[십삼]

855 121 17
                                        

Sayangnya, antusias Taeyong terpotong ketika dia merasakan dinginnya kikuk membatasi ruang antara dia dan Jaehyun, tepat ketika tiga makhluk lelaki yang sebelumnya menghantui tiap langkah Taeyong itu pergi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Sayangnya, antusias Taeyong terpotong ketika dia merasakan dinginnya kikuk membatasi ruang antara dia dan Jaehyun, tepat ketika tiga makhluk lelaki yang sebelumnya menghantui tiap langkah Taeyong itu pergi.

"Um- Jaehyun?"

"Hm?"

"Menurutmu, kita kemana?" tanya Taeyong, sekilas melirik ke arah Jaehyun dan dengan cepat mengalihkan pandangannya ketika Jaehyun hendak membalas tatapannya.

Jaehyun bergumam, entah mengapa suasa jadi menegangkan, jantung Taeyong jadi berdebar, bahkan dia perlu menarik nafas dalam-dalam untuk mampu mengontrol dirinya.

Karena kini rasanya dia ingin teriak dan lari keliling pasar seni untuk kabur dari rasa canggung yang begitu mematikan untuknya.

"Kamu mau ke sana?" satu menit terasa satu jam dan ketika Jaehyun menjulurkan tangan menuju salah satu toko, Taeyong menganggukkan kepalanya kuat.

Mereka berjalan ke salah satu stand yang menggantungkan banyak jenis pakaian dan terlihat sebagai stand paling besar diantara stand lainnya; tidakkah itu mengartikan kesuksesan si pemilik?

Taeyong akui, mata Jaehyun jauh lebih jeli—mungkin karena lelaki yang sedari tadi diam di sampingnya itu tidak segugup dia.

"Hei."

"Hm?"

"Bicaralah."

Taeyong benar-benar gugup sampai rasanya akalnya lepas entah kemana.

Jaehyun terkekeh mendengar gumamannya—oh, tidak, ya, tidak, Tuhan, Jaehyun mendengar gumaman asalnya— yang mana semakin meningkatkan keinginan Taeyong untuk segera mengubur dirinya hidup-hidup.

"Kamu mau aku bicara apa?" ucap lelaki itu, tanpa menatap ke arah Taeyong, melainkan ke arah kain yang kini tengah tangan kokohnya pegang; sadar bahwa tatapannya mampu membuat Taeyong lebih salah tingkah, jadi dia rasa mungkin dia bisa menggoda Taeyong di lain waktu saja.

"Apa saja," ucap Taeyong, mengikuti gerak Jaehyun yang memerhatikan tiap barang yang tersusun manis untuk mereka, "Kamu tidak menyesal ikut denganku?"

"Ikut..?"

"Maksudku, kamu, denganku, sekarang," ucap Taeyong acuh tak acuh, seakan lelaki itu tidak fokus dengan keberadaan Jaehyun; padahal nyatanya, sebaliknya.

"Tidak, kenapa aku harus merasa menyesal?" kekeh Jaehyun, "Kalau aku mau nyobain makanan di sini, aku bisa mengajakmu juga, kan?"

Taeyong menyingkirkan kain tipis yang menghalang mereka, "Bagaimana jika aku tidak mau?" tanyanya, dengan senyum mengejek.

"Uhm..." Jaehyun melipat tangannya, menepuk dagunya layaknya dia tengah berpikir keras menjawab pertanyaan Taeyong, "Aku akan cari cara sampai kamu mau?"

VERONA | JAEYONGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang