Adaptasi #45

323 26 12
                                        

Matahari sudah lumayan tinggi saat Sienna membuka matanya. Sinar kekuningan menerangi seisi kamar, masuk dari sela-sela tirai dan memantul ke lantai. Butuh waktu cukup lama untuk Sienna menyadari bahwa dia terbangun bukan di kamarnya. Kedua mata Sienna langsung melebar sempurna saat ingatan tentang pesta alkohol tadi malam memenuhi isi kepalanya. Khawatir dirinya terjatuh ke dalam hubungan cinta satu malam selama ia tidak sadarkan diri, Sienna langsung memeriksa keadaan tubuhnya di balik selimut dan langsung bernafas lega saat melihat dirinya masih mengenakan pakaian lengkap.

Sienna memutar tubuhnya ke kanan dan menemukan Kanaka sedang tidur dengan punggung menghadapnya. Ingatan Sienna malam itu kembali terputar di kepalanya.

"Lo ngapain di sini?" Sienna ingat betul bagaimana Kanaka melototi dirinya yang sudah berada di atas tempat tidurnya begitu ia selesai mandi malam itu. Dengan cepat, laki-laki itu langsung memakai baju yang ia ambil sembarangan dari lemari.

"Malam ini gue mau tidur di sini." Sienna justru menjawab dengan sangat santai. Posisinya tiduran menghadap ke samping dengan tangan menopang kepala dan mata yang tertuju pada Kanaka.

Kedua mata Kanaka semakin melebar. "Hah?"

"Gue mau tidur sama lo."

"Udah gila? Sana tidur di kamar sendiri!"

"Mau tidur sama Naka."

Kanaka menghela napas sambil berjalan mendekati Sienna, kemudian ia langsung mengangkat tubuh perempuan itu dan membawanya keluar dari kamarnya.

"Nggak mau! Mau tidur sama Naka!" Sienna langsung memberontak dengan tangan yang sudah melingkar di leher Kanaka karena ia tetap khawatir akan terjatuh. "Naka kenapa sih nggak mau tidur sama gue? Katanya nggak marah!"

"Lo mabuk." Kanaka menjawab dengan tenang. "Gue nggak mau waktu lo bangun nanti, lo nyesel sendiri."

"Nyesel kenapa? Kan cuma tidur, nggak macem-macem." Sienna menatap lekat sosok Kanaka yang sudah membaringkannya di atas kasurnya, tetapi ia masih enggan untuk melepaskan tangannya dari leher laki-laki itu.

Napas Kanaka tercekat, pipinya memerah sampai ke telinga. "L-lepasin tangan lo."

"Nggak mau tidur sendiri lagi malam ini." Sienna mendekatkan tubuhnya menjadi memeluk Kanaka. "Mau ditemenin sama Naka."

"Lo nggak akan sendiri lagi malam ini. Gue nggak kemana-mana, ada di kamar."

Sienna menggeleng sambil mengeratkan pelukannya seolah tak mau terpisahkan. "Malam ini aja, gue mau tidur sama Naka. Boleh, ya? Hm? Boleh, ya, Ka?"

Sial. Kanaka memejamkan matanya sambil berusaha menahan diri mati-matian. Dada mereka saling bersentuhan, dan Kanaka bisa merasakan debaran jantungnya yang dua bahkan mungkin tiga kali lebih cepat dari biasanya.

"Janji dulu sama gue." Kanaka melepaskan pelukannya, menatap Sienna lekat dengan muka yang memerah. "Besok pagi, waktu lo bangun, lo akan ingat semua pembicaraan kita malam ini. Kita tidur berdua, itu kemauan lo. Besok pagi, waktu lo lihat gue ada di samping lo, jangan marah-marah lagi kayak yang waktu itu. Janji?"

Senyum di bibir Sienna langsung merekah, kembali ia berhambur memeluk Kanaka. "Janji!"

Kanaka berdecak, kemudian mengangkat tubuh Sienna untuk dibawa kembali ke kamarnya. "Lo minum berapa banyak sih? Lo selalu se-clingy ini kalo lagi mabuk?"

AdaptasiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang