Double up ya! Cek part 26 yang aku publish sebelum ini!
🌻🌻
Keesokan harinya adalah hari pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa, Sienna sengaja bangun lebih awal karena tak mau membuat Luka menunggu lama di hari istimewanya. Saat Sienna ke dapur, sarapan sudah tersaji di meja makan dengan menu krim sup buatan Kanaka. Sienna bingung melihat hanya ada satu porsi yang tersaji, dan Kanaka juga tak kelihatan batang hidungnya. Sienna berasumsi, barang kali cowok itu sudah pergi lebih dulu karena hari pelantikan ini juga merupakan hari besar untuk BEM.
Baru saja Sienna menyuap beberapa sendok, bel pintu rumahnya berbunyi. Sienna langsung membuka pintu dan menemukan Luka berdiri di hadapannya dalam balutan kemeja putih rapih yang dilapisi almamater kampus yang jarang sekali dia gunakan. Cowok yang sebentar lagi resmi menjadi Presma itu terlihat gagah dalam stelan formal, dan dengan rambut yang sudah ia potong lebih pendek dan rapih.
"Wow!" Sienna menatap Luka kagum dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. "You look perfect, Sir."
"Not yet," Luka mengoreksi sambil menunjukkan sebuah dasi berwarna hitam. "Kurang ini."
Sienna terkekeh setelah menyadari sesuatu. "Jadi itu alasan lo datang lebih pagi ke sini?"
Luka cengengesan dan menganggukkan kepalanya. "Pakein ya, udah lama nggak sekolah jadinya lupa cara pakenya."
"Sure." Sienna mengangguk. "Tapi gue sarapan dulu ya, keburu dingin supnya. Ayo, masuk."
Luka hanya mengangguk dan mengikuti langkah Sienna yang membawanya ke dapur. Sienna duduk di tempatnya tadi, kekasihnya duduk di hadapannya. Sambil makan Sienna memperhatikan Luka yang masih berusaha menyimpul dasi di kerahnya.
"Sini, sini. Gue bantuin." Sienna menyingkirkan sebentar mangkuk supnya setelah gemas melihat Luka terus-terusan gagal.
"Nggak papa, By. Sarapan aja dulu."
Sienna menarik kursinya mendekati Luka sehingga mereka benar-benar berhadapan tanpa terhalang meja. "Nggak papa, bentar doang kok."
"Lo udah sarapan?" Sienna mengambil alih dasi di leher Luka, mulai menyimpulnya dengan rapih.
"Belum."
"Kenapa belum?"
"Tadi buru-buru ke sini. Deg-degan banget, di rumah bawaannya gelisah terus."
Sienna tertawa mengejek. "Cie nervous."
"Iya, sekarang malah makin deg-degan. Padahal belum ngapa-ngapain." Luka tersenyum lembut menatap Sienna yang berada sangat dekat dengannya sampai aroma shampo perempuan itu tercium oleh hidungnya. "Apa karena dipakein dasi sama lo ya? Bawaannya deg-degan terus kalo dekat sama lo."
"Dih, sempat-sempatnya ngegombal! Bentar lagi resmi jadi Presiden loh, Pak!" Sienna menatap Luka dengan tatapan yang dibuat-buat tegas.
"Emang Presiden nggak boleh ngegombal?"
"Nggak tahu, tanya aja sama Pak Joko." Sienna kemudian melanjutkan, "atau sama abang lo."
Luka hanya tertawa menanggapi ucapan perempuan itu.
"Btw lagi flu ya, By? Suara lo agak beda."
"Iya, kayaknya karena kehujanan kemarin. Hidung gue jadi mampet, nggak enak banget. Nggak bisa cium bau." Sienna mendengus sebal. "Oh iya, beneran belum sarapan? Ini krim supnya kita bagi dua aja."
"Nggak papa, lo makan sendiri aja, nanti lo malah cepat lapar."
"Nggak papa, kan nanti laparnya bisa bareng, terus bisa cari makan bareng juga." Sienna memberikan sendok pada Luka. "Udah, makan aja. Lo nggak mau kelihatan lemas kan pelantikan nanti?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Adaptasi
Ficțiune adolescenți[vseulkook au] Hal seklise 'benci jadi cinta' tak akan pernah terjadi di antara Sienna dan Kanaka, mereka sendiri yang menjamin itu. Kebalikan dari Romeo dan Juliet yang saling mencintai namun tidak mendapat restu, mereka justru saling membenci namu...
