Darah berceceran, membawa duka tak terelakkan. Dari jauh, tampak awan gelap mulai merayap. Ia mendekat perlahan, berusaha menghapus kebahagiaan. Pak Badrun menatap kosong tragedi yang telah terjadi. Beberapa jasad bergelimpangan. Sebagian hanya ditutupi beberapa lembar koran. Sebagian lagi oleh dedaunan yang buahnya berasa manis dan berbentuk panjang. Pak Badrun menatap iba, pada seorang laki-laki yang sejak tadi terduduk di pinggir jalan. Ia menduga bahwa orang itu adalah korban kecelakaan. Darah di sebagian wajah menegaskan bahwa saat ini ia dalam keadaan terluka. Untuk beberapa saat, ia tak memalingkan wajah dari sana. Pak Badrun memperhatikan. Ada yang salah dari sosok yang ditatapnya. Orang itu menoleh, seakan sadar bahwa saat ini ada yang sedang memperhatikannya.
"Astaghfirullah."
Pak Badrun berucap lirih. Angin telah membuatnya merinding. Bukan karena ia tengah diterpanya, namun angin itu telah menunjukkan sebuah kenyataan yang sama sekali tak ingin diketahuinya. Lembaran koran terbang dihempas olehnya kemudian menampakkan sebuah wajah tak bernyawa yang sebelumnya tertutup olehnya. Wajah dari orang yang sama yang kini tengah menatap mobil bus yang ditumpangi oleh pak Badrun. Beruntung, mobil kembali bisa melaju secara normal setelah melewati kecelakaan beruntun yang menjadi penyebab utama kemacetan.
Sang Ustaz tak hentinya beristighfar. Ia merasa begitu ngeri dengan kejadian yang ia lihat tadi. Penglihatannya menunjukkan sesuatu yang tak berbeda dari apa yang dilihat oleh pak Badrun, yang membedakan hanyalah penglihatan sang ustaz melihat jauh lebih banyak sesuatu yang buruk dari apa yang pak Badrun lihat.
Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Mobil itu mengimbangi kecepatan mobil didepannya yang melaju belum terlalu cepat. Walau telah melewati titik utama yang menjadi penyebab kemacetan, sang supir rupanya lebih memilih untuk memperlambat laju kendaraannya. Dalam hati, sang supir tak ingin bernasib sama dengan apa yang telah menimpa beberapa kendaraan tadi. Terlebih, ia tak hanya menanggung nasib diri sendiri. Semua penumpang dalam bus yang dikemudikannya secara otomatis menjadi tanggung jawabnya untuk menjaga keselamatan mereka hingga sampai ke tempat tujuan.
Keluar dari titik penyebab terjadinya kemacetan. Laju mobil berjalan konstan. Beriringan dengan beberapa macam mobil yang melaju di lajur tol lainnya. Pak Badrun bisa bernapas lega. Masih terbayang jelas bagaimana rupa dari orang yang menjadi korban kecelakaan. Embusan pendingin udara dalam mobil menerpa wajah yang masih belum berhenti meneteskan keringatnya. Sang ustaz memperhatikannya dari jauh. Ia merasa bahwa pak Badrun bersikap tak biasa, dan ia sepertinya tau apa yang menjadi penyebabnya.
Waktu telah terkuras cukup lama. Mereka akan sangat terlambat untuk sampai ke tempat yang menjadi tujuan. Beberapa jam yang telah dilewati seharusnya telah membawa mereka pada sepertiga dari perjalanan, namun saat ini mungkin hanya mampu menempuh seperdelapannya saja.
****
"Gi, aku mau beli yang ini, kamu mau beli sesuatu gak?"
Gia menolak. Bukan tak ingin membeli atau tak ada kebuthan yang harus dibeli, namun Gia lebih memilih menyimpan uang yang ia punya untuk bekal nanti. Ia tau bahwa kedua orang tuanya tak begitu banyak memiliki uang, jadi Gia lebih memilih untuk tak mau membuatnya bertambah susah.
"Enggak, Ras. Aku nemenin kamu aja."
Gia mengalihkan pandangan. Ia membiarkan Laras untuk memilih sendiri apa yang ingin ia beli, namun pandangan Gia terganggu. Ia memperhatikan sebuah pakaian yang dikenakan boneka manekin didepannya. Pakaian itu bagus dan menarik, namun yang membuatnya tertarik adalah, pakaian itu tengah tergeletak di lantai. Boneka manekin itu jatuh tanpa sebab dan tak ada yang melihatnya selain Gia seorang. Tanpa rasa takut atau berpikir negatif, Gia bermaksud membetulkan kembali posisi boneka itu ke tempat semula, namun niatnya terhenti. Tangannya tak bisa bergerak melanjutkan dari apa yang seharusnya ia lakukan. Tangan lainnya telah menahannya untuk tetap di sana. Gia menoleh.
"Kamu suka yang itu, Gi?"
Laras membantu Gia untuk mengembalikan boneka manekin itu ke tempat semula.
"Eh, enggak kok, Ras. Tadi bonekanya jatuh sendiri."
Laras tersenyum. Ia mengalihkan pandangan dari Laras. Laras tampak seperti sedang mencari sesuatu. Wajahnya serius, namun seketika berubah sumringah.
"Mba."
Tangan Laras melambai. Ia memanggil seseorang yang tampak mengenakan seragam. Orang itu tersenyum, lalu segera menghampiri Laras.
"Ada yang bisa dibantu, kak?" Ucapnya dengan ramah, sesuai dengan peraturan perusahaan tempatnya bekerja saat ini.
"Ini, mba, minta tolong ambilin pakaian yang ini dong."
"Oh, yang ini, sebentar, kak."
Orang tersebut dengan cekatan langsung melepaskan pakaian yang melekat pada boneka manekin yang sebelumnya sempat jatuh tersebut, lalu memberikannya pada Laras. Laras mencoba pakaian itu pada tubuhnya sendiri.
"Bagus gak, Gi?"
Gia sempat terpana. Pakaian itu memang bagus, dan tampak serasi jika dikenakan oleh Laras.
"Bagus, Ras."
Laras langsung memasukan pakaian itu ke dalam tas belanjaan yang ia bawa, setelah Gia memberikan komentarnya.
"Makasih ya, mba."
Orang itu tersenyum, kemudian dengan segera membawa boneka manekin yang saat ini dalam keadaan bugil ke suatu tempat. Sementara Gia dan Laras kembali melanjutkan acara berbelanja mereka. Laras menghabiskan waktu untuk memilih apa yang akan ia beli, sementara Gia sibuk memilih untuk mengusir rasa bosan serta hanya menghabiskan waktu saja. Mereka kembali terpisah sesuai tujuan masing-masing. Gia menjauh. Ia tertarik pada sebuah tempat yang banyak menyediakan pakaian untuk wanita yang lebih feminim. Ia mengambil salah satu pakaian yang tergantung di sana. Ia membentangkannya untuk melihat dengan jelas detail pakaian tersebut. Senyumnya mulai mengembang. Gia menyukainnya. Senyum itu tiba-tiba hilang. Pandangannya menangkap sesuatu dibaliknya. Dua sejoli sedang berjalan beriringan. Sang wanita terlihat tengah menggandeng tangan laki-laki disebelahnya. Ia nampak tersenyum, sementara yang laki-laki terlihat biasa saja. Gia memalingkan wajah, tepat saat pasangan itu menoleh ke arahnya. Gia menaruh kembali pakaian itu ke tempat semula, lalu ia menghampiri Laras dengan tergesa.
"Loh, Gi, udah?"
Laras terlihat heran, melihat Gia yang datang tiba-tiba dengan ekspresi wajah terlihat cemas.
"Iya, udah, Ras."
Laras tak ingin mempermasalahkan itu. Ia mengira bahwa telah terjadi sesuatu pada Gia, namun Laras enggan untuk bertanya. Ia lebih memilih untuk menyudahi niatnya untuk berbelanja dan segera mengajak Gia pergi dari tempat itu.
"Ya udah, kita pulang aja, yuk, Gi."
Gia tak membantah. Ia sudah tak merasa nyaman berada di sana.
Mereka berdua segera berjalan menuju kasir untuk membayar semua barang belanjaan. Mereka mengantri. Tak ada kasir yang sedang tak melayani pembeli. Gia menoleh kesana kemari. Rasa cemasnya semakin menjadi. Ia khawatir tertangkap basah sedang berada di tempat seperti ini.
Satu orang dalam antrian lagi yang harus mereka tunggu. Gia tak bisa lebih bersabar dengan hal itu. Ia lebih memilih pergi.
"Ras, kalau aku nunggu di sana gak apa-apa?"
Laras merasa heran dengan permintaan Gia, namun ia tak berencana menolak keinginannya.
"Ya udah, tapi jangan jauh-jauh, Gi."
Gia tersenyum. Ia segera pergi dari tempat itu dan membiarkan Laras yang masih harus mengantri.
Gia bisa bernapas lega. Ia bisa menghindari sepasang sejoli yang sebelumnya sempat membuatnya tak merasa nyaman untuk berlama-lama di sana. Apalagi ia melihat sendiri sepasang sejoli itu masuk ke tempat di mana ia dan Laras sedang berbelanja. Ia bisa tenang, sepertinya orang itu tak menyadari keberadaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KEMBALI (MATI SURI) (Eps. 2.)
HorrorSejak kejadian itu, hidupnya memang telah berubah, namun semua perlahan menjadi biasa karena telah terbiasa.
