"Kamu adalah takdir ku dan aku adalah takdir mu."
Tidak ada satupun kejadian di dunia ini yang merupakan sebuah kebetulan, karena semua ini sudah menjadi skenario tuhan.
Sama dengan hal nya Sheila dan Devan yang menikah karena skenario tuhan.
"Sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Shei, bangun." Sheila tetap tak terganggu atas panggilan Devan.
"Sheila, udah mau jam 9 ini. Cepetan bangun, temenin kakak," ucap Devan lagi. Sheila yang merasa tidur nya terganggu pun lantas membuka mata nya.
"Masih ngantuk juga," ucap Sheila yang akan menutup mata nya kembali.
"Jangan tidur lagi, makanya udah kakak suruh tidur malah mau nonton lagi," omel Devan.
Sheila pun lantas membuka matanya, "Iya iya, dasar emak emak," kesal Sheila.
"Cepat mandi, kakak tunggu diluar." Lalu Devan berjalan keluar kamar nya.
Sheila pun bangkit dari tidur nya sembari mengucek matanya. Ia berjalan menuju kamar mandi dengan kimono di tangan nya. 5 menit Sheila sudah keluar dari kamar mandi, Sheila sudah pasti mandi seperti bebek cuma siram siram doang.
Sheila memilih pakaian yang akan ia pakai sekarang, pakaian yang akan dipake Sheila jatuh kepada Kaos oversize ungu dan celana jeans hitam. Setelah menggunakan pakaianya Sheila berjalan ke arah meja rias nya, ia mengeringkan rambut nya lalu beralih menggunakan skincare, dan terakhir mengaplikasikan bedak dan mengoleskan sedikit lip gloss berwarna natural.
Sheila berjalan keluar menuju tempat Devan berada, Devan sudah menggunakan kaos hitam beserta celana bahan.
"Sarapan dulu sini." Lalu Sheila mendekat ke arah Devan, Sheila mengambil satu potong roti tawar yang sudah Devan oleskan dengan selai cokelat dan meneguk segelas susu vanila.
"Sudah kak," ucap Sheila. Devan pun mengangguk lalu berjalan mengambil kunci mobil nya.
"Ayo," ajak Devan. Sheila dan Devan berjalan menuju mobil milik Devan. Keduanya saat ini sudah berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Devan.
"Kita ke swalayan dulu baru ke pasar." Sheila hanya mengangguk menanggapi ucapan Devan.
Setiba nya di swalayan, Sheila berjalan lebih dulu sedangkan Devan dibelakang Sheila. Devan mengambil keranjang belanja yang berbentuk Roda.
"Shei, jangan buru buru. Sini di samping kakak," ujar Devan. Sheila pun menuruti nya dan berjalan berdampingan dengan Devan.
Devan dan Sheila berjalan ke area buah buahan, "Ngapain beli buah sih?" Kesal Sheila.
"Biar kamu terbiasa sama buah Shei, kakak nggak mau kamu malah sakit nanti." Sheila pun berdecak kesal. Saat ini Devan lah yang memilih buah buah sedangkan Sheila mendorong troli. Sheila mendorong ny dengan keadaan merengut.
Setelah banyak memilih bahan makanan, Sheila merengek untuk pergi ke area yang banyak ciki ciki.
Troli sudah di kuasai oleh Devan, tadi nya Sheila akan berjalan di depan Devan tetapi lelaki itu menahan nya. Lalu meletakkan tangan Sheila di gandengan nya.
Sheila memilih beberapa makanan tanpa melepas gandengannya dengan Devan.
"Jangan banyak ngambil cokelat cokelat Shei, gigi kamu udah bolong gitu," peringat Devan, mengingat Sheila yang sering mengaduh bahwa gigi nya sakit.