"Pak Devan?"
Devan seketika berhenti dari larinya, keringat di wajah nya bercucuran. Ia mengatur nafas nya yang tak beraturan.
"Kalian disini juga?" Tanya Devan.
Celine, Vira, dan Anin mengangguk sama sama.
"Devan!"
Seketika Devan tersentak kaget, ia membalikkan badan nya. Dirinya menatap seorang lelaki yang menatap nya marah.
Orang itu berjalan mendekat ke Devan. Satu pukulan mendarat di wajah Devan
"Adit!" histeris Celine ketika melihat sang suami yang memukul suami sahabat nya. Celine mendekat ke Adit dan menahan tangan Adit yang hendak memukul wajah Devan.
"Udah, dit, jangan kayak gitu, ini rumah sakit," tahan Celine agar lelaki itu tak memukul Devan lebih lagi.
"Yang, tapi dia udah keterlaluan sama Shei," sentak Adit sembari melepas kan tangan nya.
Celine kembali memegang lengan Adit dan membawa nya merapat pada tubuh nya. "Kamu nggak malu sama anak kamu? Ngeliat bapak nya udah tua malah berantem."
Adit berdecak. Ia menatap wajah Devan. "Cepetan samperin Sheila dia udah setres karena lo."
Devan menatap mereka yang ada disini. "Ya udah gue ke Sheila dulu."
Devan langsung berlari melalui koridor rumah sakit. Setelah itu dirinya sampai di hadapan ruangan Sheila.
Rasanya untuk sekarang, kaki nya serasa kaku untuk memasuki nya. Dirinya masih bersalah karena ini.
Devan menghembuskan nafas nya. Ia menetralkan rasa gugup nya.Perlahan ia membuka pintu ruangan ini.
Mata nya menatap Sheila yang tengah memainkan ponsel nya. Sheila mendongakkan kepala nya menatap Devan.
Dalam sekejap, mata Nala berkaca kaca. "K-kak?" lirih nya dengan bergetar.
Walau lirihan Nala sangat lah kecil. Devan masih bisa mendengar panggilan dari Nala.
Mata Devan memerah karena nya. Ia berjalan cepat dan langsung duduk di brangkar Nala, dia memeluk istrinya cepat dan sangat erat.
"Iya sayang, kenapa?" Tanya Devan dengan serak.
"Kakkkk.. " tangis Sheila suara nya semakin membesar. Ia membalas pelukan Devan, menyembunyikan wajah nya di dada Devan.
"Sayang... " Devan mulai mengeluarkan air mata nya. Dirinya benar benar tak tega Melihat Sheila.
"Maafin Sheila kak. Maaf," gumam nya di sela sela isakan.
Devan menggeleng. "Jangan minta maaf sayang, ini salah kakak. Harus nya kakak nggak pergi," potong Devan.
Nala mengangguk, semakin mempererat pelukan nya dengan Devan.
Lumayan lama kedua nya berpelukan dengan Devan yang terus menggumamkan kata maaf.
Sheila bosan dengan kalimat yang terus Devan keluarkan.
Dia melonggarkan pelukan nya dan menatap wajah Devan yang sangat memprihatinkan dan tak jauh berbeda dari nya.
Devan tersenyum. "Kenapa?"
Sheila menggeleng. Ia menghapus air mata yang berjatuhan di mata Devan.
Cup!
Cup!
Cup!Devan mencium kening Sheila dan beralirh pada bibir Sheila. Sudut bibir Sheila terangkat.
Devan menatap Sheila dalam.
Matanya jatuh pada perut Sheila yang masih datar.
Sheila mengikuti arah pandang suaminya. Ia terkekeh.

KAMU SEDANG MEMBACA
Akulah Takdir mu
Romance"Kamu adalah takdir ku dan aku adalah takdir mu." Tidak ada satupun kejadian di dunia ini yang merupakan sebuah kebetulan, karena semua ini sudah menjadi skenario tuhan. Sama dengan hal nya Sheila dan Devan yang menikah karena skenario tuhan. "Sa...