"Mengapa kita ditakdirkan berjumpa, padahal kita tak kan mungkin bersama~"
Happy Reading<3
Sudah tepat satu minggu Bulan terus mendapatkan teror yang menyebabkan ia selalu berpikir bahwa ia mungkin saja bisa meninggal di tangan peneror itu.
Bulan memang sengaja tidak memberitahukan teror yang ia dapatkan kepada orang-orang disekitarnya, sebab si peneror telah berkata bahwa sampai Bulan memberitahukan hal ini maka orang-orang disekitar Bulan akan celaka.
Seperti saat ini gadis cantik dengan piyama pisang nya berjalan mengelilingi taman kompleks untuk sekedar berlari-lari kecil dan menghirup udara segar malam ini.
Ia hanya sendirian, mungkin.
Setelah dirasa cukup, Bulan berhenti sejenak untuk mengistirahatkan badannya. Gadis ini bersender di pepohonan besar di ujung sungai.
Sembari menatap langit malam yang indah, Bulan menyumpalkan headset di telinganya dan mendengarkan lagu Mawar Jingga-juicy.
Terbuai akan lagu tersebut, Bulan mulai mengikuti lirik demi lirik lagu itu.
"Mengapa kita ditakdirkan berjumpa padahal kita tak kan mungkin kesana, ditujuan sama berakhir ditengahnya, menunggu yang ku tau sia-sia."
Bulan memejamkan matanya, "Menunggu yang ku tau sia-sia." lirihnya.
Memejamkan mata sembari menikmati angin malam, Bulan merasa malam ini sangat panjang. Bahkan ia ingin berlama-lama disini sembari menyaksikan keindahan malam ini.
"Kata peneror itu hari ini hari terakhir aku hidup, apa iya?" Bulan kini mulai berbicara sendiri sembari menatap langit.
Kemudian Bulan memeluk lututnya dan mulai menangis, menangisi takdirnya.
"Ada masalah apa?" suara seseorang tiba-tiba mengagetkan Bulan.
Bulan yang sedang menangis mencoba berusaha setegar mungkin dihadapan seseorang itu.
"Gue ngambek sama lo." ujar seseorang itu lagi bersuara.
"Ngambek kenapa? Aku buat salah ya sama Tata?" balas Bulan menanggapi.
"Dih gak tahu diri." decih Arta berkacak pinggang.
"Aku tahu diri kok!" balas Bulan tak terima kemudian ia berdiri di hadapan Arta. "Tahu diri kan?" lanjut Bulan lagi.
"Tau aja bikin gue gak ngambek." ujar Arta tersenyum manis.
Bulan membalas senyuman Arta dengan senyuman manisnya. Tanpa sadar air matanya mulai turun satu persatu membuat Arta yang dihadapannya langsung memeluk tubuh mungil Bulan.
Arta mengerti betul apa yang Bulan rasakan, ia pun sudah menyuruh orang untuk mencari informasi tentang peneror Bulan, tetapi hasilnya nihil.
Dengan telaten Arta mengusap air mata Bulan yang daritadi turun. Sembari merengkuh bahu Bulan, Arta mulai bercerita tentang suatu hal yang lucu.
"Bulan." ucap Arta memulai percakapan pada Bulan yang sudah mulai berhenti menangis.
"Apa?" jawab Bulan sembari membersihkan ingus yang ada di hidungnya.
Arta ikut membersihkan ingus Bulan tanpa rasa jijik sekalipun. Ingus cewek cantik mah beda ya.
"Gue punya cerita lucu." ujar Arta setelah membersihkan ingus Bulan.
"Cerita apa?" jawab Bulan antusias.
"Jadi kemarin bunda nya si Rio tuh beli kol." Arta mulai bercerita dan Bulan asik mendengarkan. "Terus kol nya divideo." ucap Arta lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE LIGHT LOVES [END]
Teen FictionBagimana jika dua orang dengan sifat yang bertolak belakang dijadikan menjadi satu pasangan? Bintang Aksara Prima, sang cowok dingin yang memiliki paras tampan yang mampu menyihir para wanita dengan satu tatapan Bulan Putri Wijaya, sang gadis cerewe...
![THE LIGHT LOVES [END]](https://img.wattpad.com/cover/219598742-64-k843924.jpg)