[사십삼]

476 62 12
                                        

Bersih-bersih kali ini tidak semudah biasanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

























Bersih-bersih kali ini tidak semudah biasanya. Jika piket mereka hanya tentang menyapu debu, kini tumpukan mayat perlu mereka sisihkan sebelum membusuk.

Menyedihkan.

Padahal, mereka tahu konsekuensi yang mereka punya, namun tidak satupun dari mereka yang ragu untuk mengingkar.

Jaemin mendengus lelah, ditancapkan sekop di atas gundukan tanah berisi timbunan mayat di belakang rumah Yuta. Sebelum matahari akhirnya muncul dari timur, dia dan yang lainnya bergegas masuk dan istirahat.

"Renjun, ayo sarapan." Jaemin menyenggol Renjun yang berdiri di sampingnya.

"Kamu yang bikin? Ayo," jawab Renjun, dia kalungkan tangannya pada lengan Jaemin, menggeret lelaki itu untuk segera ke dapur.

Lurus melewati lorong, banyak penampakan yang turut mereka berdua tangkap, salah satunya kumpulan orang yang sekarang tengah masuk ke ruangan Yuta dengan kepala merunduk ke bawah.

"Apakah ini karena kejadian semalam?" tanya Renjun.

Jaemin menghela nafas sebelum mengangguk mengiyakan, ingat bagaimana Yangyang sedikit memberikan bocoran tentang kejadian semalam, Jaemin rasa mereka yang saat itu ditugaskan sudah tahu dengan jelas bagaimana reaksi Yuta.

Menggantung Taeil dan Xiaojun dengan tetap membiarkan hak hidup pada dua lelaki dari klan hitam itu tidak tertulis di dalam plan D. Oh, baik Jaemin maupun Renjun enggan untuk membayangkan apa yang bisa terjadi di dalam ruangan Yuta itu.

"Tapi, apakah kamu setuju?"

"Hm?"

"Menggantung Taeil Hyung dan Xiaojun," tukas Renjun, "Aku sih, setuju."

Jaemin meloloskan kekehan ringan, "Aku tidak sabar melihat reaksi Ten," jawabnya kemudian.

Jaemin mungkin terdengar asal bicara, namun dia benar-benar punya niatan yang begitu dalam untuk menyaksikan bagaimana sikap Ten di saat waktu kejadian dan apa yang kedepannya akan lelaki itu lakukan.

Kaki kiri atau kanan yang kemungkinan Ten langkahkan lebih utama, tangan kanan atau kiri yang berayun sesuai langkahnya, Jaemin penasaran.

Jaemin benar-benar ingin tahu, apakah Ten hanya akan seperti orang tua murid yang anaknya diganggu saat di sekolah atau hanya pada tahap memarahi anaknya karena bersikap nakal?

Oh, kita tahu bersama kemungkinan besar Ten melakukan hal yang pertama, tinggal hitung detik untuk menyapa kemurkaan Ten terhadap mereka.

Bukankah, ini akan membuat perang mereka lebih seru dan berarti?

"Aku tidak sabar menantinya.

"Ck, Jaemin, ayo! Aku lapar."
















VERONA | JAEYONGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang