Adaptasi #47

113 14 10
                                        

Saat Sienna bilang ke Niko kalau dia kangen jajanan lokal, itu dia beneran kangen. Sienna bahkan rela ikut Niko menjemput Ucup ke sekolah dengan alasan mau beli jajanan sekolah. Nano pun tak ketinggalan, seperti yang dia bilang kemarin malam, dia mau ikut kemanapun abang dan kakaknya pergi. Jadi di sini lah tiga bersaudara itu, duduk di taman bermain yang ada di depan TK Ucup. Sienna dan Nano duduk di jungkat-jungkit sambil makan rambut nenek, sedangkan Niko duduk di ayunan.

"Bang..." Sienna menoleh pada Niko yang sedang sibuk membaca laporan bulanan showroom dan workshop mobil miliknya yang baru ia terima di ponsel.

"Mau jajan apa lagi, Nana?" Niko merogoh saku celananya untuk mengeluarkan dompet, matanya masih tak lepas dari benda pipih di tangannya. "Ini kamu pegang aja dompet Abang."

"Bukan mau jajan. Tapi nggak papa deh, aku pegang aja dompetnya." Sienna terkekeh dan menyimpan dompet milik abangnya ke saku jaketnya.

"Kak, aku mau beli minum. Mau nitip nggak?" Nano bangkit dari sisi jungkat-jungkit dengan hati-hati agar kakaknya tidak terjatuh ke belakang.

Sienna mengangguk, memberikan dompet Niko pada Nano. "Mau sarang laba-laba aja deh, tadi liat ada yang beli, kayanya enak."

"Sip."

"No, beliin Mas Ucup sarang laba-laba juga. Dia suka itu." Ucap Niko sambil menyimpan ponselnya. Nano hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya sebelum melengos pergi. Niko menolehkan kepalanya kepada Sienna yang tadi sempat memanggilnya. "Kenapa, Nana?"

Sienna menggeleng, tatapannya lurus ke arah pintu kelas Ucup. "Aku penasaran aja, ada yang ngebully Mbul aku ya?"

"Mbul?" Kening Niko mengernyit bingung. "Ucup?"

Sienna mengangguk. "Iya. Abang tahu ada anak sekolahnya yang ganggu dia? Atau mungkin dia pernah cerita?"

"Nggak ada sih, sejauh ini aman-aman aja. Kenapa kamu mikir gitu?"

"Kok dia bisa marah banget kemaren waktu aku katain gendut? Sejak kapan dia sensitif gitu? Ada yang sering ngatain dia gendut emangnya?"

"Ada aja sih, paling orang-orang yang datang ke bengkel gemes sama dia. Tapi kalo dipikir-pikir, dia baru akhir-akhir ini deh suka marah kalo dipanggil gitu." Niko mencoba mengingat-ingat. "Dulu sebelum pindah ke sini, dia nggak pernah marah kalo ada yang bilang dia gendut. Faktor perubahan lingkungan kali ya?"

"Bisa jadi sih." Sienna menggumam sambil mencoba memikirkan segala kemungkinan. "Mbul aku punya temen kan di sekolah?"

"Punya lah." Niko menjawab sedikit gemas. "Kenapa sih? Kamu mikirin apa?"

Sienna menggeleng. "Firasat aku nggak enak aja. Kayanya ada yang ngebully Mbul."

"Atas dasar apa kamu mikir gitu?" Niko ikut penasaran dan tertarik dengan topik yang Sienna bicarakan. "Emangnya Ucup terlihat bully-able?"

"Dia imut dan lucu sih, bisa jadi ada anak-anak yang rese dan suka gangguin dia."

"Kamu jadi kepikiran dia dibully setelah tadi malam liat dia tantrum banget karena dikatain gendut?"

"Iya. Dia sensitif banget. Harusnya anak sekecil dia nggak perlu mikirin itu. Ya udah kalo orang ngatain dia gendut, toh dia lucu dan menggemaskan, dan emang gendut. Dia belum di umur yang harus peduli dengan penampilan." Sienna menjelaskan. "Aku yakin ada yang gangguin Mbul aku. Mau aku labrak orangnya hari ini."

Niko tertawa ketika menyadari sesuatu. "Jadi itu alasan kamu mau ikut Abang jemput Ucup?"

"Salah satunya, alasan lainnya karena mau jajan."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 19, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AdaptasiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang