36. Another Game

564 81 8
                                        

Jangan lupa divote dan dikomen!

Dikomen ya sayang. Divote juga biar aku semakin semangat!

Haha btw pusing banget Yoongi up twitter hari ini. Dan juga, update-an Yoongi beberapa hari lalu ada yang sadar ga sih kalau matanya sedikit hitam? Lelah banget sepertinya. Sayang banget!

Enjoy

.

.

"Aku menolak pertunangan ini."

Keputusan final dari Jia membuat suasana di meja makan seketika hening. Hampir seluruh pasang mata tertuju padanya kecuali sepasang mata yang kini terpejam kuat diikuti oleh dengusan marah. Atmosfir semakin menegang, nyaris seluruh anggota tubuh tidak dapat digerakkan berikut dengan napas yang tertahan saat Jia tanpa ragu membalas sepasang mata yang kini beralih menyorot tajam kepadanya.

"Pertunangan akan tetap dilanjutkan. Maaf sudah mengacaukan, Tuan Park." Pribadi berbadan tegap itu beralih bangkit dan menunduk singkat sebelum kembali duduk. Matanya tidak lepas dari Jia, barangkali berniat memberi gadis itu peringatan agar memperhatikan kalimatnya.

Tuan Park terlihat canggung, matanya melirik Jia yang kini berdecih cukup keras lalu beralih menatap Tuan Ahn—-ayah Jia. "Ah, tidak apa-apa. Lanjutkan saja makannya, tidak perlu tegang. Mungkin Jia butuh waktu—-"

"Aku tidak butuh waktu hanya untuk menolak sebuah ikatan!"

"AHN JIA!"

Beruntung keluarga Park menyewa satu lantai restoran di salah satu hotel bintang lima di kawasan Seoul, jadi tidak perlu mengkhawatirkan perdebatan ini akan menjadi konsumsi publik. Suasana semakin tegang dan hening. Bahkan seluruh pelayan restoran tersebut segera bersembunyi di balik dapur menghiraukan tugas mereka yang harus siaga jika diperlukan. Tidak ingin mendengar terlalu jauh. Pun mungkin salah satu alasannya adalah sorotan tajam yang dilemparkan oleh seorang pemuda yang kini tampak menikmati tontonan di depannya. Berbalut kemeja putih dan suit hitam, Min Yoongi tampak mengamati sinergi panas di depannya dengan sesapan tipis americano.

Jia mendengus lirih. Walau berkompromi dengan emosi, Jia sama sekali tidak menghilangkan wibawanya. Tetap tenang dengan tubuh tegap, kepala juga tidak ditolehkan, membiarkan bola matanya bermain arah. "Aku tidak mau bertunangan dengan orang yang tidak aku cintai."

"Seiring waktu kalian pasti akan saling mencintai," balas Tuan Ahn tenang. Sorotnya tidak berubah kendati dahinya sedikit berkerut.

"Omong kosong."

"JIA!"

Kali ini Jia berdecak terang-terangan sebelum berkata, "Ayah, tidak bisakah aku memutuskan jalan hidupku untuk kali ini saja? Biarkan aku memilih." Kali ini kepalanya ditolehkan menatap sang ayah. Matanya berkilat nanar kendati alis saling bertaut.

"Tidak bisa! Kau harus tetap—-"

"Tuah Ahn..." Tuan Park menarik napas sejenak saat atensi Tuan Ahn beralih ke arahnya. "Kurasa memang terlalu cepat untuk mereka berdua. Tenangkan dirimu—-kau juga Jia. Tidak perlu terburu-buru, anggap saja ini bagian dari perkenalan."

Tarikan napas Tuan Ahn membuat suasana sedikit menegang kendati berubah menjadi sedikit tenang saat pria setengah baya itu memilih memejamkan mata dan mengangguk.
Kembali menyentuh makanannya walau tidak berselera, tidak dapat dipungkiri jika sesekali Tuan Ahn melirik Jia yang kini terlihat enggan menyentuh makanannya. Putrinya itu memilih untuk menyesap minumannya tanpa membuang fokus menatap ke arah luar, tepatnya suasana langit di balik balkon. Pun atmosfir sudah terasa tenang walau rasa canggung masih sedikit menyelinap menemani denting perbaduan antara piring dan sendok logam.

PALETTE✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang