15. Join Us

22 7 0
                                        

Aku dan Letta G ternganga dengan kehadirannya disini. Baru saja jadi topik pembicaraan, sekarang ia muncul di depan kami.

Aku maupun Letta G tidak dapat berkata, membuat keheningan di lorong yang sepi ini. Ray menatapku dan Letta dengan mata hitamnya bergantian sembari mengangkat sudut bibir seolah meminta jawaban. Namun ia sadar aku maupun Letta kehilangan kata-kata.

Melihat kegugupan kami, Ray terkekeh dan mengeluarkan handphone bercasing kuningnya, setelah mengetuk dan menggeser beberapa kali, ia menunjukan layar handphonenya ke depan wajah kami. Ia baru saja mentransfer 5 juta ke rekening Letta.

"OH MY GAWD!", seru Letta sangat nyaring, bergema ke seluruh penjuru sekolah, namun Ray segera meletakan telunjuk di depan bibirnya, "Shhh! Jangan berisik!"

Letta mengangguk-ngangguk mengulum bibirnya penuh semangat, kacamatanya sampai hampir jatuh.

"Siap bos!", ia salute ke Ray, sebelum menyatukan jempol telunjuk dan menyeretnya dari sudut bibir ke sudut lain, mengisyaratkan kalau ia akan diam tentang ini. Ray tersenyum dengan ini, kemudian mengajakku, "Ayo, cil. Gue ada mau ngomong sesuatu ke lu".

Setelah itu, aku membuntutinya dari belakang, mau berapa kalipun ia menarikku untuk jalan sejajar, aku tetap akan mundur sampai ia pasrah dan membiarkanku jalan dibelakangnya. Dia membawaku entah kemana. Awalnya kukira kita mau berbicara di lounge, tapi rupanya dia mengajakku ke sudut sekolah yang sepi. Mungkin agar ia tidak malu berbicara denganku.

Kami berdiri di bawah pohon pinus yang wangi dan rindang. Setelah memastikan tidak ada orang, Ray menoleh kepadaku.

"Cecil. Ikut tampil ya", ajaknya langsung ke inti.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, tidak percaya dengan ajakannya,

"A-apa?!", pekikku panik.

"Iya. Lu ikut tampil! Jadi penutupan. Suara lu kan manis nih, jadi cocok sama lagu mellow yang bikin tenang gitu", ajaknya namun sekaligus membuatku malu. Mulutku terbuka walaupun tidak bisa berkata,

"A-A",

"Maukan? Oiya ini LINE-ku", dia mengeluarkan handphone mahalnya sekali lagi dan mendekat, membuatku terkesiap dengan wajah merah. Perlahan, aku mengeluarkan handphone lama dari saku blazerku, kemudian membukan LINE dan menekan add friend. Sialnya kakak kelas ini semakin mendekat dan menunduk. Tubuhnya yang tinggi berlawanan denganku yang agak pendek.

Astaga jaraknya dekat sekali. Aku bahkan bisa mencium bau shampoo menthol dari rambutnya. Dan wanginya ini...khas. Beda dengan Jackie yang berbau Matcha, dia ini...wangi...wangi apa ya aku tidak bisa menjelaskan.

"Nah, udah", senyumnya mundur dan melihat-lihat handphonenya sendiri, ia terlihat seperti tersenyum puas.

Aku malu sekali....jantungku seperti mau meledak kapan saja. Entahlah rasanya berbeda jika bersama Ray. Ma-maksudnya bukan aku suka, hanya saja aku bisa merasakan perbedaan yang membuatku semakin ciut. Rasanya dia adalah raja dan aku hanyalah pengemis jalanan.

"Jadi nanti sore kita mulai latihan. Kita mau liat dulu nyanyi kamu gimana, biar bisa coco-",
"Maaf kak...aku menolak",

Penolakanku membuat ocehan rencana-rencana Ray terhenti. Matanya mendadak membulat dan suaranya langsung digantikan keheningan seperti audio yang di pause. Bahkan suara angin berhembus bisa terdengar.

Pria berambut hitam segelap malam ini mengerjapkan matanya dengan bibir terbuka,
"What?"

"I-iya..aku seharusnya menolak lebih cepat tapi...", aku berbicara sembari mengusap tanganku sendiri karena gugup, "Aku gugup dan aku rasa aku gabisa tampil di panggung...depan orang serame itu. Ah kalo kakak mau, aku bisa delete kontak kakak, dan kakak boleh delete kontak aku"

MATRYOSHKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang