Udara pagi masih dingin, tirai kamar Jiaya bergoyang pelan karena angin laut yang nyelusup masuk lewat celah jendela. Dia melirik jam — baru jam lima kurang sepuluh.
Langit masih biru tua, tapi ada semburat oranye di ujung cakrawala.
"Kayaknya pas banget buat liat sunrise," gumamnya kecil.
Jiaya bangkit, ngerapiin hoodie tipisnya, lalu jalan ke arah kamar Risa yang ternyata masih meringkuk di kasur.
"Sa... bangun, yuk liat sunrise di pantai."
Risa cuma ngeluh tanpa buka mata. "Ngantuk, Ji... tadi malam aja udah begadang gara-gara UNO."
"Yah, sayang banget. Bagus tau katanya sunrise di sini."
"Lo aja deh. Kalo gua bangun jam segini, yang ada malah masuk angin."
Jiaya senyum tipis, terus keluar kamar. Di tangga, dia hampir tabrakan sama Rara yang ternyata udah siap, pake cardigan putih dan celana kulot.
"Oh, Kak Jiaya udah bangun juga?"
"Iya. Mau liat sunrise ke pantai, tapi Risa gak mau ikut."
Rara langsung nyengir manis. "Kalau gitu aku aja yang nemenin, ya Ka? Aku belum pernah liat sunrise di pantai langsung."
"Serius mau?"
Rara ngangguk semangat. "Serius, sekalian foto-foto juga, siapa tau bagus buat di-post."
"Deal," jawab Jiaya sambil nyengir, "yaudah, sekalian bawa minum aja, aku ambil kamera di kamar dulu."
Beberapa menit kemudian mereka berdua jalan pelan ke arah pantai, suara ombak yang pelan mulai kedengeran. Udara asin bercampur aroma embun. Jiaya melirik Rara yang melangkah di sebelahnya — tampak bahagia banget, matanya berbinar-binar setiap liat langit yang pelan-pelan berubah warna.
"Cantik ya, Ka," ucap Rara sambil senyum.
Jiaya ikut menatap horizon. "Iya... kadang yang sederhana gini justru paling bikin tenang."
Matahari mulai naik perlahan, garis tipis oranye keemasan muncul dari balik laut. Ombak berkejaran lembut di pasir, suara deburnya pelan — seolah ngajak ngobrol. Rara duduk di pasir, lututnya dipeluk, hoodie-nya sedikit kebesaran. Jiaya duduk di sebelahnya sambil memotret langit.
"Cantik banget ya," gumam Jiaya.
Rara cuma ngangguk kecil. "Kayak gak nyata, ya. Aku baru pertama kali liat langsung gini, Ka."
"Serius? Gak pernah liat sunrise di pantai sebelumnya?"
Rara menggeleng. "Enggak. Dulu aja jarang keluar rumah, paling sering liat langit dari balkon."
"Kenapa emang? Emang gak boleh keluar?"
Rara tersenyum tipis, tapi pandangannya tetap ke laut. "Bukan gak boleh... cuma aku homeschooling dari SD sampai SMP. Baru SMA ini ngerasain sekolah beneran."
Jiaya berhenti sejenak, mendengarkan.
"Wah... pasti rasanya beda banget, ya."
"Iya, awalnya aku takut banget. Aku tuh agak susah deket sama orang, apalagi cowok."
"Takut?"
"Hmm." Rara mengangguk pelan. "Karena trauma sih... entah kenapa selalu ngerasa gak nyaman aja kalau ada cowok deket. Kayak... waspada terus."
Suara ombak menelan sedikit akhir kalimatnya.
"Tapi Haje beda," lanjut Rara, matanya masih ke laut. "Entah kenapa kalau sama dia aku ngerasa aman. Dia gak maksa, gak banyak nanya, cuma... ada aja gitu. Nyaman."
Jiaya tersenyum tipis sambil menatapnya. "Berarti kamu mulai suka sama dia dong."
Rara menunduk, wajahnya langsung memerah, senyum malu-malu. "Enggak tau, Ka... mungkin iya, tapi aku juga belum berani bilang. Takut kalau nanti beda rasanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
