49. Closed Eyes

9.9K 557 35
                                    

Rashti POV

Aku menikmati makan siangku bersama dengan Elsa. Entah mengapa, Elsa tidak diikutkan dalam meeting yang Erwin adakan. Mungkin karena Elsa yang masih anggota baru sehingga ia belum menaruh kepercayaan padanya.

Tetapi dengan tidak diikutkannya Elsa dalam meeting tersebut sehingga aku memiliki waktu untuk kembali berbincang dengan satu-satunya sahabat yang telah ku anggap seperti saudara.

Sama seperti kali ini, jam makan siang telah tiba dan aku hanya menikmati makan siang berdua dengan Elsa karena yang lain tentu akan terlambat akibat meeting yang belum berakhir.

"Apa kau sudah berbaikan dengan Nichole?" tanyaku dan Elsa menanggapi dengan helaan nafas lelah.

Setiap kali membahas tentang pria itu, Elsa selalu memasang wajah cemberut seperti enggan terhadap pria yang selama ini menjadi pelatih dan pendamping di setiap misi.

"Terpaksa" jawabnya malas.

Aku terkekeh,
"Tidak baik jika kau terus bertengkar dengannya. Apalagi kalian partner yang selalu bersama setiap ada misi" jawabku menanggapi.

"Lagipula memang Nichole yang menyebalkan. Dia itu terlalu patuh pada Boss sampai-sampai ia tidak akan berpikir dua kali melakukan apa yang Boss katakan. Selain itu, dia seperti anjing yang akan selalu berada di Mansion dan tidak akan keluar tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada Boss. Dan sialnya aku jadi terkena imbasnya" Elsa menjelaskan panjang lebar.

"Terkena imbasnya?" tanyaku penasaran.

"Ya, Nichole tidak akan keluar Mansion tanpa meminta ijin dari Boss. Sementara aku ingin keluar untuk belanja dan lain-lain tapi pada akhirnya dilarang oleh Nichole. Jika Nichole tidak keluar dari Mansion maka aku juga tidak boleh keluar. Kalaupun aku keluar dari Mansion itu hanya karena ada misi. Selain itu, ketika misi selesai, Nichole bahkan tidak menuruti permintaanku untuk mampir ke pusat perbelanjaan meski hanya sebentar" Elsa kembali menjelaskan keluh kesahnya.

"Lalu bagaimana kau mendapat banyak pakaian jika tidak berbelanja?" tanyaku.

"Maid disini menyiapkan pakaian sesuai keinginanku dan mengganti desain serta modelnya setiap Minggu" jelas Elsa.

Hal itu juga terjadi padaku. Pakaian-pakaian yang ada di lemariku selalu berganti setiap Minggu.

Entah para maid yang selalu memperhatikanku sehingga mereka menghilangkan pakaian yang pernah kupakai dan menggantinya dengan model lain yang baru. Meskipun pakaian itu hanya kugunakan dalam satu hari, maid itu akan membuangnya dan mengganti dengan warna serta desain yang lain.

Ya hal positifnya adalah, aku bisa berganti model dan desain baju setiap hari tanpa repot membeli sendiri. Anehnya, maid itu sepertinya paham dengan seleraku karena setiap baju yang tergantung dan tertata dalam lemariku selalu sesuai dengan model yang kuinginkan.

"Rashti, apa kau ada waktu luang setelah ini?" Elsa bertanya.

"Tentu saja. Aku selalu memiliki waktu luang kapanpun itu" balasku.

"Kalau begitu ayo pergi ke rumah kaca itu lagi. Aku ingin bermain-main juga bersama Carlo" kata Elsa dan aku mengangguk bersemangat.

Karena telah ada rencana kegiatan berikutnya, aku dan Elsa segera menghabiskan makanan yang ada di piring kita masing-masing.

Setelah selesai makan siang, kami meninggalkan piring kotor itu begitu saja dan beralih keluar dari ruang makan.

Di luar ruang makan, aku berteriak memanggil-manggil nama Carlo sampai anjing kecil itu datang. Elsa langsung membungkuk menghampiri Carlo dan mengelus-elus kepala anjing itu.

The King Of The Dark WorldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang