[BXB] [ROMANCE] [On Going]
[2 우리 다시 만나자 Series - Verona Blend]
And when a simple 'touch me' glued both of their body tightly, made them together for the rest of their life.
[Second Series of WILLOW]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hujan tidak pernah sebising ini biasanya.
Mungkin karena terlalu sunyi, telinga Taeyong sampai berdengung sakit hanya karena gemuruh luruhnya air di atas atap mobil mereka.
Setelah Minhyuk turun, keduanya menutup mulut rapat-rapat, tidak ada yang berniat menimpa runtuhan air dengan suara.
Taeyong menangkap dengan sangat jelas sorotan panik Jaehyun, tatapan yang menyorot jalanan sepi dengan sangat tidak tenang, bahkan Taeyong bisa dengar degupan suara jantung Jaehyun yang menggila di balik dada kekasihnya.
Tangan Jaehyun bahkan hendak memutar setir, mencoba mengarahkan moncong mobil ke alamat tempat tinggal Lucas, namun dengan tangkas Taeyong tahan.
"Ayo pulang."
Mereka butuh istirahat setelah hari yang begitu melelahkan.
🍃
Tinjuan kencang mendarat di wajah Haechan, tidak tanggung sampai tubuhnya tumbang. Taeil naik di atas tubuhnya, untuk kembali melayangkan pukulan, namun kini Haechan bergerak lebih cepat dan merubah posisi mereka; merampas dominasi yang Taeil kuasai, dengan cakar panjang yang coba dia gesekkan di atas permukaan kulit Taeil.
Yangyang mencoba membantu, sayangnya Xiaojun juga tahu lokasi mereka dan kini mencoba melumpuhkan mereka dalam satu hentakkan; lengkap dengan seringai menggelikan yang Haechan tangkap.
"Kamu benar-benar berada di sisi mereka sekarang?" tanya Taeil, "Memalukan." desisnya, seraya melayangkan pukulan di perut Haechan.
Terbang diantara hembusan angin malam, Haechan menghindar dari hantaman yang hendak tenggelam dalam tubuhnya, kemudian melakukan serangan balik pada Taeil— dan serangan itu gagal total, Taeil terlalu kenal Haechan sehingga mudah untuk melihat apa yang akan Haechan berikan setelahnya.
"Hyung, hentikan."
Tangan di atas lutut, nafas menderu lambat mencoba meraih oksigen serakus yang dibisa. Haechan tidak peduli dengan darah yang mengalir deras dan angin dingin yang mencoba membekukan lukanya, matanya dan fokusnya dia tujukan pada Taeil seorang.
"Aku berhenti jika kamu berhenti," balas Taeil, "Tidakkah kamu malu, Haechan?"
"Tidakkah kamu malu, Hyung?" timpal Haechan, dengan seringai yang dia paksakan, "Apakah kalian begitu senang merasakan kekalahan sampai ingin mengulangnya kembali?"
Tubuh Haechan langsung terpental, menabrak tembok sampai retak. Taeil menggeram rendah, langkahnya pelan mematikan, cukup untuk membuat keduanyan kian berdebar.