Adaptasi #46

93 16 9
                                        

Sienna tersenyum puas saat melihat Ucup menangis di pelukan ibunya karena Niko melarangnya ikut bersama mereka. Perempuan itu bahkan dengan sengaja menjulurkan lidahnya mengejek keponakannya itu sambil memeluk Niko. Kelakuannya yang kekanakan itu membuat Raya dan Tiara tertawa, sedangkan Beni dan Nano menunjukkan ekspresi berbeda. Beni dengan sigap langsung membujuk cucunya, sedangkan Nano mengadu sambil memeluk ibunya.

"Bunda, Kak Nana nggak bolehin aku ikut!" Nano merengek, mencebikkan bibirnya seperti anak kecil.

"Emang. Wleeee!" Sienna semakin memeluk abangnya, bergantian mengejek adik dan keponakannya.

"Bunda!" "Ibu!" Sienna tertawa puas mendapati dua anak itu menangis tantrum.

Melihat anak dan cucunya pundung, Beni langsung menegur anak perempuan sematawayangnya itu. "Nana! Udah godain adek sama anaknya, kamu tuh udah tua bukan jamannya lagi jahil!"

Sienna cemberut, namun ia masih belum kehabisan ide untuk mengganggu Nano dan Ucup. Dipeluknya Niko makin erat, kepalanya ia senderkan di sisi Niko dengan manja. "Abang, Ayah marahin Nana!"

"Iiih! Itu ayah Ucup!"

"Kak Nana nggak sayang aku lagi, Bunda." tangisan Nano semakin keras, bahkan lebih kencang dari Ucup. "Udah ada Bang Niko, Kak Nana udah nggak butuh aku lagi. Aku... aku kan emang nggak disayang kalo ada Abang. Aku cuma anak kecil, Kak Nana nggak mau main sama anak kecil. Mereka dari dulu selalu tinggalin aku, cuma mau main Bang Naka sama Bang Arvi aja. Aku ditinggal sendiri."

"Nana...," kali ini Tiara yang menegur Sienna setelah dibuat hampir heran dengan kelakuan Nano yang tiba-tiba sangat clingy. "Biarin adeknya ikut ya."

Sienna mendengus, melepaskan pelukannya dari Niko dan menarik tangan adiknya itu dari sang bunda. "Ayo!"

Nano masih sesenggukan, menyeka hidungnya yang berair. Namun ia sudah cukup tenang karena Sienna akhirnya mau mengajaknya.

"Ucup juga! Ucup juga mau ikut!"

Baru saja Sienna mau memarahi keponakannya itu, Niko sudah berlutut di hadapan Ucup dan menghapus air matanya.

"Mas tinggal sebentar ya, Nak? Udah malam, Mas kan besok sekolah, jam 6 udah harus bangun kan?" Niko berucap lembut, tersenyum menenangkan anak laki-lakinya. "Ayah mau temenin Onty Nana dulu, cuma sebentar aja kok."

Niko kemudian berbisik ke telinga Ucup. "Onty Nana katanya kangen sama Ayah. Mas kalo misalnya kangen sama orang, terus nggak bisa ketemu, Mas sedih nggak?"

Ucup mengangguk.

"Mas mau Onty Nana sedih?"

Ucup menggeleng. "Nggak mau. Onty Nana nggak boleh sedih, tapi...tapi Mas sedih kalo Ayah pergi..."

Niko tersenyum lembut, mengusap pipi tembam Ucup dengan gerakan penuh sayang. "Kan cuma sebentar. Mas nggak ketemu Ayah cuma sebentar, tapi Onty Nana cuma bisa ketemu Ayah sebentar."

"Sebentar aja ya?" kali ini anak TK itu mencoba bernegosiasi. "Terus besok ke sekolah, Mas mau dianterin Ayah."

"Iya, Mas Ucup. Besok Ayah yang antar dan jemput, pulang sekolah kita makan bakso, oke?"

"Oke!" seru Ucup sambil menyeka hidungnya. "Tapi berdua aja ya?"

"Terus Ibu gimana?" Raya berpura-pura kecewa. "Adek Anin?"

"Opa sama Oma juga nggak diajak nih?" tanya Beni sambil merangkul istrinya.

Nano yang tangannya masih digenggam Nana juga tak mau kalah, menatap keponakannya dengan mata yang masih basah dan suara serak. "Ongkel?"

AdaptasiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang