[십이]

830 120 4
                                        

"But we're stranger

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.









"But we're stranger... we don't know much about each other. But, you know what's funny? All i thought was, to find a way to get closer to him."














🍃









Taeyong mengerjapkan matanya. Tangannya menghalau sinar yang secara membabi buta menyorot wajahnya. Jendela kamarnya terbuka lebar dan hembusan angin menerpanya, memanggil nyawanya untuk segera berkumpul memenuhi raganya.

Kepalanya terasa pening, entah karena dia terlalu banyak tidur, atau—

"Pagi."

Sapaan itu membuat Taeyong menoleh, terdengar begitu sarkastik dan secara otomatis dia pun meraih ponselnya yang terletak—

—uh, di mana ponselnya?

"Jam berapa sekarang?" tanya Taeyong dengan nada panik dan lelaki yang menyapanya itu hanya bersandar pada tembok dengan tangan terlipat di dada, wajahnya datar, dan hanya helaan nafas yang menjadi respon untuk menimpali pertanyaan Taeyong.

Mata Taeyong membulat sempurna dan dia hendak lompat dari kasurnya, namun tepat ketika dia mendudukki dirinya dari posisi tidur, matanya langsung gelap gulita dengan denyutan yang terasa di kepalanya.

Ugh. Dia benci jadi orang hipotensi yang sering menghalanginya untuk bertidak cepat.

"Minum teh mu dulu, mereka masih bersiap-siap untuk melanjutkan game nya. Mereka akan menunggumu."

Taeyong menggelengkan kepalanya, tangannya memijat pelipisnya yang berdenyut, "Sudah berapa lama mereka menungguku?"

"Kumpulkan nyawamu dulu setelah itu kita berangkat ke tempat mereka kumpul," ucap Doyoung kemudian. Dia tahu Taeyong akan meracau balik, dan ketika Taeyong tidak melakukannya, dia tahu kalau lelaki itu memang masih perlu waktu tambahan untuk mengumpulkan energinya.

Seperti yang kini Doyoung lihat; Taeyong sedang meringis karena kepalanya yang pening dan duduk di atas kasur seraya merunduk, setelahnya meraih teh panas buatan Doyoung yang dia letakkan di atas meja nakas dekat kasur Taeyong.

"Kamu... kelelahan atau masih mabuk?"

"Entahlah," ujar Taeyong lemas, "Kurasa dua-duanya," lanjutnya, "Ah, apakah aku melakukan hal bodoh semalam?"

"Uh—" kalau Doyoung harus jujur dan menjawab pertanyaan itu, "Tidak." tidak, tidak, dia tidak ingin melihat Taeyong membenturkan kepala ke dinding hotel dan berakhir terkapar dengan kepala pecah.

VERONA | JAEYONGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang