"Kamu adalah takdir ku dan aku adalah takdir mu."
Tidak ada satupun kejadian di dunia ini yang merupakan sebuah kebetulan, karena semua ini sudah menjadi skenario tuhan.
Sama dengan hal nya Sheila dan Devan yang menikah karena skenario tuhan.
"Sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"kamu serius nggak papa?" tanya Devan.
Sheila menggeleng, "Saya baik baik aja kok pak," ucap Sheila sambil tersenyum meyakinkan.
"Kalian pulang aja, udah malam kan? Ini cuma sekali doang kok," ujar Sheila.
Sekali apanya? Sampai bilang mau cerai gitu? Batin Devan.
Devan mengangguk, "Ya udah kalau begitu, jaga diri kamu baik baik," ujar Devan.
Sheila pun mengangguk, setelah dirasa semuanya masuk, tanpa menunggu mobil milik Adit pergi Sheila berjalan kearah pagar nya dan menendang pagar yang terbuat dari besi sehingga menimbulkan suara nyaring. Membuat kedua orang yang tengah berantam di dalam memusat kan perhatian nya kepada Sheila.
Sheila tersenyum canggung, lalu menaikkan satu tangan kanannya, "Ah, Sorry," ujar Sheila lalu berjalan memasuki rumah nya.
Orang di dalam mobil tadi hanya menatap Sheila dengan tatapan kaget, gadis itu tidak menangis tetapi malah melakukan kejadian yang sangat tak mereka duga.
"LIAT ANAK ITU," Vania menunjuk Sheila, "Dia nggak pernah sopan karena kamu," ujar Vania dengan suara keras.
"DIA ANAK KAMU," ujar Xabiru, "Apa itu anak kamu dengan lelaki lain?" sindir Xabiru dengan suara pelan nya.
"APA APAAN KAMU XABIRU?" Bentak Vania.
Di dalam Sheila tidak langsung ke kamar melainkan mendengar percakapan yang di lontarkan kedua orang tuanya, apakah mereka sadar kalau mereka mempunyai anak?
Tak kuat mendengar percakapan menyakitkan yang terus keluar dari mulut orang tuanya, Sheila pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
Sheila langsung melakukan rutinitas malam nya dengan teratur dan tidur.
Sheila tertidur dengan keadaan mengeluarkan air mata. Menurut kalian bagaimana dengan orang yang tidur tapi masih bisa mengeluarkan air mata?
Inilah kehidupan Sheila, kehidupan yang penuh dengan kebencian, Sheila menjalani detik detik hidup nya dengan kebencian yang terpendam. Sheila selama ini tak pernah protes dengan sikap kedua orang tua nya ini, dia selalu menjadi pendengar yang baik, pendengar yang selalu mendengar tanpa melakukan penolakan apa pun.
Sheila dulu berfikir untuk tak akan meninggalkan orang tua nya, tetapi sekarang dia ingin pergi meninggalkan orang tua nya dengan membawa uang yang banyak. Bagi Sheila hanya uang teman nya bermain saat ini.
***
Dilain tempat seorang lelaki tengah berfikir sesuatu, dia berfikir tentang kejadian yang dialami Sheila. Apa selama ini kehidupan keluarga itu penuh dengan kebohongan?
Kehidupan yang banyak orang impikan ternyata kehidupan yang seseorang benci.
"Gimana keadaan nya sekarang?" tanya Devan mengkhawatirkan keadaan gadis itu.