Fase sehabis putus adalah fase yang tak ingin Sienna rasakan lagi. Bahkan setelah pulang ke rumah keluarganya, Sienna tetap merasa sedih dan menghabiskan waktunya di dalam kamar dengan cahaya yang sangat minim. Padahal baru satu kali benar-benar merasakan putus, tapi dia sudah melalui fase ini sebanyak tiga kali. Saat kali pertama, Kanaka mencoba menghiburnya dengan mengajaknya berbelanja. Kali kedua, Kanaka langsung menghubungi orang tua Sienna. Dan kali ini Sienna bertanya-tanya, apa yang akan laki-laki itu lakukan jika tahu Sienna masih sedih dan menyendiri di kamar?
Untungnya ada Nano dan Arvian yang selalu berusaha menghibur Sienna. Dua laki-laki itu pernah tiba-tiba berkunjung ke kamar Sienna dengan membawa banyak makanan dan satu set kartu uno, mengajak Sienna jogging di pagi hari, nonton di bioskop, main ke timezone, pergi ke pantai, dan banyak cara lainnya yang mereka lakukan untuk menyenangkan hati Sienna. Mereka berhasil, Sienna selalu tertawa saat menghabiskan waktu bersama mereka. Namun saat dia sendirian di kamarnya, Sienna akan kembali menangis sampai ia tertidur karena mengingat semua kenangan yang dia tinggalkan di sana.
Hari masih terlalu pagi, tetapi Sienna sudah merindukan Luka. Lantas Sienna mengambil ponselnya di atas nakas, sesuatu yang mengganjal di hatinya membuatnya nekat ingin menghubungi laki-laki itu. Menurut sudut pandangnya ini tidak adil, mereka masih sama-sama mencintai, perpisahan ini tak ada artinya dan tak akan menyelesaikan masalah. Sienna ingin kembali pada Luka. Namun saat Sienna hampir menekan tombol panggilan, kalimat ayahnya langsung menyadarkannya.
"Laki-laki yang sayang sama kamu nggak akan menyuruh kamu mencari laki-laki lain."
Sienna langsung mengunci layar ponselnya, menghela napas berat, kemudian menaruh ponselnya di bawah bantal. Sienna bertekad untuk membuang jauh niatnya untuk menghubungi Luka, setidaknya dimulai dari hari ini. Luka tak mencintainya lagi, dan Sienna harus menerima kenyataan itu. Maka ia memutuskan untuk melakukan sesuatu, sebagai tanda perdamaian dengan kesedihannya.
Sienna bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi sambil mengikat rambutnya asal. Ia mencuci muka, mengganti piyamanya menjadi pakaian olah raga, kemudian beranjak keluar dari kamarnya sebelum Nano sempat membangunkannya.
"Wih, tumben udah bangun." Nano langsung dibuat heran ketika melihat kakaknya sudah keluar dari kamar sebelum dia mengetuk pintu. "Biasanya susah banget dibangunin."
"Hari ini nggak biasa." kata Sienna. "Kakak mau jogging sendiri dulu. Kamu lanjut tidur aja, jam enam nanti kakak bangunin."
"Aku juga mau ikut jogging."
Sienna menggeleng. "Kakak tahu kamu cuma mau nemenin Kakak aja, tapi hari ini Kakak serius pengin sendiri dulu. Mending kamu lanjut tidur dari pada ngantuk di kelas nanti."
"Serius?"
Sienna mengangguk. "Iya."
"Bang Arvi juga lagi nggak bisa nemenin jogging loh, jadi nanti Kakak beneran sendiri."
"Iya, nggak papa. Malah bagus."
Nano memicingkan matanya, menatap kakaknya curiga.
"Kenapa sih? Cuma mau jogging sendiri doang loh, apa salahnya?"
"Ini joggingnya nggak sambil nangis kan?" tanya Nano. "Aku udah nggak mau denger Kakak nangis lagi ya. Kakak udah seminggu di sini tapi nggak ada satu malampun aku nggak denger Kakak nangis."
"Siapa yang nangis sih?" elak Sienna. "Suara penghuni kamar kamu kali yang kamu denger."
Nano langsung bergidig ngeri. "Ngaco ah!"
Sienna tertawa, kemudian mendorong punggung adiknya. "Sana tidur lagi. Kakak mau jogging dulu."
"Pokoknya awas ya kalo nangis lagi! Aku fotoin terus kirim fotonya ke grup komplek pake hp Bunda biar Kakak diketawain sekomplek!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Adaptasi
Teen Fiction[vseulkook au] Hal seklise 'benci jadi cinta' tak akan pernah terjadi di antara Sienna dan Kanaka, mereka sendiri yang menjamin itu. Kebalikan dari Romeo dan Juliet yang saling mencintai namun tidak mendapat restu, mereka justru saling membenci namu...
