Udara malam itu lembab tapi tenang. Hening, cuma suara jangkrik dan deburan air kolam yang pelan. Jiaya kebangun tanpa alasan jelas — mungkin karena udara dingin, mungkin juga karena perasaan gak enak. Begitu nengok ke arah sofa, tempat Genta tadi duduk nonton, kosong.
Ia celingukan sebentar, lalu pelan-pelan keluar kamar. Dari jendela besar, cahaya bulan masuk, dan di ujung taman dia lihat seseorang duduk di ayunan kayu, kepala sedikit menunduk.
Genta.
Tangannya mainin bungkus rokok kosong yang udah diremas.
"Ta..." panggil Jiaya pelan.
Cowok itu nengok, kaget dikit, tapi gak ngomong apa-apa.
"Ngapain disini?" tanya Jiaya waktu udah jalan mendekat.
"Nyari angin," jawab Genta singkat.
Jiaya nyipit mata, berdiri di depan ayunan. "Apaan, jawab yang bener."
"Lagi banyak pikiran," katanya akhirnya, nada suaranya datar tapi dalam.
Jiaya diam sesaat, lalu duduk pelan di sebelahnya. Ayunan itu bunyi creak kecil waktu bergerak bareng.
"Pikiran kayak apa?"
Genta gak langsung jawab. Tatapannya lurus ke arah kolam yang mantul cahaya lampu taman.
Jiaya menoleh pelan, nadanya lebih lembut.
"Tapi emang iya sih... kamu gak pernah cerita tentang masalah kamu ke aku."
Genta masih diam beberapa detik. Dari sudut mata, Jiaya bisa lihat jemari cowok itu mengepal di atas pahanya, urat-urat tangan menegang.
"Lu tau... waktu Ijo kecelakaan itu?" katanya pelan, matanya masih ke arah kolam.
"Iya... kenapa?" Jiaya menatapnya balik, menunggu.
"Pas hari itu tepat..." Genta berhenti sebentar, menelan ludah. Suaranya terdengar serak.
"Oma meninggal, Ya."
Jiaya refleks menegakkan badan, matanya langsung membesar.
"Hah? Serius, Ta?" suaranya nyaris bergetar.
Genta cuma angguk pelan. "Ijo kecelakaan karena ngebut mau nemenin gua. Waktu itu lagi di di rumah, terus dapet kabar Ijo kecelakaan. Jadi gua gabisa ke rumah sakit buat jenguk Ijo, karena lagi ngurusin Oma." Dia ketawa kecil, tapi getir. "Lucu ya, dua kabar sekaligus. Dua-duanya nyakitin."
Jiaya menutup mulutnya, gak nyangka. Dadanya terasa sesak.
"Ta... aku—"
"Udah." Genta potong cepat, suaranya tenang tapi nyesek. "Gua gak nyalahin siapa-siapa kok. Cuma... mungkin itu alasan kenapa waktu itu gua kasar, kenapa gua ngejauh. Gua bingung, Ya. Bener-bener bingung harus nyalahin siapa."
Angin malam terasa lebih dingin, tapi Jiaya gak gerak.
"Jadi waktu kita berantem di kelas itu..." suaranya lirih banget, "kamu lagi ga baik-baik aja ya?"
Genta ngangguk pelan. Sekali lagi Jiaya cuma bisa diam, nahan air mata yang mulai ngumpul di ujung mata. Sampai akhirnya, tanpa mikir panjang, dia geser posisi duduknya, dan pelan-pelan narik kepala Genta buat nyandar di bahunya.
"Maaf ya..." katanya pelan banget, nyaris kayak bisikan.
Genta gak jawab, cuma hembus napas panjang yang berat.
Tangan Jiaya refleks ngebelai belakang kepala Genta — gerakan kecil, tapi hangat. Cuma dua orang yang akhirnya sama-sama ngerti kalau luka yang mereka simpan... selama ini berat banget buat ditanggung sendirian.
Genta akhirnya buka suara lagi, tanpa menoleh.
"Gua tuh... dari kecil, tinggal sama Oma sama Opa," katanya lirih. "Wanita yang katanya mama gua nikah lagi waktu gue masih SD. Terus... ya udah, kayaknya dia lupa kalo gua ada." Dia ketawa kecil, tapi nadanya getir banget. "Lucu ya, anaknya masih hidup, tapi dilupain kayak barang titipan."
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
