperhatikan gerak-geriknya dan dikeluarkan dari misi kali ini," tutur Jeno seraya menghela nafasnya berat, "Maaf," gumamnya.
"Tidak masalah, aku juga sedang tidak percaya dengan diriku sendiri," balas Haechan, "Aku memang jarang melihat Taeil Hyung belakangan ini, tapi- aku tidak tidak pernah menyangka kalau ini yang akan terjadi."
"Taeil Hyung sering menghabiskan waktu dengan Kun Hyung, setahuku," celetuk Chenle, "Bukankah begitu, Hyung?"
Sebagai orang yang kini menerima tiap sorotan mata dalam ruangan tersebut, Kun hanya menghela nafasnya, tahu dia tidak mampu berkelit dari apa yang Chenle pernah saksikan, "Benar, dia hanya sering mendatangi kantorku untuk ngopi bersama."
Yuta melirik kearah Kun sesaat, kemudian menatap Jeno yang hanya terdiam mendengar penuturan Yuta.
"Menurutmu, apa yang mereka mau?"
"Aku?" tunjuk Kun pada dirinya dan disambut anggukan oleh kepala Yuta, "Uh- entahlah. Masih sama seperti yang awal, kurasa. Aku tidak bisa pastikan apakah sasaran utamanya ada di kamu atau di serum-serum itu, bisa jadi juga keduanya."
"Jeno, haruskah aku memerhatikan sesuatu di luar klan juga?"
Jeno mengangkat sebelah alisnya, menangkap pertanyaa Yuta yang cukup membingungkan untuknya.
Di luar klan?
Faktor eksternal-
Ah.
"Sejauh ini, yang mampu kukatakan adalah berjaga-jaga. Termasuk masalah Taeyong Hyung," jawab Jeno.
"Ada lagi informasi yang perlu ku dengar?"
Hening mengisi ruangan, mencekam suasana yang telah begitu menegangkan sejak awal. Bahkan rasanya Yuta mampu mendengar tiap debaran jantung yang ada; siapa yang terpancing adrenalinnya sampai degupan yang tertangkap telinganya terdengar seperti musik hiphop, siapa yang tetap tenang--atau berusaha tenang--dengan menghela nafas dalam-dalam untuk menetralkan pacuan jantungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
VERONA | JAEYONG
Fanfiction[BXB] [ROMANCE] [On Going] [2 우리 다시 만나자 Series - Verona Blend] And when a simple 'touch me' glued both of their body tightly, made them together for the rest of their life. [Second Series of WILLOW]
