Sosok itu menghilang. Ares kembali maju, mendekati pintu. Ia berusaha membukanya, dan usahanya sia-sia. Pintu tetap seperti semula. Tak mau terbuka.
"Sial, kenapa ini?" Gumamnya dalam hati.
Rasa cemas semakin menjadi. Ares merasa diburu waktu dan keadaan. Ia berpikir untuk mencari cara lainnya.
****
Pak Badrun kembali tenang. Sama halnya dengan sang ustaz yang kini terdiam. Pak Badrun telah sanggup menguasai diri dari amarahnya. Ia terpaksa melakukannya ketika sosok itu kembali muncul tiba-tiba. Nyali menciut. Tak ada kharisma yang sebelumnya membuat mereka tak berdaya hingga hilang kesadarannya.
Rupa dari sosok itu memang tak berwujud buruk, namun tatapan serius serta terlihat tak menyukai merekanya lah yang membuat mereka takut.
Ki Saleh membuka mata. Ia merasakan kehadirannya.
"Hey kakek tua, mari kita lanjutkan permainan kita! Aku sudah tak sabar ingin membunuhmu!"
Suaranya menggema. Pak Badrun dan sang ustaz kian beringsut. Ki Saleh kembali maju. Ia menjawab tantangan itu dengan penuh keberanian. Tameng telah siap di lengan kiri, sementara tangan kanan akan ia gunakan untuk menyerang. Ki Saleh ingin mengulur waktu selama yang ia bisa.
"Kali ini aku takan segan. Kau telah hampir membuatku kehilangan mereka!"
Ki Saleh tersenyum.
"Rupanya dugaanku benar. Kau tak bisa berada di sini sambil tetap menjaga wilayahmu."
"Hahahahaha. Kau memang tak bisa diremehkan. Sama seperti saudaramu yang telah kubunuh. Tapi aku menikmati saat itu. Saat-saat terakhir sebelum ia mati. Seandainya saat itu ia meminta ampun, mungkin saat ini ia masih hidup."
Ki Saleh menghela napas. Ia tak ingin tergoda untuk meluapkan amarah mengatas namakan dendam.
"Satu-satunya yang mampu melindungi desa itu hanya saudaramu. Setelah ia kubunuh, maka desa itu bisa kuhancurkan. Jalan hidup yang ia pilih ketika menjadi penengah hanya sebuah kesia-siaan. Usia tak dapat mengubah takdir yang kupilih..."
"Cukup! Bukannya kau ingin bertarung? Kenapa harus banyak bicara seperti itu? Apa kau kira aku akan takut dengan cerita-ceritamu itu? Ingat! Aku bukan musuh yang bisa ditakuti oleh bualan busuk seperti itu."
"Hahaha. Kalau begitu, majulah!"
Ki Saleh tersenyum. Namun ia tak beranjak. Ia tetap berdiri di tempat semula.
"Kenapa? Apa kau telah merasakannya? Rasa takut yang perlahan muncul dan membuatmu tak bisa menyerang lebih dulu?"
"Sudah kubilang, kata-kata seperti itu tak berguna. Aku lebih memilih tetap di sini, dan kita lihat, apa kau berani untuk menyerang atau tidak."
Tawanya hilang. Sosok itu hanya tersenyum. Kedua musuh yang saling berhadapan telah siap untuk bertarung hingga titik darah penghabisan.
Dalam sekejap, sosok itu menghilang lalu muncul tepat di hadapan Ki Saleh. Ia melakukan serangan secara langsung. Ki Saleh sempat terkejut, namun senjata serta tameng yang ia gunakan juga dapat menyerang dengan telak dari jarak sedekat itu.
Sosok itu terpental. Sedangkan Ki Saleh hanya mundur beberapa langkah dari tempatnya.
****
Ares beberapa kali menghantamkan kursi pada pintu itu. Namun tak terjadi sesuatu sedikitpun. Dengan tenaga tersisa dan untuk terakhir kalinya sebelum ia merasa putus asa, Ares menghantamkannya kembali. Hasilnya, tetap seperti sebelumnya. Ia lelah. Tenaganya mulai habis tak tersisa, bersama semangat yang kian memudar dari matanya.
Putus asa itu belumlah sempurna, karena kini mereka dihadapkan pada keadaan buruk lainnya. Ruangan yang mereka pijak mulai bergetar. Setidaknya selama beberapa kali, hingga yang terakhir mereka rasa, kekuatannya cukup luar biasa.
"Ada apa ini? Kenapa di tempat ini ada gempa?" Tanya Ares pada diri sendiri.
Gia menggenggam lengan Ares. Rasa takut membuatnya refleks melakukan itu. Di tempat ini, ia sadar bahwa satu-satunya yang memberi harapan adalah dia.
Sigap. Ares membawa Gia keluar dari pintu itu. Ruangan besar menyambut. Kini giliran Gia beraksi. Ia menarik tangan Ares menuju pintu keluar dari ruangan itu. Ia mengerti bahwa Ares takkan tau jalan keluar dari sana.
Guncangan berhenti, namun mereka tak menyia-nyiakan kesempatan untuk lari. Menuju pintu besar ruangan itu. Sampai di sana, Ares langsung menariknya hingga terbuka. Langkah mereka terhenti.
****
Pertarungan masih berlanjut. Di balik tubuh rentanya, Ki Saleh merupakan lawan yang tangguh. Sosok itu mengakuinya.
"Tak kusangka, kau bisa menghiburku hingga saat ini. Biarlah mereka lepas, setelah membunuhmu, aku akan menangkapnya lagi."
"Jadi, mereka bisa keluar?"
Ki Saleh lega. Apa yang ia rencanakan sepertinya berhasil. Ia bisa sedikit memberi senyuman. Pak Badrun yang mendengar percakapan Ki Saleh dan sosok itu berusaha mencerna apa maksudnya.
"Apa mungkin yang dimaksud itu adalah Gia?" Tanyanya dalam hati.
Pak Badrun tak bisa membantu. Bahkan ia tak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya duduk, berdoa dan menaruh harapan pada sosok tua yang saat ini tengah berjuang. Pak Badrun lupa bahwa ada seorang ustaz yang sejak tadi tak pernah lepas dari khusyuknya lantunan doa. Ia panjatkan sejak ruangan itu mulai terang dan sosok itu kembali datang.
Sosok itu menoleh. Menatap dua orang yang sejak tadi tak berani mengganggu pertarungan antara ia melawan orang tua dihadapannya.
"Keyakinanmu itu penuh dengan keraguan."
"Jangan palingkan perhatianmu!"
Bugh. Ki Saleh memberi serangan tak terduga. Sosok itu tak sempat melakukan pertahanan. Ia tersungkur, untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai.
Ki Saleh berhasil. Terutama untuk memancing amarah lawannya. Tak lama, sosok itu bangkit. Wajahnya telah berubah. Ia mulai murka.
"Sepertinya aku mulai tak menikmatinya."
Sosoknya mulai kelam. Wujud yang sebelumnya terlihat nyata, kini berubah, menjadi sosok tinggi bertubuh diselimuti kegelapan. Sepasang mata merah menyalak tajam. Kengerian mulai Ki Saleh rasakan. Jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Lantunan doa mulai lebih kuat diucapkan. Rasa takut memberi tekanan. Pak Badrun memberikan genggaman. Rasa khawatir semakin menjadi. Tubuhnya gemetar. Beruntung mereka tak sampai kehilangan kesadaran.
"Kalian harus mati!"
****
Ares melangkah. Dalam kegelapan tanpa keraguan. Tekad kuat membuatnya nekad tak memikirkan akibat. Mereka berlari tanpa henti. Tanpa tau mereka berada di mana. Tanpa tau apa yang mereka lihat. Kegelapan membatasi pandangan. Hanya sebuah genggaman yang bisa memastikan. Sejak keluar dari pintu itu, semua begitu gelap. Jika memang harus, Ares lebih memilih untuk tersesat dari pada harus terkurung di sana. Dari jauh, titik cahaya menyambut. Satu cahaya kecil memberi harapan besar. Tanpa ragu, tanpa memiliki pilihan. Ares melangkahkan kaki lebih cepat. Gia berusaha mengimbangi. Namun langkahnya terhenti. Tepat sebelum cahaya itu pergi. Gia terjatuh. Bahkan hingga menubruk Ares yang berada didepannya. Tanpa tau apa yang terjadi, Ares melakukan apa yang dikatakan oleh instingnya. Ia berbalik, menangkap Gia hingga terjatuh bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
KEMBALI (MATI SURI) (Eps. 2.)
HorrorSejak kejadian itu, hidupnya memang telah berubah, namun semua perlahan menjadi biasa karena telah terbiasa.
