"Kisah kita memang baru sebentar, namun kesan terukir sangat indah."
-Bintang-
Happy reading<3
Dulu sebelum bertemu denganmu, duniaku tampak abu abu, tak berwarna dan hanya datar di dalamnya.
Tapi setelah bertemu denganmu, kini duniaku tampak berwarna. Sikap dingin telah mencair karena melihat senyum manismu itu.
Sikapmu yang tak kenal lelah, cengeng, dan manja seakan menjadi sebuah hal yang paling kusukai.
Kau ingat saat pertama kali kau mengajak ku untuk melihat langit malam pada waktu itu? Itu pertama kalinya aku melihat Bintang dan Bulan yang beriringan, saling bersama.
Mereka yang ku kira sangat jauh, kini menjadi sangat dekat.
Mereka saling melengkapi satu sama lain, seperti kita.
Tapi kini aku sadar, tak selamanya Bintang dan Bulan saling melengkapi. Ada kalanya mereka saling menjauh dan akhirnya berpisah...
Selamat tinggal, Bulanku
Bintang memegang erat secarik kertas yang telah selesai ia tulis tersebut. Sang empunya menghela nafas kasar, lelaki itu tampak gelisah tak menentu.
Hatinya tak ingin berpisah, tetapi logikanya berkata bahwa ia harus pergi demi melihat gadis itu tersenyum manis lagi seperti dulu.
"Apa yang gue lakuin ini udah bener?" tanyanya pada diri sendiri.
Bintang melipat secarik kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Ia sudah memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper dan bersiap meninggalkan semua hal yang berkaitan dengan Bulan.
Akhir-akhir ini dokter juga berkata bahwa tak lama lagi Bulan akan segera sadar, itu tandanya tugasnya untuk menjaga Bulan sudah selesai.
Menutup matanya perlahan, Bintang mulai tertidur.
*****
Sebelum bersiap pergi ke bandara, Bintang terlebih dahulu mampir ke rumah sakit untuk terakhir kali bertemu dengan Bulan. Ia ingin melihat wajah cantik gadis itu.
Membuka pintu kamar perlahan, Bintang melihat wajah Bulan yang pucat. Seperti biasa ia duduk di samping gadis itu dan mencium kening Bulan.
"Aku kembali lagi, Lan. Tapi ini yang terakhir." ucapnya pada Bulan.
Bintang membelai lembut rambut Bulan. Sebenarnya ia tidak memiliki cukup banyak waktu, karena penerbangan akan dimulai 1 jam lagi.
"Lihat aku sekali aja, Lan. Lihat aku untuk terakhir kalinya, aku mohon." ujar Bintang masih setia menatap lembut Bulan. Matanya penuh dengan pengharapan.
"Kalau aku udah pergi, kamu baik baik terus ya. Kamu jangan suka nangis, apalagi nanti nangisin kepergian aku. Jangan ya. Jangan sia-siain air mata kamu lagi buat cowok yang gak pantes kayak aku." Bintang tersenyum tipis dan berdiri untuk mencium kening Bulan sekali lagi.
"Aku pergi ya, aku sayang kamu Bulan." ujar Bintang dan kemudian menghilang.
*****
Rara dan Yuri kini tengah menjaga Bulan. Sejujurnya Rara masih menyayangkan bahwa semua menyalahkan Bintang. Ia bahkan sangat percaya Bintang telah menjaga sahabatnya itu dengan sebaik mungkin. Walaupun lelaki itu telah berkali-kali menyakiti Bulan.
Tak ada pembicaraan di ruang penuh aroma obat obatan yang kental itu, yang ada hanya suara monitor dari alat medis Bulan.
Rara gelisah sendiri, tadi pagi ia bertemu dengan Bintang dan lelaki itu menitipkan sebuah surat padanya.
Wajah Bintang sangat gusar saat itu, sembari buru-buru pergi, ia menyapa Rara dan memberikan surat padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE LIGHT LOVES [END]
Teen FictionBagimana jika dua orang dengan sifat yang bertolak belakang dijadikan menjadi satu pasangan? Bintang Aksara Prima, sang cowok dingin yang memiliki paras tampan yang mampu menyihir para wanita dengan satu tatapan Bulan Putri Wijaya, sang gadis cerewe...
![THE LIGHT LOVES [END]](https://img.wattpad.com/cover/219598742-64-k843924.jpg)