Adaptasi #23

553 104 106
                                        

Luka sengaja menjaga tempat duduk di sebelahnya untuk tetap kosong agar Sienna bisa duduk di sana. Setelah Sienna meminta untuk tidak dijemput karena ada hal yang harus dia kerjakan terlebih dulu, Luka hanya bisa menunggu kedatangan perempuan itu di kelas. Namun saat Dosen sudah datang dan tempat yang Luka jaga sudah diambil orang lain, Sienna tak kunjung menunjukkan keberadaannya bahkan sampai kelas pagi ini selesai.

"Untuk tugas projek yang saya jelaskan tadi, bisa dikerjakan dengan membentuk kelompok beranggotakan dua orang ya." Dosen laki-laki yang sebelumnya pernah memarahi Sienna itu kemudian menatap Luka. "Dan Mas Luka, mungkin saya minta tolong untuk membantu Mba Sienna ya. Mungkin tugasnya bisa kalian kerjakan bersama dengan metode daring, atau mungkin sebagai laki-lakinya, kamu bisa menyusulnya ke kampung halamannya."

Luka tak begitu mengerti dengan ucapan laki-laki paruh baya yang sepertinya sedang bercanda itu, sehingga di saat teman-teman kelasnya tertawa, Luka hanya mengernyit tak mengerti. "Maksud Bapak?"

"Mba Sienna ijin nggak masuk kuliah untuk beberapa hari ke depan, sepertinya ada masalah keluarga yang mengharuskannya untuk pulang," jelas laki-laki itu yang sontak membuat Luka terkejut. "Dan dikarenakan sebelumnya Mba Sienna sudah dapat peringatan dari saya, jadi saya minta tolong kamu membantunya agar dia tidak mengulang mata kuliah saya."

"Dan walaupun Mba Sienna-nya lagi pulang, tetap semangat ya Mas Luka." Laki-laki itu berucap tulus, Luka jadi ragu kalau dia berbohong. "Hari ini debat calon presma wapresma kan?"

Masih belum bisa percaya, Luka langsung memeriksa ponselnya begitu kelas itu usai. Sambil memelankan langkahnya di koridor, laki-laki itu membuka aplikasi whatsapp dan panggilan masuk dan tak menemukan tanda apapun dari Sienna. Luka tak mengerti. Kalau yang dikatakan dosennya memang benar, lantas kenapa Sienna tidak mengabarinya?

Tak mau berprasangka lagi, Luka langsung menghubungi perempuan itu lebih dulu. Langkah kaki Luka semakin bergerak cepat seiring deringan, jantungnya juga memburu cepat karena Sienna tak menjawab panggilannya sampai deringan itu berakhir. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Luka tak putus asa, dia kembali melakukan panggilan dan tak akan berhenti sebelum Sienna menjawabnya. Langkah kaki Luka yang sekarang sudah berubah menjadi berlari, membawanya menuju satu-satunya orang yang dia berharap bisa menjawab pertanyaannya tentang Sienna walaupun dia benci untuk bertanya pada orang itu.

"Dimana Kanaka?" dengan napas yang ngos-ngosan, kalimat itu adalah yang pertama kali keluar dari mulut Luka begitu melihat Dino keluar dari kelas yang memang biasa digunakan anak sipil.

Kening Dino mengernyit bingung, ada ekspresi heran dan sedikit simpati di wajahnya menatap Luka di hadapannya saat ini. "Lo lari ke sini cuma buat nanyain Kanaka?"

"Naksir Kanaka lo sekarang?" celetuk Dino yang hanya mendapatkan tatapan tajam dari Luka yang masih berusaha mengatur napasnya.

"Lo tahu sekarang Sienna dimana?" Luka langsung merubah pertanyaannya.

"Lah, kok tanya gue? Kan lo yang sekelas sama dia, emangnya dia nggak masuk?"

Luka menghela napas berat. "Pak Wira bilang, Sienna pulang kampung."

Dino langsung dibuat melotot. "HAH?!"

Luka sudah membuka mulutnya untuk melanjutkan omongannya, namun tubuh Dino yang berdiri di depan pintu tiba-tiba di dorong sampai dia hampir terjungkak ke lantai. Kemudian Kanaka muncul dari belakang cowok itu, dan langsung berlari pergi tanpa menoleh sedikitpun pada Luka yang terkejut dengan yang barusan terjadi.

"Sial!" Luka mendesis kesal, lantas berlari mengikuti Kanaka tanpa mempedulikan napasnya karena dia tahu cowok itu pasti akan mencari Sienna juga.

AdaptasiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang