41- Masih peduli

194 18 0
                                        

" ku aman bersamamu."

Happy reading<3

Setelah pertengkaran 2 hari yang lalu, Bintang kini memutuskan untuk antar-jemput Bulan. Ia bahkan meminta temannya yang kuliah disana untuk mengawasi Bulan. Ia tidak ingin melihat Bulan tersakiti lagi oleh Arta.

Gadis itu terlihat trauma dengan apa yang dilakukan Arta padanya. Pelipisnya diperban dan sudut bibirnya agak memar. Bulan sungguh takut jika bertemu dengan Arta.

Bintang mengakui ini kesalahannya. Ia terlalu lama meninggalkan Bulan. Ini salahnya.

Mengantar Bulan sampai ke dalam kelas, membuat Bintang menjadi sorotan para mahasiswi disana. Mereka mempunyai asupan cogan kala pagi dan sore hari. Mereka juga iri pada Bulan yang selalu dikelilingi lelaki tampan disekitarnya.

"Belajar yang rajin ya." Bintang mengecup dahi Bulan singkat. Ia lalu pergi mengabaikan tatapan orang-orang disekitarnya. Ia tidak peduli, baginya Bulan nomer satu.

Tatapan Bulan kosong beberapa hari ini. Ia masih ingat jelas apa yang Arta lakukan padanya. Ia sangat takut. Melihat mata Arta yang memerah, mengingat bagaimana lelaki itu mejambaknya dan melemparnya ke tembok.

Selama ini, selama Bulan menjalani hubungannya dengan Arta, ia mencoba untuk membuka hati pada lelaki itu. Ia mencoba melupakan Bintang, ia mencoba untuk mencintai seorang Arta. Ia menjadi gadis yang memahami sikap Arta, menemani lelaki itu kala susah dan senang.

Meskipun Arta tak demikian.

Sejak mereka memutuskan untuk jadian, Bulan merasa Arta akan menyayanginya, menjaganya dan melindunginya. Tapi ternyata salah. Lelaki itu justru selalu seenaknya.

Ara hanya satu orang dari banyak wanita yang Arta bangga-banggakan didepannya.

Tapi sekarang tidak lagi. Bulan tidak akan membiarkan Arta selalu memperlakukannya seenaknya. Ia harus mengambil keputusan. Lagipula Bintang sudah ada untuknya.

Lamunan Bulan tersadar saat seorang dosen masuk untuk menilai tugas Minggu lalu.

*****

Arta dijauhi. Kirana dan Nesti tak ingin bicara padanya. Sejak dua hari yang lalu lelaki itu tak masuk kuliah, ia malu akan kelakuannya.

Lelaki dengan rambut berantakan itu berdiri diatas cermin. Ditatapnya wajahnya, wajah seseorang yang brengsek.

Arta mengusap wajahnya kasar. Kenapa ia bisa sekasar itu dengan Bulan. Gadis yang selalu tersenyum saat ia memilih pergi dengan wanita lain. Bulan selalu mengkhawatirkannya, gadis itu sangat peduli.

Tidak seperti dirinya.

Arta keluar dari kamar. Ia seperti asing di rumahnya sendiri. Kedua wanita yang sangat dicintainya bahkan mengacuhkan dirinya.

"Mamah masak apa hari ini." ujar Arta mendekati Kirana. Kirana tak menjawab.

"Wah kak Nesti lagi ngapain tuh." kini Arta berjalan menuju Nesti. Tapi Nesti juga mengacuhkannya.

Kirana mulai menata makanan di ruang makan. Nesti juga ikut membantu mamahnya. Mereka bertiga kemudian makan dengan diam.

"Mau nambah, Nes?" tanya Kirana menatap puterinya yang mengambil makanan dengan porsi sedikit.

"Enggak ah mah, Nesti lagi program diet." balas Nesti. Gadis itu memang sedang menjalankan diet beberapa hari ini, berat badannya agak naik.

THE LIGHT LOVES [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang