24 : New Changes : (Revisi)

44 6 2
                                        

Assalamua'laikum

Bismillah

H A P P Y  R E A D I N G

"Danish, dimana Bunda?" tanya Asha yang sudah ada di dapur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Danish, dimana Bunda?" tanya Asha yang sudah ada di dapur.

"Ada, di teras," jawab Bunda dengan tangan yang masih mengiris bawang putih.

"Kenapa nggak disuruh masuk aja Bunda?" tanya Asha lagi.

Bunda menghela nafas, menghentikan acara memotong bawangnya. "Adek, yang nyariin adek siapa tadi?"

"Danish, Bun."

"Jadi... yang harus ditemui Bunda atau Adnan?" tanya Bunda yang dijawab cengiran oleh Asha.

"Hehehe... maaf Bunda, Asha ke luar dulu Bun." Asha langsung melegang pergi meninggalkan Bundanya yang geleng-geleng kepala melihat sikap Asha.

Asha berhenti sejenak di belakang pintu. Menengok ke luar dengan takut-takut. "Tarik nafas, buang... tarik nafas lagi, buang...." ucapnya menormalkan hatinya yang sudah berdebar tidak karuan.

"Aduh! kenapa sih, hati Asha selalu deg-deggan gini kalau ketemu Danish!" kesal Asha namun tidak dipungkiri ia pun senang.

"Danish," panggil Asha pelan. Menatap punggung Adnan yang tegak dihadapanya.

Adnan membalikkan tubuhnya, tidak sengaja ia menatap manik hitam milik Asha, ia langsung beristigfar di dalam hatinya.

Adnan yang baru ingin mengucapkan maksudnya datang kerumah Asha, tapi langsung dipotong dengan pertanyaan beruntun dari Asha.

"Danish, tumben ke rumah Asha. Mau ngapain? Mau lihat ya? Hayoo... Danish kangen sama Asha ya? " tanya Asha yang masih memamerkan senyum manisnya.

"Mau nga...." ucapan Adnan kembali dipotong dengan Asha.

"Mau ketemu Asha? Danish beneran kangen sama Asha?" ujar Asha dengan pipi yang sudah bersemu malu.

Adnan menghela nafas, rasanya susah juga hanya ingin mengasih lembaran ini saja, padahal.

"Bukan."

"Kenapa bukan? kenapa nggak iya?" beo Asha membuat Adnan bingung menjawab apa.

"Iya... bukan."

Asha menyebbikkan bibirnya kesal. "Terus, Danish mau apa kerumah Asha?" tanya Asha kesal.

Adnan memilih langsung mengeluarkan selembaran kertas putih di hadapan Asha. "Hanya ingin mengasih ini," ujar Adnan to the point.

Asha dengan ragu mengambil selembaran itu dari tangan Adnan. Sebelum membuka ia menatap kembali Adnan, jujur Asha belum paham.

Ini kertas apa? lalu kenapa Adnan memberinya ini? Apakah ini surat cinta? Mengapa tidak langsung bilang saja. Jika benar ini surat cinta untuk Asha.

New Changes ( SELESAI ) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang