Outro 0.2 Love

1K 91 20
                                        

Jangan lupa vote dan komen!

Kita sudah sampai di penghujung. Tolong tinggalkan pesan dan kesannya, ya!

Aku ga tau apakah endingnya sesuai dengan apa yang kalian kira, atau barangkali mengecewakan kalian. Jadi, sebelum kalian baca endingnya, aku mau minta maaf dulu. Aku harap kalian suka sama endingnya sepenuh hati.

Oiya, divote ya biar aku tahu siapa saja yang baca sampai sini.

Pesan kesannya jangan lupa ya!

Pesan kesannya jangan lupa ya!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Enjoy

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Enjoy

.

.

Denting tipis yang terbentuk dari pintu besi yang tertutup berikut dengan suara kursi yang ditarik untuk diduduki membuat gigitan pada birai bawah semakin menguat. Belum lagi dengan tambahan denting samar dari rantai tipis penyambung antara dua bulatan yang mengekang gerak kedua lengan. Kepala tidak diangkat saat memasuki ruang besuk, helaian surai dibiarkan menutupi pandangan bersamaan yang birai yang terkatup tanpa paksa.

Satu malam mendekam di penjara dengan keluhan dari penjaga yang  mengatakan bahwa bekal makanan tak tersentuh sama sekali membuat dua insan berpakaian rapi dengan warna nyaris senada itu menghela napas iba sekaligus pasrah. Pribadi di balik kaca tipis dengan bolongan di tengah itu terlihat pucat. Lingkar hitam di sepasang mata semakin terlihat jelas dengan beberapa bekas kotoran debu yang melekat pada sisi-sisi wajah. Surai yang terlihat lepek dan acak-acakan bersamaan dengan baju seragam yang dipakai seadanya membuat semakin terlihat menyedihkan.

Semalam mendekam di penjara saja Park Jimin sudah semengerikan ini, apa kabar untuk masa hukuman yang bertahun-tahun lamanya?

"Jimin."

Jimin tidak mengangkat kepalanya saat desah suara Trisha memanggil lirih, namun netranya jelas terangkat untuk melihat dari balik tirai rambutnya. Pandangannya terlihat tenang seperti biasa. Tidak terkesan kosong ataupun putus asa. Bahkan sudah mendekam di balik jeruji besi dengan kondisi penuh prihatin seperti ini, Trisha masih sulit untuk mengartikan tatapan Jimin. Pria itu masih terlalu pandai menyembunyikan emosi dibalik sorot tenangnya, hingga sampai detik ini pun Trisha masih merasa ditipu oleh sorot Jimin.

PALETTE✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang