5. Harapan Baru

905 48 6
                                        

Ares terlihat murung, selama beberapa hari ini ia tak bisa menikmati tidurnya karena selalu dihantui mimpi yang sama, bahkan setelah acara penampilan kemarin bersama grup bandnya, kondisi kesehatannya sempat menurun, namun beruntung ia hanya harus banyak beristirahat saja untuk memulihkan kondisi. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan seorang wanita, yang tak lain adalah kekasihnya yang telah tiada. Di mimpi itu, mereka bertemu namun tak saling tersenyum atau bicara, mereka hanya berdiri menatap satu sama lain pada sebuah tempat indah, sejuk serta mempesona. Ares tak berani untuk mendekat padanya, dalam hati yang pernah terluka tak sengaja, kini telah mulai pulih sehingga menghalanginya untuk mendekat dan kembali pada cerita dulu. Ia masih terdiam untuk beberapa saat, sampai pada akhirnya cahaya mulai meredup hingga tak butuh waktu lama berubah menjadi gelap. Dalam kegelapan, Ares mampu melihatnya secara samar, namun tak jauh dari tempat wanita itu berdiri, setitik cahaya merah mulai menyala, cahaya itu tak hanya satu, namun menyala seperti berpasangan. Yang awalnya hanya sebuah titik, perlahan menjadi jelas hingga menampakkan wujudnya. Sorot dari tatapannya begitu jelas seiring cahaya merahnya yang kian menyala, menunjukkan aura kemarahan yang ia tunjukkan padanya. Ares tersentak, makhluk di samping wanita itu begitu mengerikan walau yang tampak dari wajahnya hanya sepasang mata. Ia berdiri, lebih tinggi dari sang kekasih. Tubuhnya terselimuti aura hitam, dan dalam genggaman salah satu tangannya, terdapat sebuah tongkat bersenjatakan sabit yang terlalu panjang untuk ukuran manusia. Dihadapan makhluk itu, senjata yang ia genggam tampak tak begitu membebaninya. Ares berusaha untuk melawan, melawan rasa takut dalam diri, namun jangankan untuk lari, bergerak saja ia tak bisa melakukannya. Makhluk itu mendekat, namun tiba-tiba Ares merasakan kehadiran seseorang, seseorang yang ia kenal. Ia menoleh, ia terkejut mendapati Gia berada dibelakangnya.

"Gia? Kenapa kamu di sini?"

Pertanyaan bodoh yang terlontar begitu saja, terlebih ia tak sedikitpun mengerti tentang semua yang terjadi. Gia tak menjawab pertanyaannya, matanya masih terfokus pada makhluk hitam, tinggi besar yang tanpa disadari, jarak antara makhluk itu dengan Ares semakin dekat. Ares mulai berlari membawa serta Gia bersamanya, dan ia baru menyadari bahwa kini ia bisa menghindari makhluk itu. Dalam kebingungan melanda, ia berlari tak tentu arah, namun seperti tak menjauh sedikitpun dari makhluk tersebut, sampai pada akhirnya Ares menabrak sesuatu tak berwujud, yang membuat hidungnya terasa sakit, namun kali ini rasa sakit itu begitu nyata. Ia memegangi hidung seraya membuka mata. Dingin menyambut kehadirannya kembali ke dunia.

Ares memegang hidungnya seraya mengingat kejadian itu, rasa sakitnya telah mereda, namun tidak dengan rasa penasaran itu. Jenuh dengan keadaannya saat ini, Ares bergegas. Kamar mandi menjadi pilihan pertama untuk membersihkan diri lalu bersiap untuk menemui gadis dalam mimpi. Selesai dengan merapikan diri, Ares bergegas, ia tak ingin terlambat untuk sekadar melihatnya. Kekosongan hati mulai terganti, namun sosoknya belum pasti bisa mengganti, ia masih berada di sana tanpa bisa memberi kepastian apa-apa, namun Ares mencoba mengerti perbedaan keadaan mereka saat ini.

Masih dengan motor besarnya, Ares menikmati udara segar pagi hari bercampur polusi dari kendaraan umum dan pribadi, menuju ke sebuah jalan untuk mencari sarapan, juga untuk melihat seseorang. Tak seperti biasa, laju motornya kali ini begitu pelan, hingga terlalu pelan untuk ukuran motor dengan kapasitas mesin besar seperti itu, ia hanya memainkan tuas kopling tanpa menyentuh pedal gigi di bagian bawah, namun Ares menikmatinya, sekadar untuk melepas beban yang ada di pikiran.

Dalam perjalanan, sekilas ia melihat seseorang dari arah berlawanan, ia menoleh untuk memastikan bahwa yang ia lihat memang benar dia. Sesaat kemudian, Ares tersenyum lalu kembali melanjutkan apa yang menjadi tujuannya. Dari jauh, senyum yang sama terpancar dari seorang wanita yang sedang pergi menuju ke sekolahnya, bahkan hingga harus kehilangan fokus mengobrol dengan laki-laki yang memberinya tumpangan.

*******

Bu Sari bergegas begitu mendapati pendengarannya mendengar beberapa kali ketukan dari arah pintu depan, ia khawatir kalau yang mengetuk benar-benar orang yang sedang ada perlu dengannya.

"Sebentar."

Tak butuh waktu lama sampai bu Sari membukakan pintu untuk sang tamu, namun ketika pintu terbuka, ia sempat tak mempercayai siapa yang ada di sana.

"Loh, bapak? Kok sudah pulang?"

Pak Badrun tak menjawab, ia berlalu dan langsung duduk di kursi tamu seraya menyandarkan punggung serta menengadahkan kepala.

"Bapak kenapa? Gimana hasilnya?"

Bu Sari tampak cemas, melihat suaminya pulang terlalu cepat dan tak sesuai dengan rencana. Pak Badrun menggeleng.

"Bapak gagal, bu."

Ucapnya seraya mengubah posisi menjadi duduk dan menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

"Maksud Bapak gimana? Kenapa bisa gagal?"

Rasa cemas dan penasaran serta rasa takut seperti telah menyatu. Bu Sari semakin khawatir dengan kondisi anak semata wayangnya. Berat bagi pak Badrun untuk memberitahu istrinya, namun semua harus tetap dilakukan. Ia tau sang istri pasti akan kecewa dan khawatir, tapi ia masih ingat apa yang pak RT katakan sebelum ia pulang.

"Orang yang bisa membantu kita ... Sudah meninggal."

Sesuai dugaan pak Badrun, istrinya akan merasa kecewa, namun ia tak menyangka bahwa istrinya akan langsung menangis mendengar kejadian tersebut, bukan menangisi kepergian orang yang akan menolong mereka, tapi lebih kepada membayangkan kondisi masa depan putri tunggalnya.

"Terus anak kita gimana, Pak? Dia anak kita satu-satunya."

Dengan suara bergetar menahan sedih, bu Sari mencurahkan semua rasa takut lewat air mata serta secercah do'a yang ia panjatkan demi bisa menyelamatkan Gia.

"Bu, tenang dulu..."

Pak Badrun bermaksud menjelaskan semua kejadian yang menimpanya selama di sana, namun emosi yang tak stabil dari sang istri terpaksa memotong penjelasannya.

"Tenang bagaimana? kita akan kehilangan Gia, pak!"

"Bu, Bapak mendapat informasi dari orang lain bahwa beliau punya adik, yang kebetulan satu profesi sama beliau, dan katanya sama-sama bisa menolong orang lain, jadi kita masih punya harapan."

Dengan terpaksa pak Badrun langsung menjelaskan inti dari apa yang ia dapat agar sang istri bisa kembali memiliki harapan, harapan untuk melawan takdir yang telah mereka tentukan.

******

"Laras, bikin kaget aja."

Laras tertawa, setelah tangannya berhasil menghentikan langkah Gia lewat jendela kelas mereka.

"Lagian, pagi-pagi kamu udah ngelamun, mana jalannya kayak yang buru-buru lagi."

Gia melengos, ia lebih memilih untuk masuk lebih dulu untuk menaruh tasnya, baru kemudian menjawab apa yang Laras tanyakan.

"Gak kenapa-kenapa, cuma aku mau ngehindar aja."

"Ngehindar? Dari siapa?"

"Kamu masih inget sama kejadian Dandi, kan?"

"Iya, terus? ... Oh, maksud kamu lagi ngehindarin dia?"

"Iya, pas aku tau dia terlibat walaupun gak secara langsung, aku jadi pengin menghindar aja."

Suara bell masuk menghentikan pembicaraan pagi mereka yang terlalu berat untuk dibahas, sayangnya Gia tak pernah tau bahwa apa yang akan ia hadapi jauh lebih berat, dan ia harus siap untuk menata hati ketika orang yang disayanginya pergi dan tak mampu kembali.

Tak ada kesempatan untuk ia memilih, antara dia atau mereka.

KEMBALI (MATI SURI) (Eps. 2.)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang