82. Sadness And Madness

5.5K 326 73
                                    

Salam rindu, guys.

Enjoy the chapter~

Rashti POV

Licia tak mengatakan apapun, ia hanya menarik tanganku yang sedang memeluknya dari belakang. Mencoba melepaskan diri dari pelukanku dan menepis tanganku yang menekan lukanya dengan kuat.

Aku tak mengerti dengan apa yang Licia coba lakukan dan terus berusaha untuk menghentikan pendarahannya dengan tangan. Meski begitu, Licia tampaknya enggan. Ia benar-benar menarikku begitu kuat hingga aku hampir tersandung oleh kakiku sendiri. Selanjutnya ia menghempasku, memberikan tendangannya dan mengenai area pinggang hingga aku terpental ke samping.

"Akh!" aku memekik sakit ketika punggungku membentur lantai. Ingin mengumpat namun kuurungkan setelah melihat apa yang sebenarnya ingin Licia lakukan.

"JANGAN!!!" aku berteriak kencang dan tak dihiraukan.

"LICIAAA!!" aku kembali berteriak, mencoba untuk mendekati pertarungan mereka yang berlanjut tapi gagal karena peluru Jessie yang mengarah tak beraturan.

Licia sepertinya telah menangguhkan keputusan, ia tak kenal takut, bahkan dengan luka tembak yang mengucurkan darah dengan begitu derasnya, ia tetap memberikan serangan pada musuh.

Aku melihat Licia yang kecepatan bertarungnya berbeda, ia terlihat kepayahan dengan wajah yang memucat dan kendornya pertahanan. Licia kehilangan banyak darah, dari jarak yang tak terlalu jauh ini, aku dapat memperhatikan Licia yang bertarung sambil menangis. Ia menggigit bibir bawahnya dengan kuat, lalu memberi sorotan mata yang tajam pada musuh seolah ia telah memantapkan pilihan.

Yang terjadi berikutnya adalah, Licia menerjang ke arah Jessie langsung dari depan. Tentu saja itu memberikan Jessie kemudahan untuk menembak. Licia yang berlari lurus di depannya menjadi sasaran empuk dari senjata sniper yang terus ditembakkan.

"LICIAAA!!! BERHENTI!! BERHENTI!!" aku meraung-raung bak orang gila.

DOR! DOR! DOR!

Suara senjata sniper yang diluncurkan Jessie terhadap Licia memekakkan telinga. Tentu saja keseluruhan tembakan tersebut mengenai tubuh Licia. Namun gadis itu tak mau berhenti untuk berlari maju ke depan, tak peduli tubuhnya telah terlobangi oleh hujan peluru yang diarahkan.

Begitu ia sampai kepada apa yang menjadi tujuan, Licia menyergap Jessie, mengambil senjata itu dengan paksa dan membuangnya ke sembarang arah. Detik berikutnya, mereka sama-sama ambruk di tanah dengan posisi Licia yang menindih Jessie dari telentang ya.

Selanjutnya, Licia tak memberikan kesempatan meski sedetikpun musuh untuk melawan, ia menggunakan belati miliknya dan menggorok leher Jessie begitu dalam. Jessie mengalami kejang-kejang seketika, dan Licia pun jatuh ambruk di atas dadanya. Dengan panik, aku segera berlari ke arah mereka.

"Licia.." gumamku pelan, membalikkan tubuhnya yang tengkurap dan memastikan ia yang masih membuka mata.

Sementara Jessie, ia telah meregang nyawa dengan mata membelalak dan mulut yang menganga. Mengabaikan Jessie, aku menggendong Licia dengan perlahan ke punggungku. Licia tak lagi berbicara apapun, hanya bernafas dengan hembusan yang semakin berat.

"R-Rashti--" suara Licia yang berbisik.

"Jangan banyak bicara! Aku akan segera membawamu pada Anneth. Dia adalah ahli medis terhebat, kau pasti akan terselamatkan. Aku akan membawamu padanya, kau akan mendapat perawatan. Jadi jangan khawatir, kau akan baik--" aku menghentikan ucapanku.

Tiba-tiba bibirku gemetar, mataku memanas dengan air yang telah menggenang. Hingga tanpa bisa ku tahan, air mataku mengalir begitu saja, deras dengan disertai isakan.

The King Of The Dark WorldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang