Guys, sorry banget aku gak bisa up cepat. RL aku benar-benar lagi sibuk jadi gak ada kesempatan buat nulis.
Chapter ini aku tulis mendadak menggunakan sedikit waktu saat menunggu angkutan umum lewat ~
Jadi maaf kalau sedikit 🙏
Enjoy the chapter guys 🤗🥰
Mulmed >> [ Cast : Channing Tatum as Brant Cavhailles ]
Erwin POV
Aku duduk manis menyaksikan bagaimana Brant mencambuk punggung Licia hingga baju yang dikenakan oleh wanita itu compang-camping hingga di bagian lengannya.
Licia meringis, menangis, dan kadang berteriak merasakan sakit yang dideranya.
Meski begitu Brant tetap tidak berhenti mencambuk karena memang begitulah perintah dariku untuknya. Ia tak akan berhenti sebelum aku memerintahkannya untuk berhenti.
Namun nyatanya tak sesuai dengan perintahku, Brant menghentikan aksinya tanpa menunggu aku bersuara.
"Boss, apa ini tidak berlebihan?" Brant bertanya sembari menyimpan cambuk yang dipegangnya pada rak berisikan banyak alat siksa.
"Apa maksudmu dengan berlebihan, Brant?" balasku bertanya.
"Licia dihukum hanya karena meracuni seorang jalang, kurasa itu berlebihan. Kalaupun hendak dihukum, bukankah ini terlalu berat untuknya?" alisku bertaut mendengar penjelasan sekaligus pertanyaan dari Brant.
"Kau ingin membela Licia dan menentang ku, huh?" aku menekankan pertanyaanku dan memasang tatapan mengintimidasi pada Brant.
Pria yang ku tatap itupun menelan ludah, menggaruk leher lalu memutar bola mata ke samping.
"B-Bukannya begitu, Boss. Tapi aku hanya tak habis pikir denganmu yang menghukum anak buah pilihanmu hanya karena seorang jalang" Brant menjelaskan dengan tergugup.
"Jika kau tak suka dengan keputusanku, aku tak keberatan kau menggantikan Licia untuk digantung di tiang pull up itu" tuturku dan sekali lagi Brant menelan ludahnya kasar.
"T-Tidak, Boss. Aku bukannya ingin membela Licia tapi jika kau menghukumnya karena Licia meracuni kekasihmu maka aku akan terima. Tapi ini-" Brant memasang wajah mempertanyakan.
"Dia hanya jalang peliharaanmu, Boss" ungkap Brant tanpa ragu.
"TUTUP MULUTMU, BRANT!!" teriakku membuat Brant mundur satu langkah karena terkejut.
Aku bangkit dari tempat dudukku dan menghampiri Brant yang kini berada di samping tiang pull up tempat Licia di rantai tangan dan kakinya.
Aku menarik kerah baju Brant dengan emosi dan mengepalkan tangan bersiap untuk meninju mulut kasar Brant dengan sekuat-kuatnya.
"Apa aku salah Boss? Jika dia bukan jalang peliharaanmu, lalu dia itu siapa dan apa posisinya sampai Licia pantas dihukum seperti ini?" pertanyaan Brant sukses membuatku terdiam.
Emosiku sebelumnya mencair secara perlahan tergantikan oleh pemikiran dan perasaan aneh yang menggelitik.
Aku melepaskan cengkraman ku pada kerah baju Brant dan membiarkan pria itu mundur selangkah dariku.
Pikiranku melayang mencoba untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang Brant ajukan.
"Siapa Rashti bagiku?"
Aku tak pernah berpikir lebih lanjut akan hal itu. Aku mendapatkan Rashti dari pelelangan budak sex, sehingga Rashti tak lebih dari sekedar jalang untukku.
Namun, kehadiran Rashti seolah banyak mengubah diriku. Mengubah bagaimana sifatku yang awalnya suka menggonta-ganti budak sex yang ku beli tak lebih dari seminggu.
Terlebih lagi, kebiasaan yang sudah menjadi kesenangan bagiku yaitu menyiksa setiap budak sex belianku hingga ia mati perlahan ataupun sampai kehilangan kewarasannya.
Dan kali ini, Rashti.
Entah mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya.
Berawal dari aku yang tak memiliki niatan membunuhnya karena ia adalah putri tunggal keluarga Anderson dengan alasan agar aku bisa menguasai asetnya.
Meski aku telah berhasil mendapatkan beberapa aset Anderson melalui kerjasama, akan sangat mudah bagiku menyingkirkan Anderson apalagi saat keluarga mereka juga sedang ada di Jerman saat ini.
Tetapi aku mengenyahkan pikiran itu karena tak ingin kehilangan Rashti. Wanita itu entah sejak kapan telah mengisi sesuatu yang tak pernah diisi oleh orang lain dalam hidupku.
Aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri.
Tetapi poin paling utama adalah, Rashti milikku. Tak kan kubiarkan ia dimiliki oleh orang lain ataupun kematian itu sendiri.
Aku adalah penentu hidup atau mati Rashti, aku penentu takdirnya, dan takdir itu adalah bersamaku.
"Jika Rashti adalah wanitamu, aku tak keberatan kau melakukan penyiksaan ini, Boss. Apabila hal ini terjadi pada Rebecca, sengaja ataupun tidak, aku akan melakukan hal yang sama" Brant memberikan penuturannya.
Aku masih terdiam tak menjawab, sampai Brant kembali mengajukan pertanyaan, "Apa dia kekasihmu, Boss?"
"Bukan" jawabku mengalihkan wajah ke samping untuk menghindari kontak mata dengan Brant lalu melanjutkan,
"Not, but will"
.
.
.
To Be Continued~Thanks banget buat kalian yang selalu nunggu dan setia baca ceritaku. Thanks buat waktu yang diluangkan, vote, komen, masukin reading list, dan follow aku. Pokoknya makasih banyak-banyak buat para pembaca cerita ini 🙏🤗🥰
Dan sekali lagi, aku minta maaf karena tidak dapat update cepat atau banyak seperti sebelumnya untuk beberapa hari / minggu ke depan. So sorry 🙏
Sampai jumpa di chapter berikutnya 🤗🥰

KAMU SEDANG MEMBACA
The King Of The Dark World
ActionRashti Queenzia Anderson (20), memilih Berlin sebagai tempat ia merayakan ulang tahun. Bersama dengan seorang temannya, Elsa Emelliene Meyr (21) mengunjungi sebuah bar dan berpesta ria disana. Tetapi siapa yang menyangka bila malam itu adalah awal d...