Kanaka menyeret kopornya menyusuri pedestrian yang hampir sepenuhnya terselimut salju. Kakinya kian melemah setiap ia melangkah meninggalkan gedung apartemen Sienna. Namun mau seberapa rapuh keadaan kakinya saat ini, ia tahu ia harus membawa hatinya yang sudah hancur lebur untuk pergi jauh dari tempat ini.
"Naka!"
Mungkin, kaki rapuhnya memang butuh istirahat. Ia langsung berhenti ketika mendengar namanya dipanggil oleh perempuan itu. Namun hatinya tak ingin begini, ia harus segera pergi meninggalkan tempat ini.
Kanaka mengeratkan tangannya yang menggenggam pegangan kopor. Mengabaikan hatinya yang sudah terlanjur hancur dan kakinya yang rapuh, ia berbalik dan melangkah cepat menuju Sienna yang mengejarnya. Niat awalnya ingin langsung menyerang perempuan itu dengan tantrum yang bergemuruh di dalam dadanya. Namun niatnya langsung pias setelah melihat Sienna yang mengejarnya dalam keadaan tanpa persiapan. Perempuan itu masih mengenakan baju tidur dan sandal rumahan yang nampak seperti memiliki tapak yang licin.
"Gue nggak boleh tinggal sama lo, tapi dia boleh?" Kanaka menunjuk ke arah apartemen Sienna. Suaranya masih terdengar tenang. "Jadi sebenarnya tadi lo emang lagi nunggu dia ya? Pantesan senyum lo langsung ilang waktu liat gue tadi, tahunya pas lo buka pintu yang muncul bukan si Luka tapi gue."
"Luka nggak tinggal di sini, dia cuma singgah."
"Singgah? Tapi kenapa dia kelihatan akrab banget sama lingkungan di sini? Dia bahkan sempat nyapa dan ngobrol sama security di bawah tadi." Kanaka mengatakan semua yang ia lihat saat ia turun tangga. "Ini bukan pertama kalinya dia ke sini kan? Jangan bilang, dia selalu ke sini setiap liburan, dan dia jadi alasan lo nggak pernah pulang ke rumah."
"Luka nggak ada hubungannya sama alasan kenapa gue nggak pernah pulang."
Kanaka mendengus. "Lo cuma menyangkal itu. Jadi dia emang beneran selalu ke sini."
"Ka, gue sama Luka tuh beda sama lo." Sienna menekan kalimatnya. "Tolong ngertiin itu."
"Apa yang membuat gue beda sama Luka? Karena yang ada di hati lo itu dia, dan bukan gue? Jadi itu yang membuat kami beda?" Nada suara Kanaka meninggi. "Jadi itu yang membuat lo lebih menginginkan dia untuk tinggal sama lo?"
"Gue nggak mau tinggal sama siapapun, Ka. Gue maunya sendirian. Luka sesekali ke sini cuma untuk nemenin gue karena kami sama-sama nggak bisa pulang ke rumah." Sienna mengusap lengannya yang mulai kedinginan. "Lo nggak akan ngerti karena lo nggak pernah ngerasain gimana rasanya ada di posisi gue sekarang, tapi gue nggak mau lo juga ngerasain itu."
"Gue sama sekali nggak ngerti sama apa yang lo bilang." Kanaka mendengus kesal. "Apa hubungannya pembicaraan kita sekarang sama Luka dan alasan kenapa gue nggak boleh tinggal sama lo di sini?"
"Memangnya apa sih yang mau lo cari kalo kita tinggal bareng lagi? Lo mau ngulangin dua tahun kita dulu? Itu cuma bakal berakhir sia-sia, Ka. Di akhir nanti lo bakal menyesal."
"Jadi dua tahun itu cuma penyesalan bagi lo, Na?"
"Bagi gue, iya. Karena sejak awal itu bukan yang gue mau, gue ngelakuin semua itu demi Bang Niko. Dan gue nggak mau lo nanti juga menyesal karena ngelakuin semua ini demi gue." Sienna mendekap tubuhnya yang mulai menggigil. "Dan lo kenapa jadi kayak gue sih? Lo cuma akan buang-buang waktu lo di tempat yang nanti cuma membuat lo menyesal."
KAMU SEDANG MEMBACA
Adaptasi
Teen Fiction[vseulkook au] Hal seklise 'benci jadi cinta' tak akan pernah terjadi di antara Sienna dan Kanaka, mereka sendiri yang menjamin itu. Kebalikan dari Romeo dan Juliet yang saling mencintai namun tidak mendapat restu, mereka justru saling membenci namu...
