"Kamu adalah takdir ku dan aku adalah takdir mu."
Tidak ada satupun kejadian di dunia ini yang merupakan sebuah kebetulan, karena semua ini sudah menjadi skenario tuhan.
Sama dengan hal nya Sheila dan Devan yang menikah karena skenario tuhan.
"Sa...
Rissa mengelus punggung Sheila, dia teringat dengan kejadian dulu. Ketika ia memiliki penyakit yang mematikan.
"Nggak sayang, Tuhan itu adil. Shei nggak bakal dikasih takdir ini kalau Shei nggak sanggup. Buktinya Shei bisa bertahan selama ini, nak." Bahkan Rissa sudah mengeluarkan air mata.
Rissa melepas pelukannya dengan Sheila. Namun, Sheila pun tak berhenti menangis gadis itu menangis dengan kuat seolah cara ini lah yang digunakan nya untuk mengekspresikan rasa sakit nya.
Rissa langsung memeriksa luka luka yang ada pada diri Sheila, Rissa melihat wajah Sheila terdapat 3 goresan di masing masing pipi dan kening nya yang kembali mengeluarkan darah karena terkena pinggiran meja bahkan sudut bibir Rissa makin mengeluarkan darah. Rissa menangis saat ini tak tega melihat keadaan menantunya seperti ini.
"Badan Shei, masih ada yang luka gak?" Tanya Rissa. Sheila pun mengangguk, lalu menunjuk punggung nya yang sudah memerah.
"Kita kerumah sakit yah nak?" Pinta Rissa.
Sheila menolak, Sheila benci rumah sakit, ia cukup takut jika harus berhadapan dengan jarum suntik atau bahkan kulitnya akan dijahit.
Sebenarnya sejak Sheila memergoki Papa nya dan wanita lain para warga banyak berkumpul melihat mereka.
"Shei, mau pulang. Ma," pinta Sheila.
Lalu Rissa mengangguk, "Mama telepon kak Devan yah," ujar Rissa lalu gadis itu mengeluarkan ponsel nya untuk menghubungi Devan.
Hampir 5 kali Rissa menelepon Devan tetaoi lelaki itu tak menjawabnya, jika ia menyuruh Sheila membawa mobil nya sendiri ia tak yakin akan selamat sampai besok, Rissa memutuskan untuk menelepon Elvan saja.
Tiba tiba seorang wanita seumuran dengan Rissa mendekati mereka, "lukanya di obatim dulu nak." Ibu tadi di sambut gelengan oleh Sheila.
Para warga menatap iba kepada Sheila, Sheila bahkan sudah kembali memeluk Rissa. Telepon Rissa dan Elvan tersambung.
"Halo, Van."
"Aduh, istri ku yang cantik nan-"
"Nggak usah basa basi, kamu sibuk nggak?"
Di tempat lain, Elvan mengerutkan keningnya ketika mendengar suara ribut ribut bahkan terdengar suara orang menangis.
"Kamu kenapa, ?"
"Aku nggak bisa jelasin ke kamu sekarang, pokonya kamu jemput aku sekarang. Aku langsung share lock."
Rissa mematikan ponsel sepihak, lalu mengirimkan lokasi kepada suami nya itu. Rissa menggerutu kepada putranya itu ketika saat genting seperti ini malah putra nya itu tak ada.