Future

744 86 16
                                        

toxiclove

Auckland, New Zealand

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Auckland, New Zealand. 

Enam tahun telah berlalu. Waktu membawa perubahan yang luar biasa—tidak hanya pada Jiaya Andeenistra Praya, yang kini menjadi model dan public figure terkenal Indonesia dengan lebih dari 20 juta pengikut di berbagai platform, tapi juga pada pandangannya tentang dunia. Di balik layar sosial media dan sorotan kamera, Jiaya menemukan momen ketenangan di Auckland, kota yang ia pilih sebagai tempat beristirahat dan menenangkan diri dari hiruk-pikuk dunia selebriti. Kota itu berdiri megah dengan kombinasi modernitas dan alam yang memikat. Gedung-gedung tinggi yang menara kaca memantulkan cahaya matahari sore, sementara di ujung cakrawala, Harbour Bridge menegaskan kekuatan dan keanggunan kota pelabuhan ini.

Pelabuhan yang luas, perahu-perahu berlayar perlahan, dan angin laut yang membawa aroma segar memberi ketenangan yang sulit ditemui di Jakarta. Jalanan dipenuhi kafe bergaya modern, butik-butik mewah, dan taman-taman hijau yang rapi—tempat di mana dunia serasa berjalan lebih lambat, memberi Jiaya ruang untuk sekadar menarik napas panjang.

Dari bukit-bukit di Mount Eden atau tepi pantai Mission Bay, kota ini tampak seperti lukisan hidup: birunya langit bertemu hijau pepohonan, putihnya perahu di laut, dan cahaya hangat matahari sore yang menari di permukaan air. Bahkan suara riuh kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang terasa seimbang dengan damai yang terpancar dari alamnya.

Jiaya berjalan di antara keramaian, kamera selalu mengikuti gerakannya, namun matanya tak pernah lepas dari pemandangan. Di sini, jauh dari sorotan media Indonesia, ia bisa merasakan kebebasan: ruang untuk berpikir, mengenang masa lalu, dan menatap masa depan tanpa beban. Dalam sekejap, Auckland bukan sekadar kota asing baginya—tapi simbol perjalanan hidup, pengingat bahwa di tengah kesibukan dunia dan gemerlap ketenaran, selalu ada sudut yang menenangkan hati. Kota ini menjadi saksi sunyi dari seorang Jiaya yang tumbuh, matang, dan tetap manusiawi, di balik angka jutaan pengikut dan sorotan publik yang tak pernah berhenti.

Rambut panjang Jiaya tergerai halus, berkilau seperti madu di bawah cahaya studio. Kulitnya yang honey-toned tampak sehat dan bercahaya, seolah selalu disinari hangatnya matahari pagi. Wajahnya yang anggun kini dipadu dengan gaya hidup centilnya—tawa ringan yang mudah muncul, gestur manja yang natural, dan aura percaya diri yang membuat setiap orang di sekitarnya terpikat.

Saat ini, Jiaya tengah menata gaya rambutnya sendiri, menyisir helai demi helai dengan lembut, sambil sesekali mengecek riasan ringan di kaca. Bibirnya yang penuh dan matanya yang bersinar membuatnya terlihat effortless, seperti model profesional yang memang lahir untuk kamera.

Di sela-sela kegiatan itu, ponselnya bergetar. Layar menampilkan nama yang membuat hatinya sedikit meleleh: 'Bae J'. Dengan satu gerakan, ia mengangkat telepon. Suara laki-laki itu terdengar hangat, lembut, namun tetap ada nada tegas yang membuatnya tersadar:

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang