21- Double Date

824 48 3
                                        

"Selain kopi, mengharapkamu adalah pahit yang kunikmati."
-Fiki-

Happy reading<3

[Jangan lupa dengerin mulmed yang udah disediain] Lagu Ambyar Fav, Haha

Kecewa itu suatu kewajaran, untuk seseorang yang terus saja berharap padalhal sama sekali tidak pernah dianggap.

Kira-kira kalimat itulah yang sekarang menggambarkan perasaan seorang Fiki.

Lelaki manis dengan kedua lesung dipipinya ini menghela nafas pelan setelah melihat bahwa pesannya masih juga belum dibalas oleh Bulan.

Ya, gadis itu Bulan Putri Wijaya. Seseorang yang mampu membuat warna didalam hidup Fiki yang hanya mengetahui hitam dan putih.

"Padalhal online, kok chat gue gak dibales ya?" Gumam Fiki pelan melihat room chatnya dengan Bulan.

Hei Fiki, memangnya kau siapanya? Bukan siapa-siapa kok banyak menuntut.

Jujur saja, saya juga sering merasakan apa yang Fiki rasakan. Bagaimana rasanya jika melihat doi baru saja membuat status tapi chat kita masih belum juga dibaca? Ngirim chatnya kapan balasnya kapan, itu juga sering, sering banget malah.

Terus dia bilang, "Eh, maaf ya baru bales tadi bla bla bla." Ah iya, yang gak prioritas mah dinomersekiankan.

Sibuk itu bullshit, semua tergantung prioritas.

Ingin marah tapi langsung sadar sama kata kang parkir.

Kalian masih ingat kata legend kang parkir kan?

Yak mundur........

Fiki masih setia menatap ponselnya, hingga tangannya tanpa permisi memencet tombol telpon pada Bulan.

"Halo? Ada apa Fiki?"

Fiki menelan ludahnya, ia bingung harus apa saat ini. Mendengar suara Bulan saja sudah membuat keresahannya berkurang.

"Gue kangen." Fiki langsung termenung setelah mengucapkan kata tersebut.

"Hah? Fiki kenapa?"

Ternyata sinyal Bulan buruk, ia harus bersyukur pada Tuhan saat ini.

"Bukan apa-apa kok. Lo lagi apa?"

"Lagi belajar buat ulangan kimia besok, maaf ya belum sempat balas chat Fiki tadi." Suara Bulan terdengar merasa bersalah.

"Gue lupa kalo besok ada ulangan kimia. Habisnya akhir-akhir ini gue sering kepikiran seseorang yang selalu buat gue senyum."

"Emang kepikiran siapa? Bu kantin penjual bakso yang ada diujung ya?"

Fiki menghela nafas panjang, kenapa seseorang yang disukainya tidak pernah peka sama sekali?

"Gue kepikiran lo, Bulan."

*****

"Fiki, kemarin maksud kamu apa yang mikirin aku?" Pagi ini Bulan langsung meghampiri Fiki yang duduk dibangkunya.

"Bukan apa-apa, lupain aja." Ucap Fiki malas.

Bulan menaikkan alisnya, "Sebenarnya kamu kenapa? Sakit?"

"Gue sakit hati sama lo, Bulan." Batin Fiki

Fiki menguap sebentar lalu menatap Bulan dengan sorot matanya yang teduh. "Gue cuma ngerasa hidup itu gak adil," Bulan mengerjapkan matanya berkali-kali, "Kenapa Fiki ngomong kayak gitu?"

Fiki tersenyum dan menatap sendu ke arah Bulan. "Kenapa? Emang gak boleh? Sampai saat inipun gue gak nemuin kebahagiaan yang permanen di dunia ini."

THE LIGHT LOVES [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang