27- Arta si Buaya

657 42 0
                                        

"Cantik jangan nangis dong, nanti cantiknya hilang lho. Ayo senyum, senyum kamu itu sangat berarti buat kelangsungan makhluk hidup di dunia ini. Aku contohnya.
-Arta🐊-

Happy Reading<3

[Jangan lupa dengerin mulmed yang udah disediain]

Bulan berlari sangat kencang saat melihat dari kejauhan satpam sudah akan menutup gerbangnya. Nafas Bulan terengah-engah, ia lalu berhenti meminum air lalu melanjutkan berlarinya lagi.

Telat, kini pintu gerbang sudah tertutup sempurna.

Bulan menghela nafas panjang, andai saja tadi malam ia tidak menangis semalaman pasti ia tidak akan telat hari ini. Bulan berkaca sebentar menggunakan handphone nya, matanya masih terlihat sangat sembab.

Bulan kini mondar-mandir tak tentu arah, bagaimana caranya masuk ke sekolah sekarang? Bulan mulai berpikir keras hingga suatu aroma yang sangat ia benci menusuk hidungnya.

Asap rokok.

Bulan menoleh ke arah siapa yang merokok, pandangan Bulan kini melihat seseorang yang memakai seragam sepertinya tetapi seragamnya tampak tak rapi dan berantakan. Lelaki itu tampak santai dan tak menghiraukan Bulan.

"Ehemm." Bulan mulai berdehem.

Lelaki itu masih saja tak menggubrisnya. Bulan kini terbatuk-batuk. Tak selang lama kini lelaki itu menoleh ke arah bulan.

"Rokoknya matiin boleh?" ucap Bulan masih menutupi hidungnya dengan kedua tangannya.

"Gak boleh." ucap lelaki itu.

"Kamu tau gak? Merokok itu bahaya buat kesehatan kamu, terlebih asap rokok juga bahaya untuk orang yang ada disekitar kamu." ucap Bulan bernasihat pada lelaki itu.

"Terus gue harus gimana?" tanya lelaki itu lalu mendekat ke arah Bulan.

Bulan mendongak, lelaki itu sangat tinggi. Ia lalu mengambil paksa rokok yang sedang lelaki itu hisap. Lalu dengan cepat Bulan menginjak rokok tersebut.

Lelaki itu kaget dengan apa yang dilakukan Bulan. Ia lalu mencengkram bahu Bulan dan mendekatkan tubuhnya pada tubuh Bulan.

"Nyari mati lo?" ucap lelaki itu menatap tajam ke arah Bulan.

Bulan menggeleng cepat, "Maaf, tapi beneran deh ngerokok itu gak baik." jawab Bulan pada lelaki itu.

Lelaki itu berdecih pelan dan mengarahkan wajahnya mendekati wajah Bulan. Kini jarak mereka hanya sepersekian. Bulan mencoba menahan nafas, bau rokok masih tercium dengan sangat kuat di mulut lelaki itu.

"Gue bau ya?" tanya lelaki itu pada Bulan.

Bulan mengangguk cepat, "Iya, sangat bau." ujarnya, emosi lelaki itu langsung naik pitam.

Lelaki itu lalu mendelik tajam ke arah Bulan, "Seriusan gue bau?" tanya lelaki itu pada Bulan.

Bulan mengangguk lagi, "Iya bau banget!"

Lelaki itu lalu mengambil paksa tas Bulan yang dominan berwarna merah muda itu. Lelaki itu tampak mencari sesuatu. Setelah berhasil menemukan apa yang ia inginkan ia lalu tersenyum senang.

Lelaki itu langsung menyemprotkan minyak wangi Bulan ke seluruh tubuhnya.

Bulan melotot melihat minyak wanginya oleh-oleh dari papahnya kini habis tak tersisa. Bulan langsung menangis melihat botol minyak wanginya yang sudah kosong.

Lelaki itu seketika gelagapan. Memangnya ia salah apa sehingga membuat gadis cantik dihadapannya menangis?

"Lo kenapa nangis? Gue masih bau ya?" tanya lelaki itu, khawatir.

THE LIGHT LOVES [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang