Sheila bangun dari pingsan nya. Gadis itu melihat sekitar, dia ternyata terbaring diatas lantai. Sheila menghela nafas nya, kemudian bangkit. Sheila menatap jam yang menunjukkan pukul 01.00 malam. Sheila beranjak untuk duduk di tempat tidur nya.
Devan benar benar marah. Bahkan Devan tak ada di rumah.
Sheila mengambil handphone nya. Kemudian mencoba untuk menelfon Devan.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Nomor yang Anda tuju-
Nomor yang anda tuju.
Sheila mematikan panggilan nya. Kemudian Sheila baring di tempat tidur. Gadis itu baring sembari menatap Layar ponsel nya. Untuk menunggu kabar seseorang.
Namun, rasa lelah yang dirasanya. Mampu membuat Sheila menutup matanya. Gadis itu tertidur.
***
Sheila membuka mata nya yang terasa berat. Lalu, mengucek nya. Gadis itu mengambil ponsel yang terletak di samping nya. Membuka jam. Masih menunjukkan pukul 12.00. Sudah lebih dari 15 jam, Sheila hanya tidur. Gadis itu duduk dan bersandar di penyangga kasur.
Tangan nya bergerak untuk membuka aplikasi whatsapp. Sheila menghela nafas. Tak ada satupun pesan masuk dari Devan.
Kakak sayang :
Kak. Nggak pulang?
Kepala Sheila sakit banget.
Kak?
Pulang yah?
Maafin Sheila. Maaf Sheila nggak cerita sama kakak.
Kak.
Pulang.
Sheila bakal lakuin apa aja asal kakak pulang.Semua pesan nya hanya ceklis satu. Tak ad satu pun pesan yang berhasil masuk ke ponsel Devan. Lelaki itu seperti nya menonaktifkan ponsel nya sejak kejadian kemarin.
Walau kepala nya sangat berat, Sheila hari ini berniat untuk pergi ke rumah Rissa untuk mencari Devan.
Setelah mandi, Sheila langsung menggunakan make up tipis. Dengan pakaian seadanya dibalut dengan kardigan yang tebal, Sheila langsung memesan ojek online.
Sheila tak akan kuat mengendarai mobil dengan kepala yang sakit seperti ini.
"**
Tokk, tokk, tokk.
Sheila mengetuk pintu rumah Rissa.
Sebentar!
Rissa keluar dengan celemek yang digunakan nya. Rissa mengernyit ketika menantu nya datang.
"Kenaapa Sheila?"
"Kak.. Kak Devan ada disini nggak?" Tanya Sheila terbata.
"Devan? Nggak ada tuh," jawab Rissa.
Sheila menutup matanya untuk menahan tangis nya. Rasanya Sheila akan menangis saat ini, Devan benar benar marah jika saat seperti ini dia tak mendatangi ibu nya.
"Kamu kenapa? Devan emang kenapa? Kenapa kamu nanya Devan? Devan nggak ada sama kamu?" Tanya Rissa beruntun.
Sheila menggeleng. "Kalian kenapa ada masalah? Bertengkar?"
"Nggak papa kok ma."
Rissa menatap Sheila tak percaya. Sheila berbohong pun saat ini akan ketahuan. Bagaimana tidak? Wajah nya memerah seperti habis menangis, bibir nya pucat walau sudah ditimpa dengan liptint.

KAMU SEDANG MEMBACA
Akulah Takdir mu
Romance"Kamu adalah takdir ku dan aku adalah takdir mu." Tidak ada satupun kejadian di dunia ini yang merupakan sebuah kebetulan, karena semua ini sudah menjadi skenario tuhan. Sama dengan hal nya Sheila dan Devan yang menikah karena skenario tuhan. "Sa...