Jangan lupa vote dan komentar ya!
Aku update cepat nih! Makanya dikomentar banyak2 ya, ditanyain, ditagih. Aku suka. Semakin semangat nulisnya. Divote juga yaa sayang.
Enjoy
.
.
Ini adalah hari ke delapan dimana Trisha kembali menerima pesan dari Yoongi. Pesan dengan bunyi yang sama. Pesan dengan beberapa kata yang menghasilkan titah yang tegas. Pesan yang mampu membuat hari-hari Trisha begitu buruk akhir-akhir ini. Begitu kacau, jelas meliputi hati dan pikirannya. Terkadang Trisha memilih untuk menghilang dari keramaian dengan bersembunyi di ruang latihannya sesaat setelah menerima pesan Yoongi.
Trisha tidak ada julukan lain untuk Yoongi selain bajingan. Bajingan dengan cara yang berbeda.
Selepas Yoongi meminta maaf kepadanya tempo hari lalu, saat itu juga Yoongi nyaris mengiriminya pesan setiap pagi, siang, sore, dan malam. Bagaikan alarm. Membuat semua pertahanan Trisha hancur begitu saja dan tergantikan oleh emosi yang menyertai kejengkelan dan perasaan muak.
"Kembalilah ke rumahku dan menjauhlah dari Jimin."
Lebih kurang begitulah pesan yang Yoongi kirim sesuai jadwal yang ia tetapkan sendiri.
Bajingan itu—-Trisha tidak paham dengan apa yang dipikirkan Yoongi. Setelah meninggalkannya untuk bertunangan dengan Jia, mengusir dari rumahnya dan menyuruh untuk menetap dengan Jimin, sekarang apa? Menyuruhnya kembali untuk tinggal bersama dan menjauhi Jimin?
Tidakkah Yoongi sadar siapa yang membuat Trisha terjerat oleh tali-tali Jimin?
Kenapa orang setenang, sepintar, dan secerdik Yoongi malah bersikap labil?
Dan juga, kenapa Yoongi jadi berubah drastis seperti ini? Kesurupan?
Trisha tidak mempersalahkan kelabilan yang dimiliki Yoongi karena dasarnya itu adalah sesuatu yang normal, manusiawi. Tetapi, menarik-ulur seluruh perasaan Trisha seperti saat ini? Trisha benar-benar merasa dipermainkan. Sangat. Teramat. Trisha marah. Sangat marah sampai rasanya ia ingin melepaskan segala sumpah serapah kepada Yoongi berikut dengan mengabsen seluruh penghuni kebun binatang.
Seperti saat ini, Haera berdiri di depan Trisha yang kini duduk bersandar pada cermin yang mengisi satu sisi dinding dengan berkacak pinggang. Menunduk menatap Trisha sembari menghela napas berat.
"Kali ini ia memaksaku untuk membujukmu agar kembali tinggal dengannya. Sedikit kemajuan dibanding menyuruhmu merespons pesan-pesan dan panggilannya," adu Haera setelah menatapi Trisha cukup lama. "Astaga! Hubungan kalian benar-benar rumit, ya. Bikin gila!"
Trisha mendengus dalam posisinya. Ia berdecak pelan dan mengangkat kepalanya menatap Haera. "Katakan padanya aku tidak mau. Bahkan bertemu dengan puncak hidungnya saja tidak mau."
"Sudah, Trisha, sudah!" Suara Haera terdengar jengah. Gadis itu menghembuskan napas cukup kuat lantas menggerutu, "Dia kenapa, sih? Wah aku benar-benar tidak paham dengan jalan pemikirannya."
"Memangnya apa yang terjadi sebelum dia meminta maaf padamu?" tanya Haera saat Trisha tidak membalas gerutuannya.
Trisha mengerjap tidak habis pikir diikuti oleh hembusan napas. "Aku juga tidak tahu, Hae. Semuanya seperti biasa dengan dia yang bersikap dingin padaku." Trisha menyugar rambutnya sejenak sebelum merubah posisi duduknya yang tadi memeluk kedua lutut menjadi bersila. "Lalu tiba-tiba aku dan dia bertemu di kafe seberang dan dia meminta maaf setelah itu ya seperti sekarang."
"Memang membingungkan."
"Bajingan itu, aku tidak tahu lagi harus berkata apa," sahut Trisha.
"Memang benar-benar bersikap dingin? Mendadak seperti itu?" Haera memastikan. Barangkali sedikit tidak percaya kenapa akhir-akhir ini Yoongi selalu mendatanginya ke meja resepsionis untuk meminta tolong agar menemui Trisha dengan menitipkan pesan-pesannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PALETTE✔
FanfictionFOLLOW DULU SEBELUM BACA "Aku tidak senang berbagi, Trisha." "Kau senang, Yoon? Oh tentu! Kau, kan, tidak punya hati! Bajingan sepertimu memang suka melihat orang menderita." Menghindar dari Park Jimin dan terjebak di dalam kukungan Min Yoongi. Mung...
