Mobil hitam berjalan pelan. Seseorang di balik kemudi memperhatikan ke arah samping jalan. Ia baru saja pulang setelah seseorang yang ia tuju tak ia temukan. Mobil itu berhenti, lalu mematikan mesin. Tanpa pelindung apapun, ia keluar untuk menghampiri seseorang. Rambut panjang tergerai basah oleh air hujan, namun ia tak peduli dengan itu. Ia ingin memastikan seseorang yang tengah menepi karena hujan.
"Ares?"
Ares menoleh. Ia tak sadar dengan mobil yang berhenti hampir tepat di depan mereka. Pikirannya masih teralihkan dengan seseorang di seberang sana yang masih tak terdengar keberadaan serta kabarnya.
"Rin, kamu kenapa ada di sini?"
"Tadinya aku mau nemuin kamu, tapi nomor kamu gak bisa dihubungi. Terus tadi gak sengaja lihat kamu di pinggir jalan, jadi aku mastiin kalau yang aku lihat beneran kamu. Kamu sendiri ngapain di sini?"
Ares tak langsung menjawab. Ia lebih dulu mengeluarkan gawai dalam saku untuk memeriksa apa yang dikatakan Sabrina. Ia tak berbohong. Beberapa notifikasi terlihat pada layar bagian atas. Beberapa panggilan dari nama yang sama, juga beberapa pesan dari nama yang juga sama. Ares tersenyum.
"Maaf, mungkin karena hujan, jadi gak kedengeran."
Sabrina tak marah. Ia lebih memilih menahan diri. Ia tersenyum menerima tulus permintaan maaf dari Ares.
"Oh, iya, kenalin, ini ki Saleh."
Ares mengenalkan laki-laki tua di sampingnya. Sabrina tersenyum, namun tak menyalaminya, ia hanya sekadar menyebutkan nama.
"Kamu di sini lagi ngapain, Res?"
Ares diam. Ia ragu apakah akan bercerita yang sebenarnya atau tidak. Mengingat masalah ini sama sekali bukan masalah pribadinya. Ia hanya sebatas membantu hanya karena peduli saja.
Ares menghela napas. Ia berusaha bercerita tentang kejadian yang membuatnya berada di sana saat ini. Sabrina tampak tak terlalu senang dengan penjelasan dari Ares, namun begitu, ia masih tetap menahan diri dan berusaha mengendalikan rasa cemburunya.
"Apa aku boleh bantu kamu?"
Dalam hati, sebenarnya Ares tak ingin melibatkan Sabrina. Ia sendiri masih belum mengerti apa yang akan dihadapi, namun dari cerita yang ia dengar dari ki Saleh, sepertinya mengajak Sabrina bukanlah ide yang bagus.
"Plis."
Sabrina memohon. Ares tak punya pilihan lain selain mengizinkannya untuk ikut dalam masalah yang akan mereka hadapi, dan itu artinya, Sabrina akan berada di sini untuk waktu yang tak bisa ditentukan.
Ares menyuruh Sabrina untuk duduk di sampingnya. Sabrina tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Suasana di luar berbeda dengan ketika Sabrina di dalam mobil. Rasa dingin akibat hujan begitu berbeda dengan dingin yang dihasilkan dari pendingin dari dalam mobilnya.
Kejadian berikutnya membuat Sabrina kaget. Tanpa diduga, Ares memberikan jaket yang ia kenakan.
"Nih, pakai."
Sabrina tak langsung menerimanya, ia ragu dengan apa yang terjadi, terlebih Ares memberikan jaketnya dengan wajah tanpa ekspresi. Ares tak melihat keraguan itu, yang ia lihat justru rasa sungkan.
"Gak apa-apa, pakai aja, dingin, nanti kamu sakit."
Sabrina lebih tak menyangka dengan apa yang ia dengar barusan, dan saat ini, ia melihat senyum ketulusan. Hal baru dan yang pertama.
Sabrina menerimanya. Ia mengenakan jaket itu. Tubuhnya mulai hangat, terlebih rasa yang ada di dalam hatinya.
Sabrina memeluk Ares. Gemuruh petir membuat yang seketika datang membuat rasa itu memudar. Ares diam, tak membalas atau menolak pelukan itu. Ia berusaha memaklumi dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini.
Hujan mulai mereda. Ia tak ingin membasahi semesta terlalu lama, bahkan mungkin ia ingin melihat bumi kembali berseri setelah ia membantu menyirami apa yang telah berguguran dan mati.
Tak butuh waktu lama sampai hujan itu benar-benar pergi. Ki Saleh berdiri. Ares mengerti, bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menemani Sabrina.
"Rin, kamu tunggu di mobil, ya. Jangan kemana-kemana."
"Loh, kamu mau kemana?"
"Aku ada perlu, gak lama kok."
Ares mengantar Sabrina ke mobilnya, bahkan ia cenderung memaksa. Sabrina tak berani membantah. Sebenarnya Sabrina penasaran, hal penting apa yang sampai membawa Ares ke tempat ini, namun ia masih lebih memilih untuk tetap pada tujuannya, yaitu menaklukan hati laki-laki yang telah lama ia kagumi.
Ki Saleh berjalan lebih dulu mendekati tempat yang menurutnya menjadi sumber sesuatu yang ia rasakan. Hembusan angin dingin masih tersisa, menerpa kulit keriput juga mata teduh yang mulai tak berdaya. Mata itu masih mencari dan mengamati apa yang menurutnya terasa berbeda. Pada satu titik, ia menajamkan pandangan, lalu tersenyum, seakan telah mendapat sesuatu yang ia cari.
****
Perjalanan panjang telah mereka lewati. Beberapa godaan serta cobaan berhasil dilalui. Bu Sari bergegas. Ia tak sabar untuk segera mencari informasi keberadaan putri semata wayang. Mobil telah berada di tempat parkir penginapan, sesuai petunjuk dari sang informan.
Petugas keamanan yang berjaga di depan menghampiri, menghalau mereka yang panik dan bertindak mencurigakan.
"Maaf, pak, bu, ada yang bisa saya bantu."
"Saya mau ketemu anak saya, pak."
Bu Sari tak bisa menahan diri untuk tetap tenang. Petugas keamanan tetap menjalankan tugasnya sesuai aturan. Untuk itu mereka memutuskan untuk tak mengizinkan bu Sari dan yang lainnya masuk.
"Bu, tenang dulu, biar saya yang bicara."
Sang ustaz mengambil alih pembicaraan untuk menjelaskan masalah yang terjadi. Terlihat oleh bu Sari dan pak Badrun bahwa petugas keamanan itu mengangguk pertanda ia mendengarkan penjelasan dan mengerti yang terjadi.
"Kalau begitu, mari saya antar."
Dengan sigap, salah satu dari petugas keamanan itu mengantar mereka menuju ke kamar penginapan tempat di mana para guru dari sekolah Gia menginap. Mereka berjalan cepat, melewati lorong menuju ke kamar tersebut, namun belum sampai di sana, petugas berseragam lainnya terlihat sedang mengobrol dengan wanita paruh baya di depan pintu sebuah kamar yang terbuka. Petugas berseragam cokelat itu menginterogasi untuk mencari informasi tentang hilangnya salah seorang siswa yang sedang berlibur di sana.
Sang ustaz beserta yang lainnya menghampiri. Mereka berharap mendapat kabar baik dari mereka yang sedang mengobrol tadi.
"Pak, bu, gimana anak saya? Apa dia baik-baik saja?"
"Pak, maaf, ini orang tua dari siswa yang saya laporkan telah hilang."
"Oh, maaf, bu, kami baru akan melakukan pencarian. Kami berharap agar ibu dan bapak tetap tenang dan terus berdoa. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Kami juga akan mengerahkan anjing pelacak agar mempermudah pencarian. Untuk itu, salah satu pakaian dari putri ibu akan kami bawa agar anjing pelacak yang kami kerahkan bisa membaui aromanya. Terimakasih."
Polisi itu pergi, dengan membawa sesuatu yang ia butuhkan untuk segera mencari gadis yang telah dilaporkan hilang sejak dua puluh empat jam terakhir.
Pencarian akan dilakukan di tempat pertama kali Gia dinyatakan hilang sesuai informasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
KEMBALI (MATI SURI) (Eps. 2.)
HorrorSejak kejadian itu, hidupnya memang telah berubah, namun semua perlahan menjadi biasa karena telah terbiasa.
