Teman

2.9K 199 16
                                        

A person whom one knows and with whom one has a bond of mutual affection, typically exclusive of family relations.

...


POV KENO ON:

Aku mencengkeram kemudi SUV hitam ini, nggak bisa jelasin sebenernya perasaan apa yang lagi ngacak-ngacak isi dadaku sekarang. Jakarta macet seperti biasa — tapi entah kenapa kemacetan ini berasa nggak ada apa-apanya dibanding jantungku yang lagi nggak karuan. Setelah bertahun-tahun terjebak di Surabaya, akhirnya aku balik ke kota yang sama dengan dia.

Terus waktu mobilku sejajar sama motor gede itu di lampu merah, duniaku kayak berhenti sebentar.

"Jiaya?"

Nama itu keluar begitu aja dari mulutku, kayak sesuatu yang udah lama numpuk dan akhirnya jebol juga. Aku noleh ke arah gadis yang duduk di boncengan motor itu. Dan di sana dia — Jiaya. Gadis kecil yang dulu bisa nangis sesenggukan cuma gara-gara es krimnya jatuh waktu kita masih SD.

Dia udah banyak berubah. Cantik. Cantik banget malah. Rambut yang dulu sering dikuncir kuda berantakan sekarang tergerai rapi meski ketutupan helm. Pipi chubby yang dulu jadi sasaran empuk cubitanku sampai dia sewot — sekarang udah tirus, keliatan lebih dewasa. Tapi matanya masih sama. Jernih. Tulus banget kayak dulu.

Berpisah waktu SD itu sakit, Ji. Kamu nggak tau berapa kali aku pengen balik cuma buat mastiin kamu baik-baik aja.

Tapi kebahagiaanku nggak bertahan lama. Pandanganku beralih ke cowok yang ngeboncengin dia. Jaket kulit hitam, motor R1M yang berisik, aura intimidatif yang nggak tanggung-tanggung. Helmnya bahkan nggak dibuka. Cuma ada keheningan dingin yang entah kenapa bikin nggak nyaman.

Waktu lampu hijau nyala dan motor itu langsung melesat, aku cuma bisa bergumam, "Siapa tuh, Ya?"

Malamnya aku nggak tahan buat nggak mampir. Bawa semua oleh-oleh Surabaya yang aku tau dia suka — Lapis Surabaya, Almond Crispy — pokoknya semua yang aku harap bisa ngebalikin memori masa kecil kita.

Mama Jeny nyambut aku hangat banget. Tapi waktu Jiaya turun dari tangga, ada sesuatu yang beda. Dia keliatan canggung. Dan belum juga sepuluh menit kita duduk, bel rumah bunyi — keras banget, kayak orangnya emang nggak ada niat sopan.

Waktu cowok itu masuk ke rumah, aku bisa ngerasain sendiri betapa matanya yang tajam itu udah nyala duluan sebelum dia ngomong apa-apa. Nggak ada basa-basi, nggak ada sopan santun. Dan dengan santainya dia ngeklaim Jiaya di depan mataku sendiri.

Aku liat Jiaya narik dia keluar dengan muka panik. Dari balik jendela ruang tamu, aku cuma bisa mastiin mereka dari kejauhan. Genta nyudutkan Jiaya di bawah lampu jalan. Tangannya bergerak pelan — nyentuh telinga Jiaya, ngerapihin rambutnya dengan cara yang... nggak bisa aku pura-pura nggak liat.

Dadaku sesak. Jiaya yang dulu selalu ngekuntit di belakangku, sekarang udah nemu seseorang yang — meski kontras banget sama dia — bisa bikin dia diam cuma dengan satu sentuhan.

"Telat ya, Ji?" bisikku sendiri, natap tumpukan oleh-oleh di meja yang tiba-tiba aja berasa nggak ada artinya.

Aku injak pedal gas pelan-pelan, biarin mobil merayap menjauh dari pagar rumah Jiaya. Di kaca spion, bayangan Genta yang berdiri pongah di bawah lampu jalan makin lama makin mengecil, tapi rasa sesak di dada ini justru makin nggak karuan.

Aku hela napas panjang, mukul kemudi pakai pangkal telapak tangan. Sial.

"Aku harus istirahat sekarang, Ken... tiba-tiba ngantuk banget."

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang