Setelah pertarungan dengan menahan batas kesabaran, ki Saleh terpaksa harus mengeluarkan apa yang selama ini enggan ia lakukan, dan dengan hanya beberapa kali serangan, jin itu harus menerima segala akibat perbuatannya. Ia terbakar. Tak ada rasa belas kasih. Ki Saleh menunjukkan bahwa ia tak memberi rasa kemanusiaan untuk jin itu. Ya, karena ia merasa bahwa faktanya jin bukanlah manusia.
Jin itu menjerit. Ia memohon untuk diberi kesempatan, namun ia merasakan akibat dari pilihannya sendiri. Ki Saleh telah kehabisan tenaga, juga rasa sabar.
Ki Saleh kembali melipat kain lusuh yang ia gunakan sebagai tameng. Jalan terakhir itu yang terpaksa harus ia pilih. Ia merasa tak sanggup menghakimi sesama makhluk sang pencipta, namun ia pun hanya mengambil sebuah pilihan untuk menyelamatkan yang seharusnya, walau pilihan itu pun tak selamanya benar adanya.
Ares menyeka peluh yang telah penuh di wajah, tak lama setelah itu, ia membawa Sabrina masuk ke dalam mobil miliknya sendiri. Ki Saleh mengikuti, dengan tetap waspada akan keadaan di sekeliling mereka. Ia memperhatikan Ares dengan seksama. Perlakuan Ares pada Sabrina begitu terlihat peduli.
Mobil melaju pelan. Gelap serta sunyinya malam kian mencekam. Ares merasa bahwa malam ini tak seperti biasa, namun ia menepis gelap dalam pikirannya dan memberi sugesti pada diri sendiri bahwa semua hanyalah asumsi. Suara deru kendaraan memang masih terdengar dari kejauhan, namun jalan yang sedang ia lewati begitu sepi. Ares bermaksud mengantarkan Sabrina ke rumahnya, setelah itu ia bermaksud untuk menyusul mereka yang telah lebih dulu pergi ke tempat Gia. Walau dalam situasi sulit seperti saat ini, rasa peduli Ares masih tetap terbagi dua. Dalam perjalanan, perasaannya semakin tak nyaman. Ia beberapa kali melirik ke spion samping serta tengah, untuk mengecek kursi penumpang, juga apa yang ada di belakang kendaraannya. Ki Saleh masih di sana. Ia hanya diam tak banyak bicara, sementara di sekeliling luar yang terlihat dari spion itu, tak menunjukkan tanda-tanda bahwa akan ada bahaya yang telah tiba. Untuk sesaat Ares lega, namun beberapa kali ia memperhatikan ki Saleh, ia mulai merasa khawatir, terutama saat ia melihat tatapannya yang terasa berbeda.
"Ada apa ini?" Ucapnya dalam hati.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah mewah. Sekuriti bergegas menghampiri lalu segera membukakan pintu untuk mobil yang baru saja datang itu. Ia mengenali mobil milik majikannya sendiri.
Ares segera keluar dari mobil itu setelah ia memarkirkannya di depan rumah Sabrina. Ia bergegas ke pintu di sebelahnya untuk membawa Sabrina ke dalam rumah. Sekuriti menghampiri dengan panik melihat anak dari majikannya pulang dalam keadaan yang tak baik-baik saja.
"Loh, mas, mbak Sabrinanya kenapa?"
"Pak, maaf, tolong buka pintu rumahnya dulu, Sabrina harus segera istirahat."
Ares tak menjawab pertanyaan itu. Sekuriti itu bergegas masuk. Dari dalam rumah, seorang asisten rumah tangga Sabrina bermaksud keluar karena mendengar keributan dari arah depan. Ekspresinya tak jauh berbeda dari sang sekuriti, bahkan ia jauh lebih terkejut.
"Loh, mbak Sabrina kenapa, mas?"
Pertanyaan yang sama yang untuk kedua kalinya tak mendapat jawaban dari Ares.
"Bi, kamar Sabrina di mana?"
Asisten rumah tangga itu bergegas menunjukkan Ares menuju kamar Sabrina. Ares tergopoh menggendong Sabrina. Tenaganya telah cukup terkuras oleh kejadian yang menyebabkan mereka menjadi seperti ini.
Perlahan, Ares membaringkan Sabrina di tempat tidurnya sendiri. Sabrina menggeliat lemah, ia tak sepenuhnya hilang kesadaran sehingga dengan istirahat, Ares berharap Sabrina bisa pulih dengan cepat. Tanpa sepatah kata, Ares terdiam seraya memandangi Sabrina yang tengah memejamkan mata. Ares sedikit bisa bernapas lega. Dada Sabrina naik turun dengan teratur, pertanda bahwa ia telah mulai bisa meraih kenyamanannya. Asisten rumah tangga Sabrina telah kembali, dengan membawa serta baskom berisi air untuk sekadar menyeka anak majikannya yang pulang dalam keadaan tak biasa. Banyak tanda tanya yang ada dalam benak, namun ia tak berani bertanya atau bertindak.
"Bi, saya keluar dulu. Maaf, Sabrina harus pulang dalam keadaan seperti ini."
Ares melangkah pergi, meninggalkan Sabrina dengan rasa khawatir akan terjadi sesuatu padanya.
Di ruang tamu, ki Saleh terlihat tengah berbincang pada sekuriti itu. Ki Saleh menjelaskan apa yang telah terjadi pada anak majikannya dan mereka berdua. Sekuriti itu berusaha mengerti, walau kemampuannya dalam memahami sesuatu di luar nalar begitu terbatas bahkan tak menguasai sama sekali, namun sebagai orang yang masih memiliki keyakinan kepada yang maha kuasa, ia masih memiliki alasan untuk percaya.
"Ki, apa kita sebaikanya pergi sekarang?"
Tanpa basa-basi, Ares mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran. Ares tak berani memaksa untuk meminta agar mereka segera pergi dari sana.
"Kita tunggu sebentar, sampai keadaan benar-benar membaik."
Ares tak menimpali. Ia tak memiliki pilihan lain saat ini. Hanya sebatas doa yang sanggup ia ucap, demi sebuah pengharapan akan datangnya keajaiban.
"Maaf, mas, ki, saya buatkan minuman dulu."
Ki Saleh tersenyum, mempersilahkan sekuriti itu pergi untuk melaksanakan niatnya. Sekuriti itu sadar, bahwa menjamu tamu bukanlah keahliannya, namun ia juga mengerti bahwa tak menjamu tamu adalah perbuatan tak sopan.
"Jangan khawatir, melihat kamu, aku yakin bahwa anak itu akan baik-baik saja."
Dalam keheningan yang tercipta antara mereka berdua, ki Saleh mengucapkan sebuah kalimat yang sama sekali tak dimengerti. Ares menoleh, lalu mengangguk, untuk saat ini ia tak ingin mengerti atau memahami apa yang ia dengar tadi.
Aroma sesuatu mulai terasa mengganggu. Bau ini begitu ki Saleh kenal, bahkan mungkin sering ia jumpai dikala ia sedang menyendiri.
"Silakan diminum, ki, mas. Mohon maaf kalau rasanya kurang nikmat."
Sekuriti menaruh dua buah cangkir berisi kopi hitam di atas meja. Ini memang momen untuk bercengkerama, namun sayangnya tak dilengkapi oleh canda, tawa atau bahagia. Ki Saleh tersenyum seraya berucap, "terimakasih."
****
"Suara apa itu?"
Sayup terdengar, beberapa langkah kaki dari tempatnya terbaring saat ini. Gia menoleh ke kanan dan ke kiri. Suara itu mengembalikan kesadarannya, namun ia terbangun tak berada di tempat yang semestinya.
"Aku di mana? Kenapa aku ada di sini? Laras ke mana? Lalu dia..."
Gia memutar kembali kejadian dalam ingatan sebelum ia hilang kesadaran. Gia bangkit. Ia berusaha mencari sesuatu, juga sumber suara di mana beberapa kali terdengar pergerakan yang ia kira jaraknya terlalu jauh dari sana.
Gia mulai bangkit, lalu menelusuri tempat asing yang ia merasa pernah melewatinya. Dari sela-sela rapatnya dedaunan pohon tinggi menjulang, samar ia melihat sebuah bangunan besar.
"Rupanya benar, aku masih di sini, tapi tempat ini masih terasa sunyi. Apa aku sudah kembali?"
Gia mulai melangkahkan kaki dengan perlahan serta hati-hati. Nalurinya membawa ia menuju ke tempat yang ingin ia tuju, berbekal suara samar yang ia jadikan petunjuk, Gia menemukan apa yang ia cari. Gia memperhatikan dua sosok manusia dari balik pohon tempat ia sembunyi saat ini. Gia menahan napas, sebisa mungkin untuk tetap tenang, namun ia tak bisa mengontrol detak jantungnya yang terasa kian cepat. Salah seorang yang diperhatikan olehnya berbalik, seperti sadar tengah diperhatikan. Gia menutup mulutnya yang ternganga. Ia tak menyangka akan apa yang dilihatnya saat ini.
"Jadi, dia..."
KAMU SEDANG MEMBACA
KEMBALI (MATI SURI) (Eps. 2.)
رعبSejak kejadian itu, hidupnya memang telah berubah, namun semua perlahan menjadi biasa karena telah terbiasa.
