35. Konversasi

600 81 5
                                        

Jangan lupa vote dan komen ya!

Divote dan dikomen ya sayang-sayangku.

Divote dan dikomen ya sayang-sayangku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ahn Jia!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ahn Jia!

Enjoy.

.

.

Kepulan asap dari kopi beraroma manis memenuhi indra penciuman gadis yang kini sibuk berkelana di dalam dunia komputer di depannya. Sesekali mengetuk ujung kuku yang dipoles pewarna merah maroon pada sisi meja dengan kening berlipat empat. Tidak terhitung berapa kali rambut sebatas pinggang itu disugar gusar, desahan napas lelah juga tak jarang hadir sebagai bentuk rasa jengah. Tak lupa sepasang mata yang dilindungi oleh kacamata berbingkai tipis yang sesekali didorong singkat saat nyaris jatuh dari batang hidung.

Obsidian jernih campuran Turki itu berpendar menatapi langit yang berjarak cukup dekat dengan lantai yang kini disinggahi. Lantas beralih menatap gedung yang memiliki tinggi yang nyaris sama dengan gedungnya saat ini, memperhatikan bagaimana kaca tebal itu memperlihatkan lalu-lalang karyawan yang sibuk membawa berkas dari satu tempat ke tempat lain. 

Matahari baru saja memanjati tangga langit tertinggi. Sinarnya cukup terang hingga menciptakan pantulan berwarna pelangi di beberapa sisi kaca. Pribadi itu menghela napas, tangannya meraih segelas kopi di dekatnya lantas disesap pelan. Dering ponsel tidak digugah walau telinganya berderik samar. Dibiarkan begitu saja dengan birai yang sibuk mengecap cairan kopi hingga suasana kembali hening digantikan oleh deru mesin pendingin. Suasana hatinya sedang tidak baik, dibalik polesan make-up, lingkaran hitam pada matanya memijak teritori begitu setia. Hingga pada akhirnya untuk kesekian kalinya ponselnya kembali berdering.

"Batalkan semua rapat hari ini!" titahnya tegas. 

Sekretarisnya yang nyaris  mengucapkan sepatah kata sapaan itu memilih bungkam dan tanpa panjang lebar mengikuti perintahnya. 

Pribadi itu berdecak. Tubuhnya dilempar pada kursi kerjanya pasrah. Sulit menata rambut, kini surai hitam pekat menyentuh pinggang itu dibiarkan berantakan bahkan nyaris menutupi wajahnya. Gincu merah menantang yang digunakannya pagi ini menyelimuti garis lurus birainya hingga menambah kesan harimau galak di rautnya. Tidak ada perubahan ekspresi semenjak ia menginjakkan kaki di ruang kerjanya ini. Sorot tajamnya terus bertahan tanpa sungkan.

PALETTE✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang