FOLLOW DULU SEBELUM BACA
"Aku tidak senang berbagi, Trisha."
"Kau senang, Yoon? Oh tentu! Kau, kan, tidak punya hati! Bajingan sepertimu memang suka melihat orang menderita."
Menghindar dari Park Jimin dan terjebak di dalam kukungan Min Yoongi. Mung...
Di komen ya sayangku. Banyak2 biar aku senang dan semangat ngetiknya. Di vote juga
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aduh capeknya dengan Park Jimin! Ada aja tingkahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kiw kiw
Enjoy
.
.
"Trisha!"
"Trisha berhenti!"
"Berhenti atau kusebar videomu saat ini juga!"
Langkah kaki Trisha sontak terhenti. Dengan kasar ia membalik tubuh dan mendongak menatap Jimin yang sudah menjulang di depan mata. Kerutan di dahinya semakin dalam, sorot mata semakin tajam dan birai mencebik tidak suka. "Apa?!"
"Putuskan Yoongi," pinta Jimin. Berusaha memegang kedua bahu Trisha walau berakhir dengan tepisan kasar. "Putuskan dia. Sekarang juga."
"Berhenti, Jim!"
Jimin menghembuskan napas berat selepas Trisha memekik di depan wajahnya. Suaranya menggema memenuhi koridor lantai enam. Kepala Jimin semakin pening dan hatinya semakin memanas.