Sienna menundukkan kepala dan menutup matanya dengan kedua tangan saat ia merasa ingin menangis setelah Kanaka memberinya kesempatan untuk tidak membiarkannya pergi kalau memang itu yang Sienna mau. Padahal seluruh dunia juga tahu, tak ada siapapun yang punya hak untuk memutuskan hal itu selain Kanaka sendiri. Namun sekarang, satu-satunya orang yang mempunyai hak atas dirinya sendiri justru memberikan hak tersebut pada seorang perempuan yang membuatnya berhasil meninggalkan sisi keegoisannya.
"Kenapa sih...." Sienna mulai sesegukan. "Perempuan harus disuruh milih?"
Kanaka yang sejak awal sudah memutuskan untuk menyikapi Sienna dengan santai karena ia tahu perempuan itu pasti akan menangis, langsung terkekeh mendengar rengekan Sienna.
"Karena sekarang lo nggak bisa milih dua-duanya." ucap Kanaka sambil menghapus air mata Sienna. "Jadi lo harus pilih satu, dengan sangat-sangat jujur. Gue akan terima apapun pilihan lo."
"Kenapa harus nanya gue sih? Lo kalo mau pergi ya pergi aja sana, nggak usah mikirin gue," Sienna menurunkan tangan Kanaka dari pipinya. "Kalo lo nanya gini, yang ada gue jadi makin bingung dan makin susah."
"Apanya yang susah, hm?"
"Susah buat jujur." Sienna menatap lekat kedua mata Kanaka yang dari tadi menatapnya lembut. "Gue nggak mau lo pergi."
Mendengar Sienna yang akhirnya memberi jawaban, Kanaka lantas tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil mengelus puncak kepala Sienna. "Kalo gitu gue nggak akan pergi."
Bukannya merasa senang, Sienna justru mendengus sambil menarik tangan Kanaka dari kepalanya lalu mengigitnya dengan gemas.
"Aw!" Kanaka melotot setengah kaget setengah heran. "Kenapa sih? Kok gue digigit?"
"Lo tuh yang kenapa!" Sienna sedikit memekik. "Waktu itu lo yang bilang sendiri kalo lo nggak akan pergi. Terus sekarang kenapa jadi gue yang seolah nahan lo supaya nggak pergi?"
"Waktu itu gue cuma mikirin lo, kalo sekarang udah ada keluarga gue yang jadi pertimbangan juga."
"Emang gue bukan keluarga lo juga?"
"Bukan. Untuk sekarang bukan. Tapi kalo nanti gue jadi pergi, terus beberapa tahun kemudian gue balik lagi, nah setelah itu kita baru bisa jadi keluarga."
"Maksud?" tanya Sienna dengan raut wajah setengah kesal dan setengah bingung.
"Nanti, empat atau lima tahun lagi, gue buat kita berdua jadi keluarga beneran. Itu pun kalo lo mau sih, eh enggak, harus mau. Soalnya gue udah nggak ada pilihan lain selain lo."
Sienna semakin mengernyitkan keningnya. "Lo ngomong apa sih?"
"Nanti lo juga ngerti." Kanaka tersenyum puas. "Sekarang gue tanya sekali lagi deh, lo mau gue pergi atau tetap di sini?"
"Udah gue jawab kan tadi? Gue nggak mau lo pergi." ucap Sienna. "Tapi gue juga nggak mau jadi alasan lo nggak bisa pergi. Walaupun lo bilang lo akan ngelakuin apapun yang gue mau, tapi gue nggak mau lo begitu."
"Jadi?"
"Gue nggak papa kalo lo pergi. Urusan bisa atau nggaknya gue nanti tanpa lo, itu urusan nanti. Gue baru bisa tahu kalo lo udah pergi."
"Kalo ternyata nggak bisa?"
"Akan tetap gue hadapi walau sambil nangis."
Kanaka lagi-lagi dibuat tergelak karena ucapan Sienna.
"Lo pasti bisa." ucap Kanaka sambil menatap Sienna lekat. "Cuma empat atau lima tahun kok."
Sienna menghela napas berat. "Kenapa ya, gue telat banget nyadar kalo ternyata lo sepenting itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Adaptasi
Teen Fiction[vseulkook au] Hal seklise 'benci jadi cinta' tak akan pernah terjadi di antara Sienna dan Kanaka, mereka sendiri yang menjamin itu. Kebalikan dari Romeo dan Juliet yang saling mencintai namun tidak mendapat restu, mereka justru saling membenci namu...
