Untungnya Kanaka sudah tak bersikeras lagi untuk memaksa Sienna menjadi wakilnya. Bagaimana tidak, syarat yang diminta gadis itu mustahil untuk dituruti. Mencari keberadaan abang Sienna sama halnya dengan mencari ibu kandung Kanaka, yang dia sendiri belum berhasil menemukannya sampai detik ini.
Di antara banyaknya perbedaan antara mereka berdua, ada satu yang menunjukkan bahwa mereka memiliki nasib yang sama. Mereka sama-sama kehilangan seseorang. Meski Sienna ditinggalkan dengan cara berbeda, namun sama perihnya. Kanaka ditinggalkan di Panti Asuhan oleh ibunya, sedangkan abang Sienna dinyatakan meninggal setelah hilang saat bertugas menjaga perbatasan. Peristiwa duka itu terjadi ketiga Sienna masih duduk di bangku SMP, tepatnya enam tahun yang lalu.
Kanaka tak pernah tahu bahwa ternyata Sienna masih belum bisa menerima kenyataan, namun tak mengherankan karena jasad Niko tak pernah ditemukan sampai sekarang. Kanaka memaklumi jika Sienna masih mengharapkan bisa bertemu dengan Niko lagi sebelum dia benar-benar melihat jasad abangnya itu dengan kedua matanya sendiri. Namun tentu saja, Sienna tak mengharapkan bertemu dengan Sang Prajurit dalam keadaan tak bernyawa.
Akhirnya Kanaka menyadari apa maksud perkataan Sienna malam itu. "Selagi lo masih punya kesempatan untuk ketemu sama mereka, maka manfaatkanlah kesempatan itu. Lo nggak akan tahu gimana rasanya saat lo sama sekali nggak punya kesempatan buat ketemu orang yang lo rindukan, tapi gue tahu, rasanya menyesakkan." Siapa sangka bahwa Sienna selama ini diam-diam memendam sesak sendiri?
Kanaka tahu betapa Niko sangat berharga bagi Sienna, begitu juga sebaliknya. Nikolah sosok laki-laki yang memperlakukan Sienna seperti Ratu, menyayanginya dengan segenap hati, selalu mengalah untuk adik perempuannya itu tanpa paksaan, selalu membela Sienna saat dia bertengkar dengan si bungsu, selalu tahu bagaimana caranya menjinakkan Sienna setiap kali dia mengamuk. Selain menjadi seorang abang idaman, Niko juga anak yang berbakti kepada orang tuanya. Berbeda dengan Sienna yang sering menentang Sang Ayah, Niko berusaha menuruti perintah Ayahnya meski dengan berat hati. Bahkan menjadi seorang Angkatan Laut bukanlah impian Niko, namun dia tetap menuruti apa yang Ayahnya inginkan.
Kanakapun sadar alasan Tiara selalu menghubunginya untuk memastikan bahwa Sienna baik-baik saja adalah karena dia tak mau kehilangan anaknya lagi. Maka dari itu, meskipun Kanaka selalu berlagak kesal dan dingin di depan Sienna, dia tetap memperhatikan perempuan itu.
"Apaan nih?" Sienna mengernyitkan keningnya menatap kotak bekal yang Kanaka dorong ke arahnya. "Sarapan gue bahkan belum habis."
"Bekal, untuk makan siang." Kanaka bangkit setelah menghabiskan nasi gorengnya.
Sienna mendengus. "Sogokan?"
"Bukan," jawab Kanaka tanpa mengatakan yang sebenarnya bahwa dia melakukan itu untuk sedikit menghibur Sienna. "Untuk makan siang lo, dimakan sendiri."
"Tapi gue biasanya makan bareng Luka."
"Hari ini makan sendiri." Kanaka sedikit menekan suaranya sambil meletakkan piring yang sudah ia cuci ke rak piring dengan sidikit hentakan. "Gue buatin itu buat lo, bukan buat Luka."
"Emang lo buatin apa sih?" Sienna mencoba membuka tutup tupperware itu, namun Kanaka buru-buru menyela sambil menahan tangannya. "Bukanya pas makan siang!"
"Apaan sih? Cuma liat dong!" Sienna masih berusaha membuka kotak bekal itu meski tangan Kanaka masih berada di atas tangannya. "Nggak usah sok surprise deh! Tau-tau di dalamnya ada uang satu juta buat nyuap gue!"
"Emang lo semurah itu?!" Kanaka masih tak mau melepaskan tangannya. "Lo itu berharga, lebih dari sekedar nilai."
Setelah mengatakan itu, Kanaka buru-buru berseru. "Lagian, tahan bentar sampe makan siang doang masa nggak bisa?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Adaptasi
Ficção Adolescente[vseulkook au] Hal seklise 'benci jadi cinta' tak akan pernah terjadi di antara Sienna dan Kanaka, mereka sendiri yang menjamin itu. Kebalikan dari Romeo dan Juliet yang saling mencintai namun tidak mendapat restu, mereka justru saling membenci namu...
